Tags

, , , ,


+ Bapak ingin ditemani keliling pulau besok pagi, Nduk
Lhaaa ‘nggak bisa mbak, kami mau main sendiri saja.
+ Tapi ini permintaan khusus dari Bapak, Nduk. Kalian harus ikut
Ya embaaaaak, itu bukan permintaan tapi titah. Lagi pula, kami sudah tak ada baju ganti buat besok
+ Yo wis, besok dicarikan baju ganti tapi temani Bapak ya, Nduk
– Uwaaaat?

Bapak lagi, bapak lagi … kenapa selalu bawa-bawa nama bapak sih? Memangnya bapak nggak bisa pergi sendiri dengan teman-temannya?

tanjung berakit, bintan resort, wisata bintan

Numpang pipis di Tanjung Berakit😉

Aku jadi ingat almarhum kakek. Kakek dan nenek tinggal di lain kota, 3 jam perjalanan dengan kendaraan umum jika tak ada jalan yang longsor. Kalau musim penghujan dan bukit-bukit yang akar pohonnya dibabat ngambek, tanah bercampur lumpur akan tumpah di jalan poros yang menghubungkan kota tempat tinggal kami ke kota kakek. Aku pernah merasakan duduk berjam-jam hingga pantatku pegal untuk sampai ke rumah kakek. Meski capek, hatiku senang dan menikmati ketika kami berhenti beristirahat di tengah jalan yang sepi, membuka bekal air panas dan menyeduh teh ditemani rembulan dan bintang-bintang.

Setiap bulan, di jelang tanggal penerimaan uang pensiun, kakek pasti muncul di rumah. Aku senang sekali menguntitnya kemana pun dia pergi. Tak dipaksa. Tak pula harus ikut bila ajakan bermain kawan-kawan sepermainanku lebih menggiurkan.

Kenapa harus menyudahi malam dengan perbincangan seperti ini? Pejalan macam manalah aku ini, diajak jalan-jalan malah mencari-cari alasan yang tak masuk akal agar tak usah ikut. Sejak kapan baju dijadikan alasan agar terbebas dari pengawasan?

kuburan anjing, kuburan di bintan resort

Doa untuk dia yang setia menemani berjalan

Tak ingin berbantah lebih panjang, kami harus luluh meski ada sisa mangkel yang diam-diam merayap di sudut hati. Mungkin bapak memang ingin ditemani berjalan, meski keinginan itu tak kudengar terucap dari bibirnya. Namun sorak kegirangan memancar di sudut matanya melihat kami muncul dengan langkah gontai di depannya pagi ini.

Kendaraan kami beriringan meninggalkan pusat kota Batam menuju Telaga Punggur. Dari sana, kami akan menumpang Bintan Resort Ferries untuk menyeberang ke Bandar Bentar Telani (BBT), Bintan. Enak toh, tinggal duduk manis koq manyun, Nduk?

Semua orang tampak terburu-buru. Saat feri bersandar di BBT, aku pun buru-buru mengganti baju dengan kaos dari si mbak lalu tergesa mengejar mereka yang sudah duduk manis di dalam bus jemputan. Cepat sekali mereka berjalan. Tak ada waktu untuk menikmati BBT, bahkan niat mampir sekejap ke toilet pun terpaksa kuurungkan. Keputusan yang kusesalkan, karena setelahnya aku tak menemukan toilet yang memadai untuk menuntaskan hasrat ke belakang. Tak pula leluasa menikmati sajian buah segar dan minuman yang disediakan di dalam bus karena harus mengatur ketahanan tanki penampungan agar tak bocor halus di tengah perjalanan.

kuburan anjing, mummi anjing

Pixi atau Max?

Kami hanya bisa menikmati godaan pasir putih yang melambai-lambai dari bibir pantai, melirik kerlingan manja dedaunan yang menari di kiri kanan jalan mulus yang kami lalui. Desiran bayu pun hanya sayup terdengar. Ingin bercengkerama dengan mereka, menikmati alam tanpa diburu-buru seperti orang kebelet, yang tak sabar menunggu antrian panjang di depan toilet darurat di Tanjung Berakit.

