Tags

, , ,


“Bener, kamu nggak minum Liv?”, ekor mataku menangkap pandangan Chef Picha mencoba menelanjangiku yang sedang sibuk memainkan shutter kamera. Nggak, jawabku datar, mataku tak beralih dari pinggan-pinggan putih berisi makanan yang bergantian diantarkan ke meja panjang tempat kami berbincang. Direguknya minuman berwarna hijau muda dalam sloki kecil digenggamannya. Hmm .. segar, ujarnya. Dia pun menawarkannya kepada Richo dan Leo, dua lelaki yang menemaniku malam itu. Ini pas buat laki katanya. Dua lelakiku tanpa ba-bi-bu memilih sloki masing-masing. Sekali glek habis.

Tian of Tuna and Avocado, de basilico kitchen and bar, restaurant the one legian, kafe di legian

Dok Richo Sinaga

“Makanannya dimakan donk, jangan difotoin aja. Kalo dingin nggak enak lho,” suara Chef Picha kembali terdengar. Aku, Richo dan Leo tetap tak bergeming. Gudang penyimpanan pangan masih sedikit sesak setelah sesiangan tadi bercengkerama dengan Mbak Irma dan Hendrik sembari icip-icip beberapa sajian yang dikeluarkan oleh Chef Picha di De Basilico Kitchen and Bar. Jadi, masih mengatur strategi hendak menyentuh yang mana dulu agar tak salah langkah sambil menyeruput Banana Choco yang tertinggal di dalam gelas.

Tian of Tuna and Avocado, de basilico kitchen and bar, restaurant the one legian, kafe di legian

de_basilico_05

Bila mengikuti tata cara menyantap makanan yang benar, seharusnya bersantap dimulai dengan makanan pembuka yang ringan-ringan saja sebagai penggugah selera seperti salad. Namun untuk saat ini hasil kursus table manner dilupakan sejenak karena setiap lidah memilih rasa mana yang ingin dicobanya terlebih dahulu. Jadilah comot sana, gamit sini.

Lalu bagaimana menilai setiap rasa jika dia disentuh tak senonoh seperti itu?

de_basilico_04

Kuncinya ada pada keunggulan cita rasa yang dikandung oleh setiap menu yang dipilih dan disiapkan dengan hati serta disajikan dengan hati-hati. Karenanya dia tak mudah untuk dipengaruhiΒ  rasa lain. Mereka tahu sisi mana yang akan ditonjolkan untuk menarik lidah yang merindu rasa itu menyentuh dan melumatnya.

Potongan kecil daging yang terurai dari Pork Ribs Galapanos lembut menyentuh permukaan lidah. Rasa juicy-nya perlahan mengalir, memadu dengan lelehan saliva yang membuat lidah menggelepar-gelepar menggapai puncak orgasme. Aaaah … salah satu menu andalan dari Chef Picha ini tak bisa ditampik kehadirannya. Dia berhasil mengacaukan janji hati untuk bersetia akhirnya menyentuh daging dan berselingkuh pada malam itu.

Tian of Tuna and Avocado, de basilico kitchen and bar, restaurant the one legian, kafe di legian

De Basilico Kitchen and Bar
The ONE Legian Hotel
Jl. Raya Legian 117, Legian, Bali 80361
Telp (0361) 3001101

Tak kuhitung lagi berapa kalori makanan yang diangkut oleh saluran pencernaan ke dalam gudang penampungan. Yang pasti, saat malam semakin pekat dan hingar bingar Legian menuju puncaknya, semua sajian yang ada di atas meja satu per satu mulai bersih dari pinggan hingga suara menggoda itu kembali terdengar dan membuat tangan yang sedang asik menjelajahi beberapa yang tersisa di pinggan menggantung sesaat di udara.

de_basilico_01

Sex on the Deck!

Whaaaat? Aku sangat yakin indera pendengaranku tak mengalami gangguan. Cobain yang ini deh Liv, buat menghangatkan badan. Di depan mata sloki berisi cairan berwana merah muda melirik penuh harap untuk disentuh. Dia nggak bikin pusing, enak koq nggak pahit. Rayuan itu terus saja mengusik. Diam-diam, dalam hati aku mulai menghitung satu .. dua .. tiga … jemariku menggenggam sloki, mengendus-endus baunya di ujung hidung dan glek.

Lidah diputar-putar, melumat sisa-sisa rasa yang melekat pada dinding mulut. Gimana? Suara itu memecah sepi. Hmmm … ini cairan yang pas untuk menenangkan lidah yang kelelahan setelah mencapai puncak rasanya. Manis-manis segar rasa jambu dan …

Itu campuran guava dan vodka. Sahut Chef Picha seperti membaca jalan pikiranku. Sloki yang sudah kosong pun kembali dituang dengan air merah muda. Asik ya. Let’s have sex on the deck! saleum [oli3ve].

Advertisements