Indonesia BUKAN Tujuan Wisata di Asia Tenggara


Berjalan berkelompok adalah hal yang biasa dilakukan oleh orang-orang Cina ketika melakukan perjalanan. Saya teringat ketika melakukan perjalanan beberapa waktu lalu ke Singapura, dan bertemu dengan sekelompok pejalan Cina yang dibagi dalam dua kelompok masing-masing terdiri dari 10 – 15 orang. Usianya berbaur, ada yang masih muda, sebagian sudah cukup dewasa. Mereka berjalan dipandu seorang pemimpin kelompok yang membawa bendara berwarna mencolok agar terlihat dari kejauhan bila ada yang terpisah dari kelompoknya.

Hal yang sama kembali saya jumpai ketika mengikuti satu kegiatan di Terengganu, Malaysia dua tahun yang lalu. Sekelompok pejalan muda dari Cina, mendapatkan pendamping seorang pemandu yang juga bertugas sebagai penerjemah. Pada satu kesempatan, saat berkunjung ke sebuah tempat wisata bahari, saya “tersesat” dan masuk ke dalam perahu mereka. Karena mereka tak paham bertutur dengan bahasa Inggris, maka perbincangan dalam perahu pun hanya bergulir antara saya dengan sang pemandu yang sesekali ditimpali dengan bahasa Hokkian yang heboh di antara mereka dan sangat asing di kuping saya.

Waktu terus berjalan, apa yang terjadi selama dua tahun belakangan dengan pejalan muda Cina yang biasanya berjalan berkelompok ini?

Ternyata, ada satu kebiasaan baru yang mulai merambah kalangan anak muda Cina yang gandrung untuk berjalan. Mereka perlahan meninggalkan kelompok besarnya, melakukan perjalanan sendiri dengan menyasar destinasi wisata anti mainstream di kawasan Asia khususnya Asia Tenggara.

Sebuah data studi yang dikeluarkan oleh Agoda.com di Singapura pada 15 Januari 2016 lalu menyebutkan, berdasarkan lalu lintas pemesanan kamar melalui Agoda sepanjang 2014 – 2015; terdapat kenaikan angka yang sangat mengejutkan pada pola berjalan para pejalan muda Cina ini. Lebih mengejutkan lagi, ternyata dari Top 10 Destinasti Wisata Anti Mainstream di Asia Tenggara, Indonesia sama sekali tak dilirik.

Filipina menempati urutan pertama yang dilirik oleh para pejalan Cina, menyusul Jepang, Thailand dan Vietnam. Dari kesepuluh destinasi wisata tersebut, Jepang memiliki 6 (enam) destinasi wisata yang sangat diminati. Kesepuluh destinasi tersebut adalah:

  1. Dumaguete, Filipina
  2. Yufu, Jepang
  3. Koh Lanta, Thailand
  4. Asahikawa, Jepang
  5. Nagoya, Jepang
  6. Beppu, Jepang
  7. Nha Trang, Vietnam
  8. Nagano, Jepang
  9. Krabi, Thailand
  10. Takayama, Jepang
top emerging destination, survey agoda, tujuan wisata populer asia tenggara
sumber data: Agoda.com

Tanda tanya besar menggelembung di dalam pikiran, kenapa bisa begitu? Dumaguete sebagai kota pelabuhan, mengandalkan wisata sejarah dan bahari (diving) yang juga dimiliki oleh Indonesia tapi Agoda mencatat bahwa terjadi lonjakan pemesanan kamar sebesar 805% pada 2015 ke Dumaguete atau naik 4 (empat) kali lipat dari tahun sebelumnya. Nha Trang, Vietnam, tak jauh berbeda, wisatanya sejarah, budaya dan bahari. Kurang apa coba Indonesia?

