Tags

, ,


Beberapa hari yang lalu, langkah saya ditahan oleh seorang kawan di depan pintu lift. Dia mengatakan ada hal maha penting yang ingin dirinya sampaikan. Sebelum saya bergegas pergi, dia membuat pengakuan yang membuat tawa saya pecah.

Lip, horor banget nih. Bulan lalu gw ketemuan teman SMA yang tak pernah bersua sejak kami lulus. Dua kali bersua, kita jadian. Sekarang gw pusing, dia minta kawin.”

Melihatnya tak henti menggaruk kepalanya yang saya yakin tidak gatal serta menarik-narik ujung rambutnya, saya berhenti tertawa, dan membalas tanyanya. “Suka, ambil bro, kalo nggak, jangan digantung lama-lama.” Dia memutar badan dengan muka linglung, sepertinya tambah bingung.

Pengertian dan wujud horor bagi setiap orang itu berbeda. Apa yang dialami kawan ini belum tentu horor buat orang lain, terlebih sang pacar yang (tak sengaja) melancarkan teror tanpa menyadari bahwa itu horor.

gereja katolik pulau galang, kamp pengungsi pulau galang

Namanya pak Filipus, saya menemuinya berbincang sendiri di depan Immaculate Conception Mary Church, Pulau Galang. Seseorang menemaninya berbincang siang itu πŸ˜‰

Kuping saya sudah terbiasa dihinggapi tanya penasaran seputar kehororan acap kali berkenalan dan bersua dengan orang yang baru mendapat bocoran kesenangan saya menyusuri jejak sunyi. Pernah nggak sih bertemu yang HOROR?

Pernah, tapi dulu waktu masih SMP, mata saya terpesona pada kuntilanak membuat kaki terpaku ke dalam lumpur susah diajak berjalan. Pada waktu itu, bersama setengah dari teman sekelas disertai beberapa orang guru, kami melayat ke rumah bapak wali kelas yang nun di balik bukit. Sebelum berangkat, ayah saya yang tahu wilayah tersebut mewanti-wanti untuk turun gunung sebelum matahari tenggelam.

Saat itu musim hujan. Untuk mencapai rumah duka, setengah perjalanan dilalui dengan kendaraan, sisanya trekking melalui pematang sawah dan hutan bambu yang berdiri rapat-rapat. Kami terperangkap di sana karena hujan yang tiada henti berlarian di kampung itu. Pk 19.00 kami baru pamit, berjalan dalam rombongan besar lalu terpencar menjadi kelompok kecil karena jalur trekking yang dilalui membuat beberapa kaki kepayahan melangkah. Ada yang berjalan jauuuuh di depan, ada yang tertinggal di belakang. Saya termasuk dalam kelompok yang berjalan di depan, tiga laki-laki yang tiada henti bersenda gurau, empat perempuan yang berusaha mengimbangi langkah mereka ditutup oleh pak Ben, guru olah raga.

Tak satu pun dari kami yang membawa alat penerang, nekat menyusuri hutan bambu yang pekat dengan mengandalkan insting, mengikuti jalan tanah yang gembur. Pada sebuah persimpangan di tengah rapatnya bambu-bamu itu berdiri, di belakang ada tambahan satu anggota rombongan. Dia memperkenalkan dirinya lewat tawa nyaring menyela obrolan seru kami. Karena kuping saya terlalu sensitif terhadap bunyi-bunyian tak biasa yang terkadang muncul dengan tiba-tiba, saya yang pertama menyadari kehadirannya bertanya kepada pak Ben, siapa yang menyusulnya di belakang? Bukannya menjawab, dengan suara bergetar kami disuruh, “Jalan cepat-cepat, jangan toleh ke belakang!

Selepas persimpangan, kami memilih jalan yang menurun tapi anggota baru tersebut berhenti dan tawanya yang semula renyah lambat laun melengking kehilangan nada dasar. Penasaran, saya balik badan tepat saat tangannya terangkat dan mulai melambai-lambai sambil terus melantunkan lagu dengan lirik yang itu-itu saja … Iiihiiihiiiihiiiii … iihiiiihiiii … hiiiii.

Paaaaaak! Itu siapaaaaaaa?”
Nggak ada siapa-siapa. Jalan! jangan berhenti, cepaaaat!”

Kaki saya terpaku di dalam lumpur, tak bisa bergerak dengan mulut melongo terus memandangi perempuan berbaju putih yang berdiri beberapa langkah di belakang pak Ben. Gelapnya hutan membuat wajahnya tak terlihat dengan jelas.

Pak, ada yang menyusul di belakang.”

Pak Ben akhirnya ikut menoleh ke perempuan yang masih terus melambai-lambai di belakangnya dan spontan bertanya, “Siapa situuuuu?

