Tags

, ,


Mentari menurunkan sengatnya saat langkahku menggapai pelataran Benteng Tamalate, tempat yang banyak menyimpan kenangan akan perjalanan masa meski terkadang banyak yang abai pada jejaknya. Aku membayangkan benteng yang dulu berdiri kokoh di bukit ini pastinya memiliki pemandangan yang luas, dengan pagar yang tinggi dan tebal melingkupi puncak bukit membuatnya terlindungi. Kumainkan segala imaji, membayangkan masa itu sambil terus melangkah masuk ke pekarangannya dan mendapati dirinya duduk bersendiri, memandangi merah putih yang menari – nari mengikuti buaian angin senja. 

sultan hasanuddin, makam sultan hasanuddin, makam raja gowa, ayam jantan dari timur

Angin memberikan kesejukan pada udara senja, membuatnya tak terlalu panas, tak juga dingin; hingga ia betah menengadah ke langit tanpa sedikit pun bergeser dari duduknya.

Aga kareba, Karaeng? Baji’ – baji’ki?”

Lelaki yang matang diasah kerasnya pergolakan di bumi Galesong itu, hanya mengalihkan wajahnya sedikit saja sebelum kembali menengadah ke puncak tiang bendera. Entah apa yang bergulir di dalam pikirannya. Mungkin dirinya sedang mengingat – ingat masa pergolakan yang pernah dilaluinya, mungkin pula merenungi hari ini dan perkembangan yang terjadi setelah dirinya lama berlalu; tak bisa kubaca pikirannya.

Tabe Karaeng.” Aku pamit dari hadapannya, memberi dirinya ruang untuk bersendiri. Namun baru selangkah kuayun tungkai kaki hendak beringsut ke tepi benteng, desahnya yang dihembuskan angin menahanku tak menjauh. Lelaki yang tergeming di bawah tiang bendera itu, badannya kini merintangi langkahku.

Kuanggukkan kepala, menaruh hormat pada kehadirannya. Energinya menghangatkan senja, terasa sangat kuat menarik rasa yang membuatku undur dua langkah. “Karaeng Bontomangape … ,” kurasakan suara yang keluar dari bibirku tak terlalu keras tapi tubuhku ikut bergetar.

“Sama siapa ko datang?”
Sendiri, Karaeng.”
Beraninya kau.”
Saya,  Karaeng?”
Keingintahuanmu yang berlebih haruslah kau jaga agar tak menghamilkan hasrat yang tak bisa kau bendung.”
Iye, Karaeng

Senyum enggan hadir di wajahnya. Rahangnya mengeras, sorot matanya tajam, menatap jauh ke kaki bukit. Aku dibuatnya kikuk. Hendak bergeser, khawatir dirinya tersinggung. Mau pamit lagi, nanti disangka tak menghargai. Jadi aku diam saja menahan gelisah, bersabar menunggu tanggapannya.

“Hasrat pada kekuasaan, ketamakan, keserakahan, dan kepongahan; dapat membuat seseorang abai pada kata nurani. Segala cara akan dilakukan demi mendapatkan semua kepuasan akan pencapaian diri tanpa peduli pada apa yang dirasakan orang lain. Itulah yang terjadi pada bangsa- bangsa asing yang berbondong datang ke Nusantara. Mereka terpikat pada rempah – rempahnya, sehingga berlomba untuk menguasai jalur perdagangan di Nusantara.”

Ia kembali terdiam. Aku lebih lagi, menunggu kelanjutan kisah yang hendak dituturkannya.

Sedari aku masih balita; sudah kudengar Belanda, Inggris, Portugis, dan Spanyol bersaing untuk menjadi penguasa rempah di Maluku. Hingga pada satu masa, Belanda membabi buta memusnahkan pohon cengkeh dan pala di Maluku demi menguasai tanahnya. Gowa yang bersekutu dengan Ternate, membangun kekuatan untuk membantu  Maluku.

Aku menjadi kikuk ketika mata tajam lelaki itu bersirobok dengan pandangku. Tetap tanpa senyum. Ia mengingatkanku pada lelaki Aceh yang bibirnya susah sekali ditarik untuk mengulas senyum. Apakah orang – orang dari masanya tak suka tersenyum? Tak mengapa, tapi .. aku masih berharap melihat bibirnya melengkung sedikit saja untuk menenangkan getar yang menggerayangi tubuhku.

sultan hasanuddin, makam sultan hasanuddin, makam raja gowa, ayam jantan dari timur

“Aku tak pernah membayangkan jika satu hari harus berperang melawan saudaraku sendiri. Arung bagiku bukanlah orang lain.”

Emosinya bergejolak, terlihat dari gerak dadanya yang turun naik. Untuk kedua kalinya lelaki itu kembali menarik napas dalam – dalam. “Arung itu saribattangku .. , saribattangku.”