Bapak tak banyak bicara. Dia lebih asik dengan teman-temannya. Hanya sesekali melemparkan senyum, ketika melihat kami sepertinya menikmati perjalanan. Baru saja hendak berjalan ke pantai setelah mengantri di toilet, kami sudah diajak pulang. Ah, mungkin bapak lelah, sehingga  tak mau piknik di pantai. Atau … terlalu banyak yang dipikirkannya.

Ayo cepat, kita mau ke spa. Teriak abang-abang yang menjadi kepala regu di dalam bus kami. Semoga pilihan kali ini lebih menyenangkan, bukankah treatment spa dapat menenangkan pikiran? Kami sampai di pelataran sebuah resort yang dikelilingi pepohonan. Back to nature, pemandangan sehari-hari di kota yang dipagari beton terkadang memuakkan sehingga perlu juga relaksasi di balik rimbun pepohonan.

Ketika semua orang bergegas melongok tempat spa, aku berlambat-lambat turun dari bus. Mengambil jalan pintas menerabas tanaman perdu memasuki taman kecil yang tampak seperti hutan mini, di balik jalan setapak yang seharusnya dilalui. Di sana aku menemui mereka, ‘nyaris kuinjak tempat bermainnya. Ouuccch, maaf.

kuburan anjing, kuburan di bintan, wisata bintan

Max atau Pixy?

Dua buah gundukan disemen, dengan hiasan kerang sebagai penanda. Tak ada nama yang terpatri di sana. Hanya gambar si empunya tempat peristirahatan dalam pigura bening dan sisa hio yang ditancapkan di depannya. Aku masih asik menikmati sepi di sana, ketika langkah bergegas kembali terdengar dari balik hutan mini.

Go ask Marc, he may know who are they. Seru kakek bule yang mengintip keriuhan di luar, dari celah-celah daun. Ia diam-diam berdiri di belakangku.
Who is Marc?
The owner, the man on the yellow tshirt.

Setelah mengucapkan terima kasih, aku berlari menghampiri lelaki yang menjulang di samping mobil bapak. Cepet toh mbak, mobil bapak mau jalan. Abang-abang itu koq maunya buru-buru aja? Dia memelototiku dari pintu bus yang terbuka. Aku tak peduli, aku malah sengaja berdiri di depan Marc, menghalangi agar mobil bapak tak bisa keluar hehehe. Terkadang kamu harus sedikit bandel agar mereka tahu kamu punya kemauan.

Pixy and Max. Mereka menemani selama bertahun di sini, mereka layak diberi tempat beristirahat yang nyaman, di bawah pohon tempat mereka biasa bermain. Penjelasan singkat dari Marc Thalmann, pemilik resort, membuatku terus melebarkan senyum menyambut tatapan sinis abang-abang saat melangkah ke dalam bus.

Aku teringat pada Boomer yang selalu girang bermain denganku. Berulang kali kuingatkan hanya boleh galak pada maling, tak boleh usil sama tetangga. Namun terus saja isengnya muncul setiap kali ada yang melintas di depan rumah. Dia akan berlari mengendus bokong siapa pun yang lewat. Daya endusnya sangat tajam, dirinya tahu saat aku baru turun dari angkutan umum di ujung blok A, komplek tempat kami tinggal.

Kata Andi tetangga sebelah tembok, dia tak akan sabar menanti aku muncul di perempatan jalan. Ekornya terus dikibas-kibaskan dan berdendang dengan berisik. Saat dilihatnya bayangan langkahku muncul, dia berlari dan melompat menyambutku sembari melaporkan semua yang telah dilakukannya selama ditinggal pergi. Boomer tak memiliki tempat beristirahat, tak ada upacara sederhana untuk melepas kepergiannya. Dia mati ditoki tetangga, yang iri melihat senyum riangnya, saleum [oli3ve].