Tags

, , , , ,


Semalam, selagi nongkrong di Kelana Street Coffee, Eki, pemilik kedai, melayangkan tanya penasaran,”Apa sih yang membuat kakak tertarik dengan kuburan tua? Apakah kuburan yang dicari termasuk kuburan – kuburan yang ada di Toraja?” Tanyanya membuat saya teringat pertanyaan seorang kawan berjalan beberapa waktu lalu, “Senang dong mudik ke Toraja,Lip.” Karena? “Toraja kan terkenal dengan wisata kuburannya!

salam khas toraja, visit toraja, kondongan toraja, tukang kuburan, tongkonan toraja

Talendu’ opa, mampir yuuuuk

Saat mudik ke Toraja, nggak pernah dapat panggilan – sekali eh dua kali pernah, nggak sengaja – untuk menyusuri jejak sunyi. Meski banyak yang berkesimpulan ketertarikan pada kuburan pasti berawal dari tanah kelahiran, dan kentalnya darah Toraja yang mengalir di dalam tubuh #TukangKuburan. Nggak salah dan nggak seperti itu juga. Semua melalui proses. Kepada beberapa kawan yang sering berbagi cerita, saya suka mengatakan, salah satu tujuan berjalan – jalan ke tempat yang banyak dihindari orang itu untuk self theraphy, bersahabat dengan diri dengan meredakan takut berlebihan yang menghantui sedari kecil. Alasan lain, silakan baca di SINI.

Jadi, kalau mudik jalan – jalannya kemana, Lip? Mau tahu, atau mau tahu aja?  😉

Saya ini pejalan anti mainstream, – ‘ngakunya sih begitu – ketika yang lain ingin mengunjungi destinasi wisata yang sedang marak dibincangkan sehingga ramai dikunjungi; saya memilih menepi ke tempat – tempat yang mulai sepi dan dilupakan. Agar tetap bisa berjalan – jalan meski keterbatasan waktu sering menjadi penghalang; maka alasan jalan sehat dan keluar rumah pagi – pagi pun menjadi pilihan. Berjalan ke destinasi menyenangkan yang tak jauh dari rumah.

Ke mana saja? Nih dia 5 (lima) tempat trekking menyenangkan ala #TukangKuburan kala mudik ke Toraja:

Bukit Singki’
Di Rantepao, ibukota Toraja Utara  – bila ke Toraja, carilah penginapan di kota ini karena letaknya sangat strategis dan lebih dekat ke destinasi – destinasi wisata Toraja, promo tak berbayar 😂- ada satu bukit yang di pucuknya berdiri salib raksasa, simbol kepercayaan yang dianut oleh sebagian besar orang Toraja. Ada yang senang bergurau, bila belum sempat berkunjung ke Bukit Golgota, naiklah ke Singki’. Yang membedakannya di Singki’ hanya ada satu salib, dan sepanjang meniti anak tangga ke atas kamu akan melewati rumah – rumah mini di kiri kanan jalan yang disebut patane (= kuburan berbentuk rumah). Di lerengnya ada pula gua – gua yang dijadikan sebagai liang kuburan. Kalau kamu haus karena lelah meniti 200an anak tangga, janganlah mampir mengetok pintu rumah itu. Penghuninya tak akan keluar.

salam khas toraja, visit toraja, kondongan toraja, tukang kuburan, tongkonan toraja, salib singki

Pemandangan dari puncak Singki’

Lebih baik bawa bekal minummu sendiri, – saya biasanya membawa secangkir kopi panas dari rumah – kudapan, dan buku untuk dinikmati selama menghilangkan penat sesampai di puncak; di atas tak ada kedai kopi. Dari puncak Singki’ kamu dapat menikmati keindahan Rantepao yang mulai sesak dengan bangunan – bangunan yang menjamur, sungai Sa’dan yang lelah mengalir, dan sawah – sawah yang mencoba bertahan meski kiri kanannya terus digerus pembangunan.

Biasanya, saya akan melangkah dari rumah pk 07.00, berjalan pelan – pelan saja, mengulur – ulur waktu demi menikmati perjalanan.

Limbong
Limbong bukan nama orang, tapi kolam alam yang telah ada sejak lama. Ketenangan air dan senyapnya menjadikannya tempat yang menyenangkan untuk menepi, bermeditasi, menajamkan pendengaran pada ceracau burung – burung hutan, dan desah rindu dedaunan pada belaian sayang bayu.

salam khas toraja, visit toraja, kondongan toraja, tukang kuburan, tongkonan toraja, kolam alam limbong

Limbong, tempat menepi yang menyenangkan

Meski berada di belakang Singki’, tak ada kendaraan umum yang melewatinya. Jadi, bila kakimu tak cukup kuat melangkah banyak – banyak, naik turun bukit; sebaiknya minta tolong kawan untuk mengantarkan atau sewa ojek motor saja untuk menggapainya. Ada ongkos berkunjung yang harus kamu bayar sebesar Rp 10.000/pengunjung. Agak mahal sih, karena saya tak bisa menyusuri kolam dengan menaiki bebek – bebek yang hanya diam bersandar di pinggir kolam. Kata bapak yang jaga loket, tarif sebanyak itu diberlakukan sama di semua destinasi wisata Toraja per Maret 2017 (perkara tarif kita bahas di lain kesempatan, ya).