Iiihiiihiiiihiiiii … iihiiiihiiii … hiiiii

Liipppp, buruaaaaan!” teman saya memanggil tapi kaki saya sangat susah dilangkahkan, terhalang rok span. Saya masih berusaha memutar badan saat kedua lengan saya disentak, ditarik oleh dua orang kawan membuat tubuh ringan saya terangkat, digeret paksa lalu buuukkkkkzzz, jatuh terjerembab ke tanah, kehilangan keseimbangan karena licin. Setengah badan saya sudah penuh lumpur, dari kaki kaku, tangan gemetaran hingga suara bergetar tapi kami malah terbahak merasa lucu sendiri. Teman saya tak kehabisan akal, mereka dua perempuan di kelas yang cukup berotot. Tangan saya ditarik, diajak berlari menuruni jalan becek membuat kaki dua kali terpeleset dan meluncur di jalan berlumpur. Hari itu saya yang kecentilan, bersumpah tak lagi-lagi mengenakan rok denim selutut yang membuat ruang gerak kaki menyempit.

Antara lelah, badan gemetar menahan dingin (dan takut) serta takjub dengan kejadian yang baru ditemui, mulut saya nggak henti-hentinya tertawa mengimbangi lengkingan perempuan berbaju putih yang masih saja terdengar tapi wujudnya menghilang dari pandangan.

Di depan rumah pertama yang kami jumpai, kami berhenti sebentar, mengumpulkan tenaga yang habis dipacu. Seorang perempuan menyembul dari balik pintu, rambutnya kusut seperti baru bangun tidur, suaranya pelan berbisik.

Sudah malam dek, jangan berisik. Kalau berjumpa seseorang atau melihat sesuatu di depan, jangan teriak-teriak, diamkan saja dan jalan terus.”

Perempuan itu buru-buru menutup pintu rumahnya, mungkin dia sudah memindai pikiran saya dan mengetahui niat yang baru terlintas untuk menumpang membersihkan badan.

cerita horor kembang kuning, erveld kembang kuning

Bocah-bocah ini ‘ngerjain saya di Kembang Kuning. membuat mata berair lalu macam orang kesurupan mencari tempat peristirahatan Papa Mamanya

Cukup sekali mengalami dan terpesona dengan pemandangan tadi. Kesenangan menyusuri jejak sunyi melatih rasa untuk lebih peka terhadap dunia mereka. Di setiap tempat perhentian yang dikunjungi, mereka yang tak terlihat di sana, suka sekali bercanda. Kamera saya dua kali jadi korban. Saat hendak membidik ke satu titik, selalu gagal fokus lalu mati tapi saat mencoba ke titik yang lain, kamera berfungsi dengan baik. Bukan masalah teknis, tapi ada seseorang atau lebih yang tak ingin wajahnya terekspos hingga ke dunia maya karena dunia mereka adalah maya. Kejadian pertama di pucuk Benteng Amsterdam, Hila, Maluku Tengah; yang kedua di toilet vintage sebuah hotel di Surabaya.

Masih di Surabaya, bulan Juni lalu ketika sedang mengerjakan proyek (kuburan) di Kembang Kuning, saya dikerjain oleh lima bocah. Saat bersiap untuk pulang, kaki saya tak bisa dihentikan melangkah ke blok yang dikhususkan bagi anak-anak. Entah apa yang terjadi, yang saya tahu emosi saya nggak karuan dan hanya bisa mengusap air yang menderas di pipi di depan salib-salib kecil yang tegak di depan saya. Matahari lagi garang-garangnya, dan mereka menahan saya berjemur kehausan. Karena penasaran, saya berlari ke kantor mencari data mereka dan tersadar, mereka ketakutan karena jauh dari Papa-Mamanya. Ternyata, kedua orang tua mereka ditempatkan di blok yang terpisah jauh dari anak-anaknya.

Bila mengingat rekam jejak perjalanan, sebenarnya yang lebih sering dikerjain adalah yang menemani berjalan. Kawan saya di Aceh disambut orang-orang berbaju hitam saat saya mengajaknya berkunjung ke satu tempat. Dia merasakan ada hawa panas yang mengaliri setengah badannya, sementara di saat yang bersamaan hati saya adem, damai dan tenang berada tempat itu.

Belajar dari pengalaman, setiap kali bertandang ke satu tempat baru yang asing, jangan lupa untuk meminta ijin. Ingat pepatah; dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Disadari atau tidak, mereka ada walau kadang tak mewujud, saleum [oli3ve].

*****

Tulisan ini adalah bagian dari #PosbarHOROR Travel Bloggers Indonesia setelah seru-seruan berbagi kehororan di grup WA. Penasaran dengan horor yang lain? Baca juga kisah mereka ya:

Advertisements