Tags

, , ,


Hari ini, hari ke-17 saya di Kota Daeng. Kota yang biasanya hanya menjadi kota transit bila mudik, kali ini disinggahi lebih lama. Bukan karena betah, tapi harus be[r]tahan di sini untuk sementara waktu. Jangan tanya saya sudah berkeliling ke mana saja? Tanyakanlah kuliner apa saja yang sudah saya cicipi tanpa banyak berpindah tempat 😉 Sebut saja jalangkotek, ikang bakar, coto Makassar, sop saudara, pallubasa, es pisang ijo dang kawang – kawangnya dari tempat makan terpercaya, sudah mi kucoba semua! #eeeh

rumah sakit stella maris, pelayanan rumah sakit, stella maris makassar, rawat inap

Sebuah kabar mengejutkan hadir di pagi pertama tahun ini, telepon dari orang – orang dekat yang meminta saya segera terbang ke Makassar. Pagi itu, saya hanya mengintip harga tiket sekali terbang dan menimbang – nimbang jam terbang mana yang nantinya akan saya pilih. Karena pagi itu, saya masih bergegas ikut ibadah syukur di awal tahun dengan banyak mengusap mata yang sebentar – sebentar basah dan kusuk menikmati sakramen perjamuan kudus. Jadi, memasuki 2017 saya harus melakukan perjalanan tanpa rencana dan membatalkan beberapa perjalanan/pertemuan terencana.

Pulanglah sekarang, Nak. Siap – siap ya, ini berat, sangat berat. Kuatkan hati kamu, urus adikmu dulu. Apapun yang terjadi, kita usahakan yang terbaik.”

Suara itu terus saja terngiang sepanjang perjalanan malam Jakarta – Makassar. Suara parau, perlahan, berat, penuh khawatir. Suara seorang dokter, om saya, yang jelas tahu bagaimana kondisi seseorang yang terluka parah, di ujung tanduk, saat kami berbincang lewat telepon.

Pk 02.30 saat semua orang sedang lelap, saya turun dari taksi yang membawa saya dari bandara Hasanuddin di pelataran parkir Rumah Sakit Stella Maris, Makassar. Seperti layaknya setiap pejalan ketika menjejak di destinasi tujuan adalah berjalan, saya pun berjalan tapi ke destinasi yang tak biasa. Bukan, ini bukan destinasi yang acap saya kunjungi tapi destinasi yang baru kali ini juga saya datangi di kota ini; ruang tunggu ICU/ICCU. Saya mendekati petugas keamanan yang berjaga di depan pintu masuk IGD. Ronald namanya, dari logat dan bentuk raut wajahnya saya langsung menebak dirinya dari timur Indonesia. Dia yang membukakan pintu, menunjukkan lorong panjang, remang, dan senyap yang harus saya lewati untuk sampai di tujuan.

Dari sini lurussss, gang kedua belok kanan nanti akan kelihatan orang – orang tidur di lantai; itu ruang tunggu ICU.”

Baru saja dirinya selesai berbicara, ada tangis yang pecah, ‘ngilu hinggap di kuping, terdengar dari celah – celah jendela sebuah ruang tak jauh dari tempat kami berbincang. Saya membuang jauh-jauh segala rasa tak nyaman dan berusaha menghapal petunjuk dari Ronald sembari mulai mengayun langkah perlahan – lahan, menggeret koper. Di jelang ujung lorong itu saya tergesa berbalik menarik koper hingga rodanya meringis mencium lantai, kembali ke depan Ronald. Saya bersyukur baru mengetahui dua hari kemudian kala berlalu di depan IGD mencari ATM, suara tangis yang terdengar malam itu berasal dari rumah duka yang letaknya tak jauh dari kamar jenazah. Puji Tuhan, meski terbiasa menyusuri jejak sunyi, ternyata saya tak mati rasa karena masih memiliki rasa takut hehe.

Mas, boleh nggak minta tolong anterin ke dalam? Saya tidak menemukan gang kedua, bahkan sama sekali tak melihat ada persimpangan di lorong ini, nggg .. gelap

Malam itu Ronald berjaga sendirian, sedikit ragu dia bangkit dari duduknya, dan menemani saya melangkah di lorong yang terasa sangaaaaat panjang. Ketika sampai di tengah – tengah lorong, dari depan saya melihat ada bayangan yang muncul dari gelapnya dinding ruang yang menutupi lorong itu, melangkah gontai ke arah kami. Semakin dekat, saya pun mengenali lelaki yang wajahnya sangat lusuh itu, abang saya. Ronald pamit meninggalkan kami yang memilih duduk – duduk di bangku kayu panjang, menghadap ke taman rumah sakit yang remang – remang. Saya menebak – nebak, dirinya pasti belum makan jadi saya sodorkan saja bungkusan roti yang tadi dibagikan di pesawat.

rumah sakit stella maris, pelayanan rumah sakit, stella maris makassar, rawat inap

Keseharian di ruang tunggu ICU/ICCU

Sudah cukup lama kami tak berbincang berlama – lama, dan hari itu kami memulai percakapan sedikit panjang sembari makan roti seperti makan sahur. Kepala saya yang mulai berat karena belum tidur, mencoba menyerap informasi yang disampaikan dengan suara perlahan – lahan, kadang tak terdengar. Tentang kejadian yang masih samar – samar, perjalanan panjang yang menegangkan dan melelahkan selama 8 jam dari Toraja, ambulan yang tak lelah berlari cepat – cepat berkejaran dengan waktu, adik kami yang tak sadar dan terus saja meronta kesakitan, ketakutannya melihat darah, proses yang sudah dijalani, hasil CTScan, rencana operasi, langkah yang harus diambil, dan lain – lain yang membuat kepala semakin pening. Saat suara kokok ayam terdengar, kami menyudahi perbincangan dan memutuskan untuk beristirahat meski mata hanya merem melek berbaring di dinginnya lantai ruang tunggu.

