Tags

, , , , , ,


Sudah lama sekali tidak membuat resensi bacaan yang menyenangkan. Kalau tak salah, terakhir 4 (empat) bulan lalu. Itu pun setelah 5 (lima) bulan dari resensi sebelumnya. Sepertinya saya sedang malas, tapi pagi ini karena sedang kepikiran, bolehlah saya tambahkan satu ulasan (eh dua deh) bacaan yang sempat dibaca bulan lalu. Yang lain menyusul saja ya 😉

Pada Hari Buku Nasional (17/05/2016) lalu, di beberapa tempat, para pegiat literasi kembali angkat bicara menyerukan kepada pemerintah agar mengambil kebijakan menghentikan pemberangusan buku-buku kiri dan kegiatan literasi yang belakangan marak (lagi) dilakukan oleh pihak-pihak tertentu sehingga menggelisahkan kalangan pegiat dan pecinta literasi.

blues merbabu, memento mori, 65, gitanyali, gitanyali blues merbabu, bre redana

65

Saya rasa bukan kebetulan meski terjadi seperti kebetulan, jika pada saat yang hampir bersamaan; saya baru selesai dan sedang melahap buku dari jalur itu. Bahkan pada pembukaan Makassar International Writers Festival (MIWF) 2016 di Fort Rotterdam (18/05/2016), ketika Direktur MIWF, Lily Yulianti Farid, mempertegas sikap para penulis yang hadir pada MIWF 2016 dengan menyerukan penolakan terhadap pemberangusan buku dan intimidasi kegiatan literasi; saya pun ada di sana. Mengantongi sebuah buku yang selama berhari-hari diajak ke sana ke mari, tanpa disempatkan untuk diselesaikan, 65.

Blues Merbabu, saudaranya, telah habis dilahap ditemani dua cangkir kopi Aceh yang bergantian disorongkan oleh si empunya buku dua minggu sebelumnya. Ia bertutur tentang runtunan perjalanan masa seorang lelaki bernama Gitanyali, generasi terpinggirkan (di kampungnya) karena dirinya terlahir dari orang tua pemuka partai yang aktif di dunia pergerakan, PKI. Seperti keluarga pada umumnya, kehidupan mereka aman tenteram saja hingga suatu hari Ayahnya dijemput oleh tentara dan tak pernah kembali ke rumah. Tak berapa lama, Ibunya pun menyusul dijebloskan ke dalam penjara. Gita yang masa itu masih duduk di bangku SD, tak mengerti hubungan pertemuan-pertemuan yang sering diadakan di rumah mereka dengan penjemputan kedua orang tuanya.

Setelah peristiwa itu, lebih banyak tuturan keseharian Gita yang kemudian tinggal di Jakarta bersama keluarga angkatnya. Ia menjalani ritme kehidupan sebagai remaja yang mengalami masa puber serta pengalaman (dan petualangan) seksualnya yang liar dengan sederet perempuan dewasa yang dijabarkan secara gamblang dengan bahasa yang cukup sopan. Tentang PKI, hanya diselipkan sesekali ketika dirinya teringat pada orang tua dan saudaranya.

Jika Blues Merbabu bertutur lewat cara pandang Gitanyali remaja, maka dalam 65, Gitanyali berkisah dengan cara pandang seorang lelaki dewasa yang sudah lebih matang pula diliputi keraguan ketika disodorkan pada sebuah pilihan.

Sebenarnya, 65-lah yang pertama kali dibaca. Saya menemukannya saat mencari bacaan pagi pada barisan buku-buku yang berderet rapi di rak buku seorang sahabat. Ia menarik karena dibuka dengan perjalanan Gitanyali ke Cape Collinson Columbarium, Kowloon. Dan, cerita-cerita kuburan yang disenanginya seperti Parksee Cemetery, Kerkhof di Kaki Merbabu yang gerbangnya ada tulisan Memento Mori, dan Pere Lachaise di Paris.

Saat sedang asik di bagian awal buku, yang empunya datang menyodorkan Blues Merbabu. Katanya,”Baca ini dulu, baru itu.” Setelah ditenteng sana sini, tak diacuhkan beberapa kali; 65 akhirnya tuntas pula dilahap dalam penerbangan Makassar – Jakarta usai dari MIWF 2016 kemarin.

blues merbabu, memento mori, 65, gitanyali, gitanyali blues merbabu, bre redana

Blues Merbabu & 65 karya Gitanyali aka Bre Redana

65 berbicara tentang pilihan yang diambil oleh Gitanyali setelah bertualang ke sana ke mari. Pilihan pekerjaan sebagai penulis yang dirasanya lebih aman bila melihat latar belakang keluarganya, serta pilihan untuk melabuhkan hatinya pada perempuan oriental yang dijumpainya di Bangkok, yang kurang lebih memiliki latar belakang yang serupa dengannya, sesama elemen PKI.

Lewat 65, Gitanyali menjalani proses untuk berdamai dengan masa lalu. Sedikit acuh dengan sejarah hidupnya yang tak ingin dijadikan batu sandungan dalam meneruskan hidup. Ia menanggalkan kehidupan asmaranya yang liar dan memantapkan pilihan .. Aku tak menghendaki kamu menjadi penghubung apapun, termasuk masa lalu. You are my present, my future ..

Kembali ke soal pemberangusan buku berhaluan kiri. Saya jadi ingat semasa Da Vinci Code yang ditulis oleh Dan Brown menuai kontroversi belasan tahun lalu. Banyak yang membatasi diri dan sekitarnya agar tidak membaca buku tersebut, takut terpengaruh. Tapi tetap saja dihantui penasaran hingga muncul pulalah film dengan judul yang sama, dan semakin penasaranlah mereka dibuatnya kan?

Seperti apa paham yang diyakini dan dituliskan oleh seseorang lewat tulisan yang terangkum dalam sebuah buku mempengaruhi pembacanya?

Pemahaman saya masih tetap sama seperti saat menuliskannya 10 (sepuluh) tahun lalu di SINI, jika sebuah buku berhasil mengobok – obok keyakinan seseorang, semua kembali kepada si pembaca, sejauh mana dia mendalami apa yang diyakininya dan sejauh mana dia memahami apa yang dibacanya. Tetaplah bijak dalam memilih bacaan. Selamat berproses, menguji keyakinan dan pemikiran lewat sebuah bacaan, saleum [oli3ve].