Sebelum mencela sana – sini, ada baiknya kita melihat tampilan angka yang disampaikan oleh Anindhita Maharrani (13/01/16) kenapa Pariwisata Indonesia Kalah? dan ulasan Erik Meijaard (11/01/16) tentang Indonesia is Losing the Race to Cash In on Nature. Kurang gencar ya promosi wisata Indonesianya? Kurang banyak pejalan Indonesia yang mendengungkan kecintaan dan ajakan untuk berkunjung ke Indonesia? Dari mana angka – angka tersebut? Pergeseran angkanya bisa dilihat di data World Bank atau The World Tourism Organization (UNWTO) sedang data statistik Kementerian Pariwisata bisa dilihat di SINI.

Ketika beberapa negara mulai mengeluarkan tanggap darurat dan memberikan peringatan bagi warganya untuk tidak mengunjungi Indonesia saat terjadi teror bom di Sarinah minggu lalu; Kemenpar galau. Sebuah pernyataan dikeluarkan untuk MENUNDA peluncuran promosi Wonderful Indonesia yang kemudian dibatalkan dalam beberapa jam melihat keadaan membaik. Sementara, kawan-kawan saya dari Indonesia Bertindak kembali gencar menggalakkan kampanye Indonesia Dangerously Beautiful yang didengungkan pertama kali pada 2008 lalu lewat media sosial bahkan turun ke jalan. Malaysia ketika dikecam habis-habisan dengan peristiwa hilangnya MH370 Maret 2014 lalu, lewat Kementerian Pelancongan malahan mengundang para pejalan Cina untuk datang ke Malaysia dan menikmati sajian wisatanya. Mereka yang saya jumpai saat tersesat dan salah naik perahu itu.

Jangan takut, Indonesia punya banyak sekali destinasi wisata dibandingkan dengan negara tetangga. Hanya saja, bagaimana pengelolaan, perilaku pejalan yang mengunjungi tempat tersebut, gagap budaya yang dialami ketika berinteraksi dengan masyarakat setempat, kesiapan masyarakat adatnya, masihkah kita memelihara kearifan lokal, masihkah kita punya rasa peduli dengan lingkungan?

Indonesia pun tak kekurangan pejalan yang senang berjalan hingga ke pelosok dan mengunjungi destinasi anti mainstream lalu menyebarkan kegiatan mereka lewat media sosial. Tapi, sudahkah kita mengingatkan diri untuk selalu berjalan dengan menumbuhkan, memelihara dan memiliki rasa peduli terhadap sekeliling? Sudahkah kita berbagi informasi wisata yang baik dan mengedukasi untuk sesama pejalan lewat media sosial? Sesederhana itu koq, mulai dari diri sendiri, saleum [oli3ve].

Sebelumnya dipublikasikan di Kompasiana, Selasa (19/01/2016)

38 thoughts on “Indonesia BUKAN Tujuan Wisata di Asia Tenggara

  1. Suka deh kalau kak Olive sudah mengulas semacam ini, detail dan membuat kita yang membaca tergerak untuk berpikir.

    Dan ini menurut pendapatku ya. Saat ini aku rasa Indonesia gak perlu untuk ikut bertanding mengejar pencapaian angka kunjungan wisatawan dari luar negeri dulu, karena kita tidak bisa menutup mata jika sejatinya kita belum benar-benar siap.

    Point pertama. Industri wisata kita masih dikerjakan dengan setengah hati, atau paling tidak yang mendapat fokus hanya sebagian saja. Destinasi-destinasi yang sudah terkenal terus dieksploitasi sampai batas yang terkadang membuat jengah, sementara destinasi lainnya yang potensial justru diabaikan atau kadang dianggap tidak ada. Bahkan ketika destinasi tersebut kebetulan ‘apes’ memiliki potensi lainnya, semisal untuk pertambangan dan mineral, maka potensi wisatanya akan dimatikan sama sekali kepentingannya.

    Point kedua. Aku melihat kurangnya koordinasi juga dalam pengelolaan wisata di Indonesia, semua berjalan sendiri-sendiri dan terkadang cuma formalitas saja, termasuk sumber daya manusia yang mengelolanya. Program-program Kemenpar sih mungkin bagus ya. Ada Wonderful Indonesia dan sebagainya. Tapi sampai gak ke daerah? Koordinasi yang bagus ini harus diperhatikan. Supaya semuanya gak jalan sendiri-sendiri. Bukankah dulu juga Indonesia kesulitan untuk mencapai merdeka karena berjuang sendiri-sendiri?

