Tags

, , , , ,


Aku beringsut dari balik selimut di saat sebagian besar penghuni bumi lebih memilih untuk meringkuk di kehangatannya. Saat gelap masih menyelimuti cakrawala dan dingin sedikit menusuk, aku memilih mengantri di depan petugas bandara. Menunjukkan boarding pass, bergegas memanggul Meywah dan Onye mencari tempat bersandar untuk memejamkan mata sebentar saja. Namun, sebentar menjadi sangat langka.

Di ruang keberangkatan, obrolan tentang perjalanan tak dapat ditampik mengisi waktu penantian terbang saat bersua dengan Vera, teman berjalan. Ya, stasiun bus/kereta, terminal keberangkatan/kedatangan, dan destinasi yang dilalui adalah tempat para pejalan dipertemukan. Pertemuan di tangga toilet ruang keberangkatan membuatku sebentar  lupa pada kantukku hingga penantian itu berakhir jua pada pk 05 kurang sedikit ketika pengeras suara memanggil calon penumpang yang akan terbang ke Medan dan Banda Aceh masuk ke pesawat.

perpustakaan ali hasjmy, ali hasjmy, perpustakaan banda aceh, zentgraaff, sejarah aceh

Menyelami Aceh di Perpustakaan dan Museum Ali Hasjmy, Banda Aceh

Duduk di sebelah jendela, membuatku leluasa untuk menikmati pergantian hari dan cuaca di sepanjang perjalanan. Di sebelahku, dua perempuan muda yang juga hendak pulang ke Aceh. Dari menguping pembicaraan mereka, sepertinya ini perjalanan pertama mereka ke kampung halaman. Mereka saling bertanya apa yang hendak dilakukan jika sampai di Medan, akankah turun dari pesawat atau bagaimana? Kubiarkan saja mereka berbincang dalam bingung hingga seorang pramugari menghampiri. Aku hanya ingin bersendiri menikmati perjalanan ini. Pulang ke Nanggroe, ke tempat asa pernah disemai bersama, menjumpai IBU yang telah menunggu.

Ngapain ke Nanggroe?”

Pertanyaan itu tak pernah usai kau, dirinya dan mereka dengungkan. Saat engkau ingin menghapus semua jejak yang pernah ada, gairah itu bangkit menantangku untuk bergulat dengan egoku. Aku harus pulang, meski tak semua orang dapat mengerti dan mau memahami pilihan itu. Menepi sejenak dari hiruk-pikuk kota, pergi tanpa perlu banyak yang tahu hendak kemana. Cukup DIA yang tahu, aku tak dibiarkanNYA berjalan sendiri.

Perjalanan tak melulu tanpa kendala meski langkah terayun tiada kendali. Selalu ada cara bagiNYA membuat langkah berhenti sejenak agar irama berjalan selaras dengan ayunan tali kendali dalam genggamanNYA. Jika engkau tak mau dituntun, bebaskan saja dirimu dariNYA dan berjalanlah sendiri menuju asamu. DIA tak kan menahanmu karena DIA menjunjung hak kebebasan tak mengikat. BagiNYA, hidupmu itu pilihanmu.

Pagiku disapa kabut asap yang menunda pendaratan di Kualanamu, Medan. Empat puluh lima menit kami berputar di udara menikmati cakrawala yang dipoles bedak kabut, putih pucat seperti muka tak dialiri darah sebelum menjejak bumi. Beku dan dingin. Kututup Manuskrip yang Ditemukan di Accra, yang menemaniku terbang, menyimpannya ke dalam saku Onye dan beranjak dari bangku mengikuti langkah mereka yang mengantri keluar dari badan pesawat. Tak perlu menunggu lama untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan yang diimpikan. Kakiku yang baru menjejak di tanah, kembali diajak bergegas oleh teriakan petugas bandara yang mengarahkan langkah menuju jalur transit tanpa sempat menikmati anggunnya ruang terminal bandara Kualanamu.

manuskrip yang ditemukan di accra. quote paulo coelho

Manuskrip yang Ditemukan di Accra, menemani perjalanan kontemplasi ke Nanggroe

Penerbangan Kualanamu – Banda Aceh sangat mulus, langit cukup ceria memaparkan birunya. Kk Linda menyambutku di pintu kedatangan Sultan Iskandar Muda (SIM). Raut mukanya tak banyak berubah, hanya sedikit lebih gelap dan berkerut dari pertemuan dua tahun lalu. Senyum lebar tak bisa kutolak saat seorang kerabat kk Linda menghentikan langkah kami ke pelataran parkir,”ini anaknya ya kk?” Ho ho ho .. berasa anak kuliah pulang ke rumah. Obrolan itu berlanjut dalam bahasa Aceh yang hanya bisa kutebak-tebak arahnya, berbagi kabar.

Berita terkini seputar Nanggroe diceritakan kk Linda dalam perjalanan dari Blang Bintang menuju rumah alm. Prof. Ali Hasjmy, tempat yang menjadi tujuan utama pagi itu. Menyusuri Blang Panyang, sebuah bangunan besar dengan tiang-tiang kekar di Lampeunerut mengalihkan pembicaraan. Ouwh, rupanya inilah Meuligo Wali Nanggroe yang dibangun sejak 2013 dengan dana 35 milyar, dan menuai banyak kritik dari aneuk negeri. Melewatinya seperti melihat gedung balaikota di Jakarta saja. Yang membedakan, kiri kanannya masih ada sepetak dua petak sawah bukti dia berdiri di luar Jakarta.

