Tags

, , , , , , ,


Sinar mentari merengkuh tanah saat kami menggapai gerbang Gampong Bitay, Meuraxa. Sesuai perkiraan ketika melihat plang penunjuk arah di persimpangan jalan kala meluncur ke Gampong Punge Blang Cut pagi tadi, bila bersetia mengikuti jalan lebar yang beraspal; sebentar juga sampai. Tapi Hadi yang tiga tahun lalu menemani berkeliling jejak sunyi, tetap menepikan kendaraan di depan sebuah kedai untuk memastikan kami tak salah mengambil arah.

Bang Pasha, kita sudah sampai. Turun yuk,” seruku pada si ganteng yang belum juga menemukan posisi duduk yang nyaman di kabin belakang mobil yang membuat badannya sedikit terlipat.

Turkish  Graveyard, Kuburan Turki di Aceh, Jejak Turki di Aceh, Gampong Bitay

Jejak yang tertinggal di Gampong Bitay

Lelaki berwajah tirus dengan dagu hijau kebiruan itu; kulit kuningnya berkilat diterpa cahaya matahari. Dirinya menjulang di depanku sesaat setelah Hadi kumintai tolong untuk mengabadikan gambar di depan gerbang taman. Diayun-ayunkannya kakinya yang tadi terlipat di mobil sembari menebar senyum mengajak melangkah ke dalam tempat peristirahatan yang senyap itu. Pasha menguntitku sejak kemarin petang. Kata kak Yasmin yang menemani ke Bukit Malahayati, dia melihat lelaki tinggi kekar dan ganteng itu mengawaniku berbincang saat bermain ayunan di bawah pohon beringin besar yang tegak di belakang Indra Patra.

Kini aku yang menguntit lelaki berdagu biru yang semalam mengikutiku dari benteng hingga ke kamar hotel. Lelaki yang sangat tertarik dengan tutup kloset. Setiap kali kututup, dia akan membukanya lagi. Terus saja begitu dari malam hingga pagi tadi saat aku berkemas untuk keluar mencari sarapan.

Pasha, sepatah kata yang disebutnya kala mengenalkan diri. Dia menurut saja ketika kuserahkan remote TV untuk dimainkannya saat mataku sudah sangat lelah. Setelah seharian berjalan, aku perlu istirahat. Kutinggalkan dia penasaran dan bermain dengan benda-benda yang tak ada pada masanya,”Bang, kau boleh tinggal di kamar ini selama tak mengganggu tidurku. Duduk dan tiduran saja di sofa empuk itu bila capek berdiri.”

Aku mengekor di belakang langkah panjang-panjang Pasha sembari memperhatikan bangunan masjid kecil yang berdiri di samping peristirahatan. Bangunan itu menyerupai bangunan Turki. Pada bagian depannya tampak tiang-tiang penyangga berjejer merentang terpal berwarna biru. Sebuah plakat dari tembaga tertancap di salah satu pilarnya dengan tulisan tebal Deniz Feneri (Light House). Bergegas kususul langkah Pasha hingga kami berjalan bersisian tepat saat mulutnya mulai bergerak-gerak berbagi kisah.

Turkish  Graveyard, Kuburan Turki di Aceh, Jejak Turki di Aceh, Gampong Bitay

Miniatur kapal turki di museum mini Turkish Graveyard, Gampong Bitay

Hubungan harmonis Kesultanan Turki yang dipimpin oleh Sultan Sulaiman dengan Darud Donya Darussalam mulai terjalin sejak 1530-an. Masa itu para ulama Turki dikirim ke Aceh untuk menyebarkan agama Islam. Ketika Sultan Sulaiman mangkat pada 1566, hubungan kerja sama antar kedua negeri tersebut terus berlanjut dengan pemimpin yang baru, Sultan Selim II.