    Point ketiga. Mirip dengan apa yang kak Olive ungkapkan di dua alinea terakhir. Edukasi dan moral pejalan dalam negeri sendiri yang juga harus dibenahi. Belakangan aku melihat jalan-jalan itu sebagai cara untuk mempertahankan eksistensi dibandingkan menghormati alam, menambah ilmu dan pengalaman, serta membuka wawasan. Ini termasuk harus dibenahi.

    Point keempat. Infrastruktur, kemudahan transportasi, keamanan, dan kepastian hukum. Mau tidak mau ini hal yang paling mencolok mata dan menjadi pertimbangan untuk orang mengunjungi suatu tempat.

    Ah masih banyak lagi deh.

    Intinya sih, mendingan kita kerjakan PR dalam negeri dulu, siapkan diri -meskipun mungkin agak telat ya-, tapi seperti yang kak Olive katakan “Jangan takut, Indonesia punya banyak sekali destinasi wisata dibandingkan dengan negara tetangga.” Once kita siap, aku yakin kita bisa menyalip. Aku selalu percaya itu, jika kita sudah siap pasti kita bisa.

    1. busyeeet diborong ama sia abang :))
      tapi emang sih, indonesia belum menjadikan pariwisata sebagai main-course business nya kak. jadilah seperti ini. selalu mengandalkan minyak dan gas. mentok2 di hasil laut.

      malaysia, jumlah kunjungannya 26 juta pertahun wisman. indonesia? hanya 10 juta dan baru berani menargetkan 20 juta wisman di tahun 2022 ? what the??

      aceh lebih ngenes lagi kak. ah dikau tahulah ini :))

      1. he?? jadi yang nulis surat itu juga kaka?? ada di posting di TBI kan?? alamak.. kok aku sering pangling ya 😦

  2. Banyak yang harus dibenahi, tapi saya yakin kita pasti bisa. Minimal diri kita sendiri dulu yang merajinkan diri mengunjungi tempat-tempat wisata di dalam Indonesia, lalu mengenalkannya ke dunia luar, sembari kita juga sama-sama bekerja memperbaiki yang bisa kita perbaiki. Kalau semua bekerja sama pasti tujuannya bisa tercapai :hehe.
    Indonesia juga pasar yang besar banget :hehe.

  3. Oke akhirnya gatel pengen cerita, bukan curhat atau baperan susah move on. Jadi ngga sengaja semalem kongkow2 dengan salah satu penggiat wisata di Nongsa. Seperti halnya Lagoi, Nongsa menjadi destinasi wisata laris manis tanjung kimpul pelancong negara tetangga. Jelang weekend tingkat hunian selalu 100 persen.

    Kalau mau dibandingin dengan keindahan pantai lain Indonesia sebetulnya Lagoi atau Bintan kalah jauh. Tapi kenapa mereka begitu moncer? Ya selain secara geografis dekat dengan Malaysia dan Singapura, kedua kawasan wisata itu membangun infrastruktur sendiri tanpa campur tangan pemerintah. Mulai dari jalan, listrik, air hingga pelabuhan mereka bangun sendiri, jadi sudah seperti kota mandiri.

    Sejak puluhan tahun lalu kawasan wisata ini mempromosikan produknya secara mandiri ke negara tetangga, dengan potensi pasar lebih besar.

    Lalu ujung2nya apa? Ya wajar kalau terkadang kawasan ini menjadi cenderung eklusif atau pilih-pilih tamu. Namanya unsur bisnis wajar donk memilih dan memilah tamu yang bisa memberikan keuntungan lebih secar finansial dan mengembalikan modal yang sudah dikeluarkan.

    Lalu peran pemerintah apa? Jelas ada meski tak banyak. Apalagi dengan segudang potensi Indonesia yang jumlahnya tak terhitung, kadang susah untuk fokus. Seolah program Wonferful Indonesia dan Pesona Indonesia , jualan wisata dan segmentasi pasar terkotak2. Kalau mau jualan ke dalam negeri pakai pesona indonesia kalau ke bule pake wonderful indonesia. Konsep pun tak bersinergi , bagaimana yang yang lain mau berisnergi, seperti penyedia infrastrukutur dan pemerintah daerah.

