Tags

, , , ,


Namaku Izzah dari Sekolah Alam Indonesia, mau berbagi cerita saat aku dan teman – teman sekelasku ke Ujung Kulon. Perjalanan yang berkesan. Tentu saja setiap perjalanan akan ada bagian paling berkesan. Ini sebagian cerita dari perjalanan sewaktu kami hendak ke Pulau Peucang, tempat kami menginap. Tak sabar untuk sampai ke tempat tujuan.

Kami treking sampai pelabuhan. Di pelabuhan ombak kecil mencoba menjilat kakiku. Sampan bergoyang. Semua penumpang, perempuan dan laki – laki mulai menaiki sampan. Setelah itu baru berangkat menuju kapal besar. Ada dua kapal di sana, satu kapal yang besar dan satu lagi ukurannya lebih kecil. Aku kebagian kapal yang kecil. Tadi sebelum berangkat aku lupa, tidak memandang langit yang telah menyiapkan sesuatu untuk kami.

squid jigging festival, terengganu, perairan kapas, kuala terengganu, mencandak sotong, rumil, rumah ilmu

Kapal yang kunaiki bergoyang – goyang, makin lama goyangannya semakin kencang hingga timbullah satu hal yang paling kubenci, mabok laut. Kepalaku sudah mulai terasa pusing. Pusing sekali, rasanya seperti sudah berada di tempat lain. Permintaan plastik terdengar, makin lama makin ramai. Suara eneg dan bau menyengat tercium, membuat cairan dalam perut memaksa untuk keluar. Aku berusaha menahan, ada perang batin di dalam diriku.

Nahkoda belum juga menjalankan kapal. Ombak makin ganas. Badai membuat kami anak SD5 serta guru … muntah massal. Aku pasrah, kantong plastik kupegang lebih erat. Cairan yang ditahan – tahan itu keluar juga.

Selama perjalanan kami angkatan 4 (empat) merasa tersiksa akan ini. Tapi justru kejadian paling dibenci inilah yang melekat di ingatan. Kalau ada yang bertanya kepada kami, apa yang kalian ingat dari Ujung Kulon? Mungkin setiap anak akan menjawab saat di kapal, pengalaman muntah massal!

Hikmah buatku, semua kejadian di perjalanan ini menurutku akan membuat kami selalu tersenyum mengenangnya saat sudah besar dan bertemu kembali.

Ditulis oleh: Izzah
Disunting seperlunya oleh: Olive Bendon

Tulisan di atas merupakan guest post pertama di blog ini, ditulis salah seorang peserta belajar blog pada Oktober lalu di Rumah Ilmu. Sesuai janji, tulisan yang bagus boleh hadir di rumah ini.

Pernah mengalami muntah massal? Saya pernah, setahun lalu di perairan Redang, Terengganu, Malaysia di tengah pesta candat sotong, Terengganu International Squid Jigging Festival (TISJF) 2015. Rasanya nggak enak banget, apalagi ketika isi perut sudah habis dan yang keluar hanyalah cairan – cairan yang menyisakan rasa pahit asam di lidah. Belum lagi ditambah kepala pening dan rasanya berputar – putar, ingin cepat – cepat turun ke darat tapi tak bisa meninggalkan perahu karena berada di tengah – tengah samudera. Yang bisa dilakukan hanya berusaha tidur sambil geletakan di geladak, tak peduli lagi lantainya basah, kotor, keras tak beralas; yang penting berbaring saja.

Tulisan Izzah di atas menarik karena dituliskan dari sudut pandang yang jarang – jarang diangkat ke permukaan. Bukankah bila melakukan perjalanan kita lebih senang mendrama dengan berbagi kisah yang indah – indah saja sehingga bawaannya pun baper? Nilai plus buat Izzah, dia telah membiasakan diri belajar dan berlatih menulis membuat pilihan kata, tata bahasa, pemakaian kata sambung, serta tanda bacanya tertata meski masih ada satu dua yang lolos dari pengamatan. Senang mendapati bakat – bakat menulis pada diri anak – anak.

Bagaimana dengan kamu yang belum bisa membedakan “di” sebagai kata depan/tunjuk dan awalan? #nomention lhoooo πŸ™‚ . Teruslah berlatih, karena belajar itu setiap hari dan sepanjang hidup, saleum [oli3ve].