Tags

, , , , ,


Sadar atau tidak, kita, orang dewasa; suka sekali meremehkan anak kecil. Padahal kalau mau jujur, kitalah yang sering berlaku kekanak – kanakan. Untuk itu, kita perlu belajar banyak dari cara berpikir kanak – kanak dengan ide – ide berani, kreatifitas liar dan sikap optimis yang mereka miliki. Hal ini disampaikan oleh seorang anak kecil bernama Adora Svitak yang kala itu berusia 12 tahun saat memberikan paparan What Adults Can Learn from Kids pada TED Conference, Februari 2010 lalu di depan orang – orang dewasa.

Adora tak main – main, dia bahkan memberi contoh dampak dari tindakan dan pengambilan sikap orang dewasa pada dunia dengan apa yang dilakukan oleh anak – anak seperti pengalaman inspiratif Anne Frank di kamp konsentrasi NAZI, juga keberanian Ruby Bridges melangkah ke sekolah kulit putih semasa kanak – kanak meski mendapat tekanan dari sana – sini demi mendapatkan persamaan hak dalam pendidikan tanpa membandingkan warna kulit dan kegiatan sederhana Charlie Simpson mengumpulkan dana untuk korban gempa Haiti dengan bersepeda  di taman – taman dekat rumah (tentang siapa anak – anak ini, kapan – kapan saya ceritakan atau silakan tanya mbah Google bila tak sabar menanti ceritanya).

Ketika diminta untuk mengisi kegiatan berbagi di Rumah Ilmu (Rumil) pertengahan Oktober lalu, nama Adoralah yang langsung terlintas di kepala. Dia, salah satu blogger cilik (sekarang sudah gede tentu saja) inspiratif yang isi blognya menyenangkan. Dia anak ajaib yang mendapat julukan The Genius Kid on Earth pada 2010 karena kecerdasan dan pola pikirnya yang melampaui anak seusianya bahkan orang dewasa yang umurnya terpaut jauuuuuh dari usianya. Adora menjadi sumber inspirasi Nicklodeon Jr dalam menciptakan tokoh kartun Dora The Explorer yang mendunia.

rumil, rumah ilmu, sharing tentang blog, belajar ngeblog, mengenalkan blog pada anak - anak

Siapa yang kenal Dora?

Saya sudah berbagi sedikit cerita keriaan sewaktu memberi tugas menulis pada anak – anak Rumil, ada yang berani menolak karena lebih suka menggambar yang bisa dibaca di SINI. Lucunya nih, salah seorang anak yang ingin menggambar itu kemudian bingung hendak menggambar apa. Namanya belajar dan bermain, saya gangguin saja anaknya. Namanya Nina, saya biasa memanggilnya Ninoy, teman bercerita yang menyenangkan dan ‘ngangenin.

Bingung mau gambar apa, nggak usah ya tante. Habisnya ‘ndak tauuuu,” ini kebiasaan dirinya bila mulai merajuk, memonyongkan bibirnya yang lucuuu demi mencari alasan agar tak mengerjakan apa yang harusnya dia kerjakan.
Hmm … tadi yang minta gambar siapa ya?”
Ninoy.”
Gimana kalau Ninoy gambar cerita kemarin jalan – jalan ke Kidzania? atau waktu jalan ke Schmutzer minggu lalu?”
“Nggak aah ..”

Karena setahun ini kami cukup sering bersua, saya jadi hapal kebiasannya. Dan karena iman saya gampang goyah dengan rajukan anak – anak, sebelum benar – benar runtuh, saya tinggalkan dirinya yang menikmati bersandar di pilar dengan pesan,”waktunya dua puluh menit lho Noy, gambar ya,” lalu diam – diam mengamatinya dari jauh.

rumil, rumah ilmu, sharing tentang blog, belajar ngeblog, mengenalkan blog pada anak - anak

Nina, diam – diam akhirnya menggambar juga   😉

Hal berbeda ditunjukkan oleh Rafa. Dia sangat bersemangat menjelaskan apa yang sedang digambarnya, berulang pula ia menyebut maynekeref yang terdengar asing di kuping. Biar nggak digangguin terus, saya main jawab,”iya .. iya, bagus” saja tapi lantas berpikir, ini anak sebenarnya mau gambar apa ya? Kebiasaan orang dewasa yang ingin selalu terlihat pintar di depan anak – anak, sok tahu kan? hahaha.

Obrolan singkat dan kejadian – kejadian menggelikan selama berada di dekat mereka serasa diputar kembali di depan mata saat menikmati Es Sanger Ulee Kareng yang sejuk sembari membolak – balik kertas tugas mereka di Fakultas Kopi beberapa hari yang lalu. Saya ingat telah berjanji akan membagikan 3 (tiga) tulisan terbaik yang mereka kerjakan di pendopo pada Minggu itu. Tapi ternyata butuh waktu khusus dengan menghabiskan 2 (dua) gelas es sanger ditambah semangkuk Gule Bebek dari Aceh yang sedap di lidah (dan seporsi nasi) di sebuah ruang khusus yang tertutup dan berpendingin untuk memeriksa tugas – tugas itu.

Sangat serius?

