Tags

, , ,


Tiga minggu lalu saat menemani seorang sahabat baik berkeliling di Museum Taman Prasasti, saya baru ingat belum pernah menuliskan kisah Opa Leyden saat kami berada di depan pusaranya. Terbiasa berjalan sendiri, ketika mendadak diminta menemani berjalan, suka lupa-lupa ingat hendak berbagi cerita apa. Untung yang ditemani lupa membawa peralatan rekam sehingga ekspresi lupanya tak tertangkap kamera hehe. Mumpung ingat, lebih baik dicatat agar nanti bila ada yang bertanya, tinggal buka tautannya.

John Casper Leyden, MD, museum taman prasasti, sahabat raffles

Tempat peristirahatan John Casper Leyden, MD

Selang setahun setelah Perancis mengeratkan pelukannya pada Belanda dengan diangkatnya Louis Napoleon sebagai raja Belanda; British East India Company (Perusahaan Dagang Hindia Timur Inggris) mengeluarkan perintah untuk segera mengusir Belanda dari pulau Jawa. Sebuah pulau yang terlihat subur dengan penduduk mayoritas Muslim, memiliki potensi sebagai pos pengatur jalur lintas perdagangan ke Tiongkok; namun tampaknya tak dikelola dengan baik oleh Belanda.

Pada 11 Juni 1811, terlihat serombongan kapal berbendera Inggris beranjak dari pelabuhan Malaka menuju pulau Jawa. Di dalam salah satu kapal itu, turut serta seorang pujangga Skotlandia; John Casper Leyden. Dirinya berangkat bersama Thomas Stamford Raffles, serta Gubernur Jenderal Lord Minto yang memimpin lagsung pasukan invasi Inggris ke Jawa. Pada 4 Agustus 1811, kapal-kapal Inggris merapat di Cilincing dan Leyden boleh disebut sebagai prajurit infanteri Inggris pertama yang menjejakkan kaki di tanah Jawa ketika dirinya menjadi orang pertama yang keluar dari kapal dengan pongahnya menginjak daratan.

Leyden bertemu dengan Raffles kala dirinya kepayahan karena penyakit lever yang membuatnya meninggalkan Madras (sekarang Chennai) pada 22 Oktober 1805 untuk berobat ke Penang. Ia pun diajak oleh Raffles untuk beristirahat di bungalownya, sehingga serta merta perawatannya ditangani langsung oleh istri Raffles, Olivia. Setelah sembuh, Leyden tak tertarik lagi untuk melanjutkan tugasnya sebagai tenaga medis di India. Ia memilih meninggalkan pekerjaannya sebagai kepala rumah sakit dan tinggal di Penang menjadi semacam penasihat bagi Raffles. Leyden banyak membantunya saat Raffles ditunjuk menjadi Agen Gubernur Jenderal Perusahaan Hindia Timur Inggris untuk Negara-negara Melayu yang bertugas untuk menjalin hubungan baik dengan penguasa dan raja-raja di negara Melayu sebelum Inggris menggencarkan invasinya.

john casper leyden, md, john leyden, sahabat raffles

John Casper Leyden, MD (sumber: Walter Scott)

Raffles dan Olivia sendiri menyebut Leyden sebagai sahabat baik. Tapi tak ada yang tahu pasti bagaimana hubungan antar personal di antara mereka bertiga. Melihat keakraban Raffles, Olivia dan Leyden; banyak yang mulai berspekulasi tentang hubungan khusus yang terjalin di antara mereka, terlebih dengan lahirnya berlembar puisi berisi sanjungan yang dituliskan Leyden untuk Olivia.

But chief that in this eastern isle,
Girt by the green and glistering wave,
Olivia’s kind endearing smile
Seem’d to recall me from the grave.

When, far beyond Malaya’s sea,
I trace dark Soonda’s forests dear,
Olivia! I shall think of thee;
And bless thy steps, departed year!

[Dirge of the Departed Year, John Casper Leyden]

Inggris sedang menunjukkan taringnya di jagad raya, kekuasaan Belanda sedikit bergeser setelah Perancis menguasai Belanda. Dua bulan setelah kedatangan Inggris di Jawa, pada 19 Oktober 1811, Lord Minto mengangkat Raffles menjadi Letnan Gubernur Jawa. Sayang, Leyden tak dapat menyaksikan salah satu mimpi besar sahabat dan dirinya tercapai. Perjalanan hidupnya mengalir seperti ramalan yang mengikuti gema Dirge of the Departed Year:

Fore-doom’d to seek an early tomb,
For whom the pallid grave-flowers blow,
I hasten on my destin’d doom,
And sternly mock at joy or woe

John Casper Leyden, MD, museum taman prasasti, sahabat raffles

Catatan tentang Leyden

Leyden meninggal di jelang 36 tahun usianya pada 28 Agustus 1811 karena malarianya kambuh. Ia dimakamkan di Kebon Jahe Kober, pada pusaranya tercantum, Leyden meninggal di Molenvliet dua hari setelah Inggris merebut Benteng Cornelis. Nama Leyden tak bisa lepas dari Raffles dan Olivia. Kepergiannya, adalah kehilangan yang sangat besar bagi Raffles dan Olivia. Hmm … benarkah Leyden kekasih gelap Olivia? Saleum [oli3ve].

Bahan bacaan:

  • Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa, Tim Hannigan, 2015