Pada 1567, Sultan Alauddin Riayat Shah Al-Qahhar mengirimkan utusan ke Istambul meminta bantuan militer untuk mengusir Portugis. Sekarung lada hitam dibawa oleh Husein Effendi sang utusan sebagai hadiah untuk Sultan Selim II. Pada 20 September 1567, Sultan Selim II memerintahkan Laksamana Kurdoghlu Khiszir Reis memimpin 15 (lima belas) Armada Laut Turki yang dilengkapi dengan 2 (dua) kapal perbekalan, berangkat dari kawasan Laut Merah ke Aceh. Turut dalam rombongan besar itu beberapa ulama dan ahli teknik, termasuk di antaranya ahli tambang, ahli besi, ahli persenjataan artileri serta ahli militer untuk membantu Kesultanan Aceh. Kedatangan tenaga ahli sebanyak 300 orang itu, disambut langsung oleh Sultan Alauddin dengan upacara kebesaran.

Meriam Aceh, Turkish Graveyard, Kuburan Turki di Aceh, Jejak Turki di Aceh, Gampong Bitay

Meriam Aceh yang kini tersimpan di Museum Bronbreek, Arnhem, Belanda

Para instruktur ahli bertugas memberikan pelatihan menempa besi, membuat kapal perang, merakit senjata hingga meriam. Di bidang pendidikan, sebuah sekolah militer dibangun. Tempat menempa para teuruna Nanggroe berkualitas menjadi perwira gagah perkasa yang siap untuk membela Aceh di darat maupun di laut. Hanya taruna pilihan yang datang dari golongan tertentu yang dapat diterima di pendidikan militer ini. Mereka adalah anak-anak dari lingkungan istana serta anak-anak orang kaya yang datang dari berbagai pelosok nanggroe. Akademi Militer Ma’had Baitul Maqdis, membuka 2 (dua) jurusan pendidikan yang bisa mereka pilih sesuai dengan minatnya, jurusan Militer Darat dan Militer Bahari.

Aku teringat kisahku sendiri, saat berjalan-jalan di tepian sungai Malaka tiga tahun lalu. Pada sisa benteng pertahanan Malaka kutemukan sebuah catatan yang lusuh, di sana tertulis ketika Aceh menyerang kota itu pada 1563, Aceh dibantu oleh pasukan Turki.

“Kamu mengerti tidak arti kata kurdoghlu di depan nama Laksamana Khiszir Reis?” Pasha memotong imajiku di depan monumen yang bertuliskan Selahadin Mezarligi, Makam Tengku Di Bitay. Melihat kepalaku menggeleng, Pasha melanjutkan kisahnya.

Kurt dalam bahasa Turki artinya serigala, jadi kurdoghlu artinya anak serigala. Nama yang diwariskan oleh Kurt Bey pada anaknya Kurdoghlu Muslihiddin Reis, yang kemudian meneruskannya pada nama anak-anaknya sendiri. Mereka, bajak laut Turki yang sangat disegani.

Turkish Graveyard, Kuburan Turki di Aceh, Jejak Turki di Aceh, Gampong Bitay

Prasasti perahu untuk pemerintah Turki dari rakyat Aceh di monumen Thanks to The World, Blang Padang, Banda Aceh

Oooh maaaaak, jadiii … aku sedang berjalan-jalan dengan anak seorang bajak laut terkenal yang kesenangannya menguntit perempuan?” kudelikkan mata padanya, namun Pasha pura-pura tak melihat. Dibalasnya dengan senyum mengembang di wajah sembari merentangkan kedua tangannya,”Selamat datang di Ma’had Baitul Maqdis, Cut Dek.

Tak hanya aneuk agam (= anak lelaki) yang bersekolah di sini. Beberapa aneuk inong (= anak perempuan) yang mewarisi jiwa kesatria dan semangat belajar tinggi dari orang tuanya, sangat disiplin menempuh pendidikan militer di tempat ini. Ada satu inong yang aku ingat, dia memilih jurusan Bahari. Kekerasan hati dan tekad kuatnya untuk mendalami ilmu bahari, meluluhkan hati ayahnya, Laksamana Mahmud Syah hingga menitipkan puteri kesayangannya itu kepada pimpinan Akademi Militer Ma’had Baitul Maqdis, Laksamana Pasha Khiszir Reis.

Nama yang terakhir disebutnya adalah nama lelaki berdagu biru, yang dengannya aku melangkah menyusuri taman berumput hijau menuju rumah kecil di pelataran belakang taman peristirahatan; Turkish Graveyard. Pasha adalah adik kandung Laksamana Kurdoghlu Khiszir Reis yang diberi kepercayaan untuk memimpin Akademi Militer Ma’had Baitul Maqdis. Dirinya dibantu oleh para instruktur Turki berpengalaman yang tak terbantahkan keahliannya.