    Ribet ya… ngga ada yng ribet kalau saya mah. πŸ˜€

  4. Nambahin dikit ya mba Olive,
    Kita ini kurang bisa memelihara. Mungkin kita bisa bikin sesuatu yang baru, sesuatu yang wah dan ga kalah dari negara lain. Tetapi dalam kurun waktu tertentu, yang wah dan hebat itu jadi rusak karena kurangnya perhatian (termasuk dana) untuk pemeliharaan.

  5. Sebagai traveler dari Malaysia, saya memang tertarik untuk melancong ke destinasi seperti Maluku, Papua dan Flores tetapi saya risau akan standard keselamatan penerbangan. Sudah tentu Garuda ada tetapi kadang2 terlalu mahal untuk pelancong bajet dan AirAsia tidak mempunyai hasrat lagi untuk melebarkan sayap mereka ke timur Indonesia.

    1. mas Dan kalau ke Flores bisa pakai AA dari Malaysia ke Bali, ke Maluku dengan AA ke Makassar dan lanjut dengan lokal airline.

      Atau minta diajak jalan sama pelancongan Indonesia, tahun lepas banyak travel blogger dari luar yg diajak jalan-jalan ke timur. Saya kurang tahu ada tak dari Malaysia.

      Btw tulisan kamu menarik, nanti saya blog walking lagi ya.

      1. Kalau ikutkan trend, makin ramai Malaysians mula explore di timur sejak AirAsia membuka penerbangan ke Lombok. Harap2 juga akan ada direct flight ke Sumbawa atau Maluku selepas ini πŸ™‚

  6. Ngomongin soal pejalan dari Tiongkok, yang muda mungkin udah suka jalan sendiri-sendiri, tapi yang paruh baya ke atas masih suka jalan bergerombol dan cenderung — berisik. Jujur, kalau soal attitude, pejalan Tiongkok juga perlu berbenah. Kadang terlalu ramai, mementingkan diri, dan kurang sopan. Host CS-ku di Bangkok juga mengeluhkan hal yg sama.
    Oke, cukup deh curhat terselubung seputar turis Tiongkok πŸ˜€

    Aku nggak terlalu tahu dengan Jepang, tapi apa yg dimiliki Filipina, Vietnam, dan Thailand, juga kita miliki. Pantai pasir putih dengan air hijau toska sebening kristal, kota bersejarah dengan bangunan-bangunan pecinan kuno, dsb. Kalau menurutku sih, promosi dan strategi kita kurang. Misalnya, ada air terjun di Vietnam yg dinamai Air Terjun Peri, padahal wujudnya juga biasa banget dibandingkan dengan yg ada di Indonesia, tapi sukses menarik minat turis mancanegara.

    Satu lagi, sesuai kata Winny, adalah infrastruktur. Keindahan alam tanpa infrastruktur adalah bull***t. Contohlah Jogja, pantai-pantai Gunung Kidul itu belum dikenal turis mancanegara. Kenapa? Ya wong nggak ada transportasi ke sana, semisal bus. Turis luar negeri kalau ke Jogja taunya cuma Malioboro, Prambanan, sama Borobudur. Udah.

    Tapi, akhir kata, gue setuju dengan opini bang Bartian, sekarang mending kita benahi dulu deh attitude anak-anak muda Indonesia yang (ngakunya) traveler. Kembalikan traveling ke esensi sesungguhnya sebagai tempat dan saat untuk belajar, bukan untuk eksis di instagram atau masuk acara tipi mak crit mak plekentur.

    Salam travelearn *halah*

  7. Postingan mbak Olive berbonus ‘postingan’ komen menunjukkan betapa kerinduan kesiapan wisata Indonesia oleh banyak pihak. Berbenah bersama…. Terima kasih mbak Olive dan kawan-kawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s