Bang Azhar membebaskanku untuk menikmati rumah keluarga Hasjmy yang telah dijadikan perpustakaan dan museum. Semua koleksi buku ditempatkan dalam lemari yang saling memunggungi dan berhadapan di ruang depan dan tengah yang terbuka. Tiga ruang lainnya diisi dengan koleksi foto, lukisan, manuskrip dan benda-benda berharga milik sang profesor. Kubuka lebar-lebar daun lemari yang berisi buku-buku dalam kelompok Adat Budaya Aceh, dan meraih buku bersampul merah yang menarik perhatian. Aceh karya H.C. Zentgraaff sangat menggoda untuk diselami. Tuturannya yang tak terelakkan mengajakku mengatur janji dengan bang Azhar agar diijinkan kembali esok pagi meski perpustakaan tutup di akhir pekan. Wassalamu’alaikum, nazarku dikabulkan olehNYA. Selalu ada jalan ketika niatmu tulus untuk melangkah.

Kamu tahu apa yang menarik dari buku Aceh (judul aslinya Atjeh) itu? Ia menguak memori pada manuskrip yang kubuka di ruang arkip Tun Sri Lanang, Bangi, Malaysia, penghujung 2013 lalu. Adakah mereka saling menjalin masa?

universiti kebangsaan malaysia, arsip aceh, manuskri aceh di malaysia, perpustakaan malaysia

Ruang Arkib Perpustakaan Tun Sri Lanang, Universiti Kebangsaan Malaysia

Tun Sri Lanang diangkat sebagai uleebalang (raja) pertama Samalanga oleh Sultan Iskandar Muda atas desakan Putroe Phang. Samalanga mengingatkanku pada syair Samalanga yang dirangkai sebagai penyemangat oleh pendeta Izaak Thenu pada 1901 untuk para serdadu bumiputera (marsose) yang melakukan serangan ke Samalanga, Aceh Utara.

Aku merenungkannya saat menyepi di Bukit Malahayati jelang senja. Saat raguku tersampaikan di depan IBU yang seperti biasa dengan sabar mendengarkan semua keluh kesah. Meski mata tajamnya tak dapat menyembunyikan asa yang terus terpancar pada masa, menelisik ke dalam hati; senyum penuh kasih tak lepas dari bibirnya. Kulihat IBU tak meragu pada panggilannya menerabas masa, akan lahirnya generasi yang kan teruskan rangkaian asa. Di saat yang sama, aku meragu pada langkahku sendiri, pada harap yang membubung tinggi dan jalan berliku yang harus ditempuh. Haruskah kuhentikan langkah bila perlahan semua rahasia alam ini tersibak di depan mata? Semakin penuh kepala ini dibuatnya, semakin sulit menghindari panggilannya.

Kalah dalam pertempuran, atau kehilangan semua yang kita anggap milik kita, akan membawa kita pada saat-saat penuh kesedihan; namun setelah semua itu berlalu, akan kita temukan kekuatan tersembunyi dalam diri kita masing-masing; ketangguhan yang mengejutkan dan membuat kita lebih menghargai diri sendiri – [Paulo Coelho]

asa untuk nanggroe, harapan untuk nanggroe, monumen tsunami aceh

Asaku tak kan pernah padam, padamu Nanggroe

Tak ada yang terjadi secara kebetulan jika semua sudah digariskan untuk dilalui. Raguku menggamang saat kujumpai nama Izaak Thenu di Peutjoet, beberapa jam sebelum beranjak ke SIM. Pula kutemui jejak Laksamana Pasha Khiszir Reis di pelataran Ma’had Baitul Maqdis di Gampong Bitai. Kamu tahu siapa dia kan?

Ratusan tahun nyawaku berkelana, berjalan melewati abad titian masa, mencari jiwa putih dan hati bersih. Untuk menguak kembali bahwa aku pernah ada. Bersama angin menembus batas ruang dan waktu – [Perempuan Keumala, 346]

Langkah telah diayun. Perjalanan ini kembali pada akarnya, sebuah kontemplasi untuk kembali memupuk asa. Semoga kelak di satu masa ketika hati kita telah berdamai dengan dirinya; di ujung jalan yang kini sama kita tempuh berlawanan arah; kita kan bersua untuk satukan rasa, saleum [oli3ve].

Sedikit catatan penting:

  • Pendeta Izaak Thenu adalah pendeta pasukan Belanda di Aceh, meninggal di Kutaraja pada 10 Mei 1937. Syair Samalanga, disimpan di Museum KNIL Bronbeek Arnhem.
  • Tun Sri Lanang, dikenal sebagai pujangga Melayu; namanya diabadikan sebagai nama jalan, gedung sekolah, perpustakaan di Malaysia serta penghargaan di bidang sastra di Singapura. Keturunan Tun Sri Lanang tesebar di Indonesia dan Malaysia (Johor, Pahang, Terengganu).