Ruang ICU/ICCU berada di gedung lama Rooms Katoliek Ziekenhuis (RZK) Stella Maris, rumah sakit yang didirikan oleh kongregrasi suster Jesus Maria Joseph (JMJ) atas inisiatif apostolik Makassar masa itu, Mgr Martens untuk memberikan layanan kesehatan bagi masyarakat tak mampu. Setelah mendapat persetujuan dari petinggi Makassar, sebuah bangunan untuk RZK pun dirancang oleh Fermont Cuypers dan mulai dibangun pada 8 Desember 1938.

Ada empat pintu akses masuk ke ruang itu, satu pintu yang dibuka lebar – lebar dua kali sehari saat jam bezoek, sisanya pintu lalu lalang petugas rumah sakit. Satu pintu yang lebih banyak ditutup, sering pula menjadi jalan mengendap – endap sembari menyodorkan muka memelas pada perawat yang duduk dan berjaga di meja kerjanya bila tak sabar menanti jam bezoek.

rumah sakit stella maris, pelayanan rumah sakit, stella maris makassar, rawat inap

Seminggu pertama di Makassar, ruang gerak saya hanya sebatas lorong – lorong antara ruang tunggu, ruang ICU/ICCU, kamar operasi, lobi, toilet dan kantin. Tak jauh, hanya beberapa langkah pendek – pendek saja. Misal, bila pagi datang dan petugas kebersihan mulai berteriak – teriak untuk merapikan peralatan tidur; abang saya lebih senang berjalan keluar rumah sakit mencari kopi dan membakar sebatang dua batang rokok. Nanti bila dia kembali, giliran saya yang memilih untuk masuk ke kantin yang hanya lima langkah dari ruang tunggu, memesan kopi dan sarapan nasi kuning. Bila malas, saya minta ijin ke petugas kantin untuk membawa gelas kopi dan nasinya ke ruang tunggu.

Seminggu kedua, bolehlah sedikit lega karena tidurnya berpindah ke ruang perawatan dengan pemandangan yang lebih manusiawi walau tetap gelar tikar di lantai. Jarak langkah pun bertambah meski masih di lingkungan rumah sakit. Setidaknya, bisa turun naik lift, berpindah dari gedung lama ke gedung baru, bisa menikmati pantai, matahari terbit dan terbenam meski hanya dari kisi – kisi jendela kamar. Pun terasa mewah karena ada sofa untuk duduk – duduk di lobi lantai 6, tempat sesekali menyesap kopi/teh sembari membuka selembar dua lembar bacaan.

Aaah, saya jadi teringat pada gadis remaja yang meregang nyawa petang itu, di ranjang yang bersebelahan dengan ranjang adik saya yang saat itu juga sedang dalam kondisi kritis. Kali pertama seumur hidup melihat langsung bagaimana seseorang menghadapi saat – saat terakhir dalam hidupnya. Ketika TUHAN berkehendak atas hidup mati seseorang; tabung oksigen tak akan ada artinya lagi dan segala jerih bantuan pernapasan pun tak akan bisa menolong.

Carilah TUHAN selama Ia berkenan untuk ditemui; berserulah kepadaNya selama Ia dekat! – [Yes 55:6]

Saya pun teringat pada malam terakhir kami tidur di ruang tunggu itu. Malam dimana semua yang berjaga di luar tak bisa lelap karena sebentar – sebentar terbangun oleh suara perawat memanggil keluarga pasien disusul tangis yang pecah mengiring kepergian seseorang hingga jelang pagi. Bahkan ada keluarga pasien yang heboh tengah malam, nangisnya sembari gebuk – gebuk pintu kamar yang membuat keluarga pasien lain was – was. Malam saat tiga nyawa melayang dalam rentang sejam, malam yang membuat kami berlarian dan berdesakan mencari pintu yang terbuka, mencoba menyelinap ke dalam ruang yang selalu tertutup rapat itu.

rumah sakit stella maris, pelayanan rumah sakit, stella maris makassar, rawat inap

Dua minggu bergaul dengan lorong rumah sakit

Malam ini, malam ketiga punggung saya kembali menikmati empuknya kasur dan bisa tidur sedikit lelap meski tetap saja terbangun pada jam – jam tertentu seperti saat masih piket di rumah sakit. Bersyukur bisa melewati malam – malam berat dan kurang tidur selama dua minggu kemarin. Bersyukur dikelilingi orang – orang yang peduli, yang memberi semangat untuk menjalani hari – hari kemarin serta hari esok yang tentu saja memiliki senang dan susahnya sendiri.

Selamat menapak di tahun 2017! Semoga kita selalu dikaruniai hati yang berlimpah syukur agar kita tahu mengucap syukur dalam menjalani kehidupan ini. Dan semoga kita tak mencari – cari alasan untuk mendekat pada pemberi hidup hanya saat kepayahan, lalu menyalahkan TUHAN yang menjauh karena kita tak tahu saat kapan dan bilamana diriNYA hadir dalam hidup kita, saleum [oli3ve].

Advertisements