Selepas pendidikan, karena kecakapan, keluwesan dan ketajaman nalarnya, ia mendapat kepercayaan dari Sultan dan diangkat menjadi protokoler istana. Kelak dirinya memimpin armada para janda yang dikenal sebagai Armada Inong Balee. Dia …”

Laksamana M-A-L-A-H-A-Y-A-T-I.” Tak sadar bibirku melontarkan sebuah nama dengan penuh semangat sembari mengepalkan tinju dengan tangan kanan ke langit membuat Pasha menatapku dengan mata penuh selidik.

Kisah selanjutnya kamu sudah tahu kan? tak perlu lagi kututurkan padamu,” balasnya dengan senyum yang membentuk lengkung indah di atas dagunya yang biru memesona.

Langkah kami sampai di depan pintu rumah bercat merah jambon muda yang terkunci. Mungkin dulu catnya berwarna merah saga seperti warna seragam kebesaran pasukan Turki. Matahari dan hujan meluruhkan warnanya menjadi sangat muda. Saat tengah asik mengintip dari celah-celah kaca nako yang buram ke dalam ruang yang dindingnya digelantungi beberapa gambar berbingkai, seorang lelaki tetiba telah berdiri di belakangku. Setelah berbincang sebentar dan memperkenalkan diri, dirinya bergegas pulang mengambil kunci. Wowww, semua seperti sudah diatur. Tak ada yang terjadi secara kebetulan bukan?

When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it – [Paulo Coelho]

Tak kuhitung berapa banyak patok di taman peristirahatan ini. Yang kuingat, 7 (tujuh) patok marmer panjang-panjang di sebuah bangunan khusus. Bagian kepala ditandai dengan marmer hitam dengan gambar bulan sabit tepat di tengahnya. Saat aku jongkok di sampingnya, tingginya melebihi kepalaku. Pasha melangkah ke salah satu sudut bangunan itu, mengucapkan salam perpisahan lalu menghilang sebelum kukorek kisah para teuruna yang belajar di Baitul Maqdis.

Turkish Graveyard, Kuburan Turki di Aceh, Jejak Turki di Aceh, Gampong Bitay

Tempat berpisah dengan si dagu biru, Turkish Graveyard, Gampong Bitay

Beberapa literatur mencatat, Bitay adalah gampong (=kampung) tempat para ulama Turki menjejak ketika datang ke Aceh, membangun meunasah dan mengajarkan agama Islam. Awal kedatangan mereka dipimpin oleh Sultan Salahuddin yang kemudian dikenal sebagai Tengku Syech Tuan Di Bitay. Nama bitay yang melekat pada gampong ini sekarang, sebenarnya berasal dari Bayt Al-Maqdis (=Yerusalem) tempat berdirinya Masjid Al-Aqsa. Dikarenakan lidah masyarakat setempat kesulitan melafalkan Bayt Al-Maqdis (nama yang digunakan pula untuk pendidikan Ma’had Baitul Maqdis); jadilah ia Bitay, gampong Turki.

Ketika tsunami menghentak Aceh pada 26 Desember 2004, Gampong Bitay yang berada di tepian laut, menjadi salah satu gampong yang rusak parah. Pasca tsunami, Bulan Sabit Merah Turki (The Turkish Red Crescent Society) turun tangan merestorasi gampong, membangun rumah bantuan termasuk membenahi tempat peristirahatan ini dengan menambahkan sebuah bangunan kecil untuk menyimpan beberapa catatan perjalanan masa, saleum [oli3ve].

Bahan bacaan:

  • Sejarah Sumatera (The History of Sumatera, the third edition 1811), William Marsden, Komunitas Bambu, 2013
  • King Suleiman, The Magnificient, Yudi Iswanto, 2015
  • Perempuan Keumala, Endang Moerdopo, 2008.
  • Malahayati Srikandi dari Aceh, Solichin Salam, 1995
  • Nukilan Perjalanan Kesultanan Turki di Museum Mini Turkish Graveyard, Bitay

Teurimong gaseuh Hadi si Anak Desa yang menemani berjalan seharian itu menyusuri jejak sunyi.