Menyusuri Tepian Sungai Sa’dan
Sungai yang mengalir membawa harapan, ada kehidupan di sana. Tepian sawah lapang, anak – anak yang bergegas di pematang mengejar lonceng tak berdentang sebelum kaki mereka menggapai gerbang sekolah, senda gurau kerbau – kerbau yang merumput, rengekan babi – babi yang kelaparan, ibu – ibu yang berjalan tunduk membawa hasil kebun yang tak seberapa di dalam baka (= wadah dari anyaman bambu) yang menggantung di balik punggung, serta muka lelah para lelaki yang  duduk – duduk saja menanti mata kailnya menarik ikan; adalah pemandangan keseharian di sepanjang tepian Sungai Sa’dan saat pagi menyapa Ba’lele. Maaf, itu bukan karibnya ba’pau ya. Tapi nama kampung yang tepiannya bisa kamu gapai dengan berjalan kaki sejauh 10 menit saja dari Rantepao.

keindahan toraja, sawah toraja, kerbau toraja, wisata toraja

Asik kan bisa melihat yang hijau segar begini

Tak perlu jauh – jauh masuk perkampungan untuk menikmatinya. Berjalanlah sedikit saja ke jalan kampung yang menjalar di bibir Sungai Sa’dan, di bawah kaki Singki’. Di sana tempat yang menyenangkan untuk mengiring embun yang perlahan beranjak meninggalkan pagi.

Bukit Tambolang
Walau tak jauh dari rumah, saya bisa menghitung berapa kali melintasi kaki Tambolang. Jangan tanya kapan terakhir berkunjung! Itu terjadi kurang lebih tiga puluh tahun lalu saat kami beramai – ramai mengantarkan nenek buyut ke tempat peristirahatan terakhirnya. Jasadnya yang dibalun (= dibalut) di dalam buntelan kasur dan selimut lalu dibungkus kain merah, dihiasi manik – manik dan benang warna – warni, dikerek ke atas sebuah liang di dinding salah satu bukit di sekitar Tambolang. Saya pun tak ingat lagi letak dinding batu itu, karena yang terekam dalam memori masa kecil hanyalah kala kami memandang dari jauh, dari balik rimbun batang – batang bambu.

visit toraja, kondongan toraja, tukang kuburan, tongkonan toraja, tambolang, kuburan gantung toraja

Meluruskan kaki di puncak Tambolang

Tambolang bukan sekadar destinasi wisata alam, di dindingnya terdapat pula kuburan gantung serta peti mati kuno yang akan kamu lintasi saat beranjak ke puncak bukit. Serupa dengan Singki’, untuk menggapai puncak Tambolang, kamu cukup siapkan kaki meniti sekitar 400 anak tangga. Saya mencoba memastikan jumlahnya tapi di langkah kelima puluh konsentrasi buyar.

Penatmu mendaki akan sirna sesampai di puncaknya. Tak banyak yang mengakrabi tempat yang hanya sepelemparan handuk dari pusat kota Rantepao ini, menjadikannya tempat yang menyenangkan untuk bergambar. O,ya .. siapkan uang Rp 10.000 di kantong untuk membayar tiket masuk. Kalau kamu datang sebelum petugas loket terlihat duduk manis di bangkunya, datangi saja rumah yang ada di seberangnya, dan katakan kalau kamu hendak berkunjung. Tiket masuk bisa kamu bayar di rumah itu.

Kondongan
Kondongan adalah nama kampung di Toraja Utara yang tentu saja tak akrab di kuping pejalan karena namanya jarang disebut. Pemandangan di kampung ini menyenangkan dan menyegarkan mata, apalagi kalau kamu berkunjung petang hari saat matahari pelan – pelan beranjak ke peraduan.  Tapi ketika hujan lagi girang – girangnya menyapa Toraja di jelang senja, sebaiknya berjalanlah di pagi hari.

Pada salah satu ruas jalannya berdiri photobooth kreasi anak muda Kondongan dengan latar belakang tongkonan (= rumah adat Toraja) menjadikannya sasaran bergambar untuk diunggah di media sosial. Biar kekinian, saya pun mampir ke sana.

visit toraja, kondongan toraja, tukang kuburan, tongkonan toraja, tambolang, kondongan ba'lele

Tongkonan instagramable 😉

Saat bertandang kemarin, saya melihat di salah satu pekarangan rumah warga, tak jauh dari lokasi bergambar di atas; kamu pun bisa mampir di saung – saung – sabar ya, masih sedang dalam tahap penyelesaian – tuk selonjoran sembari menyesap kopi dan kawan – kawannya dari pinggir pematang.

Kelima tempat di atas bisa kamu kunjungi sekali berjalan pagi. Mulailah dengan memanjat Singki, menepi di Limbong, lalu susuri tepian Sungai Sa’dan ke Bukit Tambolang, dan tuntaskan hasratmu di Kondongan. Bila tak senang berjalan kaki, kayuhlah sepeda atau sewalah motor. Tak bisa mengendarai motor? Tenang, ada becak motor dan ojek motor yang siap mengantarkanmu berkeliling. Sepulang berjalan – jalan, mampir ‘ngopi di Jak Koffie atau Kelana Coffee Street pasti menyenangkan. Kalau mendadak lapar, pulihkan energimu dengan menikmati brunch kuliner lokal di Pong Buri.

Jadi, jika berkesempatan mengunjungi  Toraja, apakah kamu sudah tahu bagian Toraja mana yang hendak kamu akrabi? Saleum [oli3ve].

Advertisements