Tags

, , ,


Tenda yang berdiri sepi. Di hadapan meja panjang yang ditinggal sendiri, lelaki berambut ikal memutih duduk bersendiri menikmati makan kesiangan. Satu suapan terangkat dari piring, dinikmatinya sembari menerawang. Entah apa yang bergulir dalam pikirannya.

Dari gerbang depan, seorang lelaki lain berjalan tertatih menghampirinya. Sesaat, mereka berpandangan dalam diam. Sebuah pelukan dalam senyap, rangkulan pelepas rindu, meluruhkan rasa. Sesaat yang mengharukan, yang mengungkap berjuta rasa dan kenangan yang lama tersimpan dalam memori. Lima puluh tahun lalu, saat emosi jiwa masih meletup-letup, bersama mereka mengisi hari dengan semangat merangkai cita.

guru sma kristen rantepao

Mereka yang banyak berjasa membentuk diri

Dua lelaki di jelang senja, yang pernah melewatkan masa muda bersama, kembali bersua pada sebuah pertemuan di tempat mereka pernah merenda asa. Sesaat. Ya, sesaat yang membuat sudut mata memanas menyaksikan pemandangan tak biasa dari kisi-kisi jendela ruang kelas yang pada satu masa, di dalamnya kita pernah berbagi rasa. Ketika soal-soal ujian diperhadapkan di depan mata, dan kita hanya bisa memandangnya dengan beragam rasa karena semalam tak sempat membaca ulang pelajaran yang catatannya entah hilang kemana.

Di ruang yang sama, dua hari sebelumnya ketika senja menjelang, seorang lelaki lain yang tetap bugar di jelang senjanya, dengan mata berbinar berbagi kenangan masa kala diperhadapkan pada kenyataan: PENDIDIKAN yang didamba samar di depan mata. Bagaimana hendak melanjutkan cita bila sekolah yang ada tak menerima diri untuk melanjutkan pendidikan?

Satu kenyataan yang menggerakkan hati yang terpanggil untuk membuka ruang kelas meski harus menumpang pada sebuah gedung pertemuan. Di belakang asrama dimana kenangan perjalanan masa banyak terserap pada dinding-dinding bisunya yang telah habis dihancurkan paksa oleh ego dan arogansi, menyisakan tiang beton yang bisu tak tahu hendak berbuat apa. Jangan sedih, meski pedih diam-diam merambat di hati melihat kenyataan di depan mata. Bersyukurlah karena kenangan itu akan tetap tersimpan dalam album kenangan yang tak akan pernah usang, simpanlah yang menyejukkan jiwa di dalam hatimu yang lapang.

Hingga satu masa engkau kan dapat menjawab setiap tanya yang mengemuka: Apa yang akan kamu lakukan bila waktu mengijinkanmu melangkah kembali ke satu tempat dimana kenangan pernah dirangkai, ribuan mimpi pernah disemai, dan janji-janji surga ditabur? Akankah debaran itu masih ada? Ataukah tumpukan kecewa yang kan kau bawa tuk bersua dengan sahabat lama, dengan dia yang pernah pernah lekat di hati, atau dengannya yang pernah menorehkan luka di hati?

Akankah buroncong yang pernah kita bagi bersama sebagai menu makan pagi sebelum berangkat ke sekolah masih kita jumpai setelah melewati masa? Akankah deppa kakau, masih merekatkan tepung-tepung kenangan dalam manisnya rasa yang akan selalu dikenang bersama?

reuni_sma02

Jumpa idola, duo penggemar kata yang senang memainkan rasa🙂

Ketika usia tak membatasi kita untuk melangkah bersama ke tempat ini, yang membuat kita sejenak lupa diri bahwa di antara kita pun sebagian mulai menapak ke masa senja. Ketika hentakan musik yang pernah meliukkan tubuh pada pertemuan-pertemuan masa muda, ketika jemari tak selentik dulu lagi untuk menari, ketika api semangat yang mempersatukan hati di sini, jarak tak lagi menjadi menjadi pembatas. Yang ada hanya rasa yang lebur dalam derai tawa, dan tetes-tetes air mata bahagia yang ungkapkan rasa betapa pertemuan ini sama kita damba.

terpujilah wahai engkau ibu bapa guru
namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
s’bagai prasasti terima kasihku
tuk pengabdianmu

engkau sebagai pelita dalam kegelapan
engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa

Entah sudah berapa lama kita tak melantunkannya, mungkin pula kita sudah lupa rangkaian kata demi kata yang merangkai syairnya. Namun, semangat dan kesatuan hati yang menggerakkan setiap lidah untuk berujar terima kasih dan berbagi pelukan dengan mereka yang pernah dan akan selalu kita hormati. Mereka yang mungkin pernah kita maki karena lalai pada diri, mereka yang tetap bersetia mendidik meski harus berhadapan dengan jiwa-jiwa muda yang kadang lupa diri. Mereka yang tak bisa kau pungkiri, telah menempamu menjadi seorang yang memiliki arti.

Kedua lelaki di jelang senja itu, kembali diam. Meski tak banyak kata yang terucap, dalam diam rasa itu mengalir lewat senyum dan binar mata yang saling menyapa. Terlalu banyak kenangan yang ingin diungkap, pada pertemuan sesaat yang membuat mereka kehilangan kata.

This slideshow requires JavaScript.

Dalam diam, seorang lelaki di ujung senja mendekat. Tongkat di tangan membantunya melangkah tegak. Meski hasrat ingin berlari, kaki hanya diam tak mampu bergerak. Dan perjumpaan haru itu kembali terurai antara guru dan siswa yang kini bersama menyambut senja memberi kesempatan kepada generasi masa untuk teruskan langkah yang telah mereka lewati.

Untuk setiap petuah yang pernah masuk di kuping kiri dan melesat keluar di kuping kanan, untuk setiap canda yang pernah kita tebar bersama, untuk sepatu yang pernah melayang dan kapur tulis yang beterbangan di ruang kelas, untuk setiap proses yang pernah kita jalani bersama; padamu bapak ibu guru kami berterima kasih, saleum [oli3ve].