Hahaha .. awalnya, saya pun berpikir begitu. Tapi setelah ditimbang – timbang, anak – anak ini serius koq saat mengerjakan tugas yang diberikan. Kenapa tidak meluangkan waktu untuk melihat, memeriksa, mengoreksi yang perlu dibenahi, membantu serta memberi semangat dan kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan bakat, minat dan kreatifitasnya?

fakultas kopi, rumah ilmu, rumil, sanger, kopi aceh

Serius, ditemani tugas anak – anak sembari nyanger   😉

Apa yang bisa kita pelajari dari anak kecil?

Anak – anak memiliki semangat yang menggebu, bila kita keliru merespon dan mengarahkannya akan menjadi bumerang dan menjadikan mereka patah arang. Harapan mereka membubung tinggi, jangan salah memberi janji karena mereka akan menuntut. Tunjukkan kalau kita peduli tanpa sikap berpura – pura. Kalau kata orang bijak, jadilah anak kecil saat bermain dan belajar bersama anak – anak, belajarlah dari cara pandang mereka yang polos dan menyenangkan, serta nikmati masa – masa bersama mereka karena engkau akan merindukan masa itu ketika mereka telah bertumbuh dewasa

Jadi, apa yang berhasil mereka gambar setelah menolak tugas menulis? Nggak salah kan Lip? Koq, malah mau mengulas gambar bukannya tulisan? Karena gambar mereka sangat menarik dan membuat saya iri ingin bisa menggambar (lagi).

Nina akhirnya menggambar cerita perjalanannya ke Kidzania bersama kakak dan abangnya dalam bentuk komik, saya biasa menyebutnya storyboard. Dia menuangkan apa yang dia lihat dan nikmati selama berada di Kidzania lewat sketsa gambar. Dengan semangat dia pun menceritakan kembali apa yang dituangkan di gambar, tentang pengalamannya yang menyenangkan bisa bermain seperti layaknya menjalani keseharian di kehidupan nyata bisa belanja ke supermarket, bisa bekerja dan menjadi tamu di hotel, bisa jalan – jalan dan lain – lain. Tak lupa ia pun memamerkan kartu SIM dan selembar uang dari dompet yang didapatnya di Kidzania.

Apa kabar dengan Rafa? Gambar maynekeref-nya selesai, diberi warna, dan diberi judul Maynekeref vs Zombi-zombi, Perang Pedang dan Tembakan. Melihat hasil gambarnya, saya baru sadar, ternyata maynekeref yang dia maksudkan adalah minecraft; permainan anak generasi milenium semacam lego virtual.

minecraft, rumah ilmu, rumil, belajar blog

Gambar Rafa, ada pocongnya lho hiii

Demi melihat ada gambar menyerupai makam di kertas tugasnya, spontan saya bertanya itu gambar apa? Katanya,”Kakak, itu kuburan. Kan zombie – zombienya kalah dan mati lalu jadi pocong.” Lalu apa hubungannya laba – laba dengan semua yang ada di gambar ini? Dengan santai dia pun kembali menjawab,”laba – laba itu gigit – gigit pocong, kak!” Saat berbincang dengan ibunya, beliau mengatakan Rafa agak susah fokus. Sang ibu ingin anaknya konsentrasi untuk belajar menulis, tapi anaknya lebih senang mengambar. Pada ibunya saya menyarankan untuk tidak memaksa keinginan kepada sang anak, biarkan mereka memilih kesukaannya. Sebagai orang tua, kita wajib mengarahkan dan membimbing.

Rupanya, ada tiga anak yang lebih mengutamakan menggambar. Seorang lagi bernama Zahran. Dia juga menggambar minecraft disertai dua gundukan makam dan diberi judul Serangan Zombie. Ohh maaak! Memori dua anak ini sepertinya merekam dengan baik video singkat #TanteKuburan yang mereka tonton saat presentasi. Hasilnya, serial minecraft zombie dan minta diajak main ke kuburan  🙂

Hati – hati menyampaikan sesuatu dan jagalah setiap tutur yang keluar dari bibir di hadapan anak – anak karena generasi mereka sangat pintar dan kreatif. Beri mereka penjelasan sederhana yang gampang dicerna oleh nalarnya, tak perlu mengemas jawaban berbumbu yang malah tak masuk akal.

minecraft, rumah ilmu, rumil, belajar blog, belajar dan bermain

Karena nggak mau kalah sama anak – anak, ‘mayan kan hasilnya?  😉

Anak, diam – diam merekam dan belajar mencontoh apa yang dilakukan orang dewasa di sekitarnya. Ketika diberi tugas dan terus didampingi, dirinya akan menunjukkan sikap manja. Tapi kalau dibiarkan sendiri dan sesekali dipantau, dia akan terlihat berusaha untuk menyelesaikan tugasnya dengan baik terlebih dengan adanya penerapan disiplin pada batas waktu. Mari bertanya pada diri masing – masing, kapan terakhir kali kamu diteriaki kekanakan? seberapa sering kita menunda – nunda untuk mengerjakan sesuatu hingga dateline sudah ngintip? segigih apa kita berusaha berdiri ketika jatuh? Belajarlah pada kanak – kanak yang sedang belajar berjalan, saleum [oli3ve].

Advertisements