Kami beranjak remaja bersama, bermain, dan belajar mengaji tak pernah berpisah. Aku tak paham, apa yang telah merasuk pikirannya sehingga termakan hasutan Belanda untuk bangkit memimpin pasukan Bone melawan Gowa. Melawan saudaranya sendiri. Belanda itu licik! Taktik pecah belah dipakai untuk menghasut Bone, Buton, Seram, dan Ternate agar bersekutu menyerang Gowa.

Tangan kanannya bergerak membenarkan letak ujung passapu di kepalanya yang tertiup angin. Lengan bella’, kemeja merah terang yang dijahit dengan benang emas dan membalut badannya senja itu turut berkibar – kibar. Emosinya disalurkan lewat cengkeraman tangan kirinya yang mengeras pada kepala badik yang disisipkan pada sarung lipa’ garusu’ -nya. Kakinya melangkah pelan – pelan, ekor matanya mengerling mengajakku mengikuti langkahnya. Aku pun mindik – mindik mengiringnya dari belakang.

Galesong diperkuat taruna – taruna yang bersetia dengan  jiwa pejuang sejati yang siap mati demi membela dan mempertahankan negeri. Sebagian datang dari daerah lain, dari kerajaan – kerajaan sekutu Gowa untuk belajar ilmu bahari dan memperkuat armada laut Kerajaan Gowa. Mereka bersehati tuk maju bersama ke medan perang melawan kompeni.

“Pernah kau dengar istilah siri’ na pacce’?” Aku mengangguk, meski tak terlalu dalam memahami falsalah masyarakat Makassar itu.

“Siri’* adalah harga diri dan kehormatan yang kita miliki, yang haruslah dijaga baik  – baik dalam keseharian. Sedang pacce’** hmm … kalau aku tak salah memahaminya adalah ikatan  emosi yang saling berkelindan, membentuk toleransi rasa terhadap sesama, Karaeng.”

sultan hasanuddin, makam sultan hasanuddin, makam raja gowa, ayam jantan dari timur

Dia memandangku lekat – lekat, energinya terasa hendak menelan bulat – bulat seluruh tubuhku yang kembali bergetar.

Siri’ itu harga diri. Rasa yang membentengi dirimu dari bertindak di luar akal sehatmu sehingga tak membuat malu diri, keluarga, dan masyarakat tempatmu berada. Karenanya berhati – hatilah menjaga lakumu agar kau tak kehilangan siri’mu.  Sedang pacce’, dorongan dari dalam dirimu yang menggerakkan jiwamu merasakan apa yang dirasakan oleh sekelilingmu. Toleransi katamu. Ya. Belas kasih, tenggang rasa. Seperti itulah hidup yang seharusnya kita jalani. Menghormati satu sama lain, dan membela mereka yang terpinggirkan. Ketika ada bagian tubuhmu  disakiti, maka bagian tubuh lainnya pasti akan ikut merasakan sakitnya. Siri’ na pacce’ hendaklah selalu menyertai langkahmu. Jaga itu di dalam hatimu, di sepanjang napasmu.

Kusesap dalam – dalam setiap kata yang mengalir dari mulutnya. Kutimbang – timbang perjalanan yang telah dilalui dan jalan di depan yang masih akan ditempuh.

Siri’ na pacce’, semangat itu yang menyatukan para pejuang Gowa. Ah, jangan mi terlalu banyak kau pikir. Lakukan saja apa yang membuat hatimu damai. Selama tak kau ikuti ego dan emosimu, yakinlah jalanmu akan baik – baik saja meski kau temui kerikil – kerikil dan batu yang melintang di tengah jalan. Itu bukan penghalang untuk terus melangkah.

Aku hanya mengangguk – angguk mendengar petuahnya, menggaruk kepala yang mendadak gatal mencoba menebak – nebak pikiran lelaki yang sepertinya sedang berusaha membaca jalan pikiranku. Aku tersentak melihat dirinya mendadak berdiri. Sebelum dia bergegas kembali ke peristirahatannya, kucoba mengejar dirinya dengan tanya yang berusaha kutahan – tahan agar tak melompat dari ujung lidahku.

“Tabe’ Karaeng, sepahit dan sesakit apa pacce’ yang harus kunikmati untuk menjadi bijak melangkah?”

Ada seulas senyum di bibir lelaki yang sedari tadi lurus – lurus saja itu. Tak tampak sedikit pun gurat amarah pada wajahnya. “Tak perlu kujelaskan padamu, engkau telah memahaminya dengan baik kapan pacce’mu  menggelitik jiwamu.”

Lelaki itu, I Mallombasi, Karaeng Bontomangape, melangkah kembali ke peraduannya meninggalkan diriku yang masih berhitung, pada masa kapan pacce’ yang dia maksud? saleum [oli3ve].

secara harafiah:
*siri’ (bhs Makassar, Toraja) = rasa malu
**pacce’ (bhs Makassar) = perih, sakit di hati

Advertisements