Tags

, , , , , , ,


Apa yang akan kamu lakukan bila ketahuan menerabas pekarangan rumah seseorang? Pura-pura tidak tahu lalu putar badan dan menjauh ataukah menghampiri penjaga rumahnya?

dum spiro spero, lambang serawak, motto brooke

dum spiro spero

Semalam tidurku tak lelap. Pikiranku masih diliputi tanya pada penjelasan yang mengambang dari penjaga taman kota di samping hotel yang kudatangi kemarin pagi. Bagaimana mungkin mereka mengatakan tak ada jejak di pekarangan itu sementara sudah jelas terlihat beberapa patoknya menyembul di atas permukaan tanah? Dua kali sehari kupandangi patok-patok itu dari kejauhan, pagi saat bangun tidur dan malam kala kami kembali ke kamar untuk beristirahat setelah seharian bermain di luar. Mereka seakan melambai setiap kali kupandangi dari jendela kamar 1607 Merdeka Palace yang berhadapan langsung dengan taman kota.

Putar kiri, putar kanan, mau online wifi tak bisa karena akses dibatasi sedang kartu yang kudapatkan di Plaza Merdeka sangat lamban, bahkan nyaris tak berfungsi. Maka, Sarawak Long Ago yang kutemukan di kedai cinderamata di Kampung Budaya Serawak pun jadi korban. Dibolak-balik tak tentu hingga beberapa lembar di belakang terlepas karena usia meski tak dikoyak dengan kasar.

fort margherita, benteng di kuching, james brooke

Fort Margherita, Kuching

fort margherita

Sisi lain Fort Margherita

Aku terjaga hingga suntuk yang membuatku lelap. Hanya 3 (tiga) jam, karena alarm dari handphone menjerit-jerit memekakkan telinga sehingga harus didiamkan agar tak merisaukan tetangga di kamar sebelah. Hari ketiga di kota ini, sebelum yang lain terjaga dari mimpinya, aku mengendap-endap membasuh badan dan kembali mengayun langkah ke taman kota. Tak perlu mengulang menyusuri seisi taman itu, karena di depan pelatarannya kutemukan jawaban atas tanya yang membuat tidurku gelisah. Sebuah penanda taman dengan tulisan yang sudah kusam hingga nyaris tak terbaca, Museum Garden. Di sana samar terbaca bahwa taman seluas 5,91 hektar itu sebelum beralih fungsi menjadi taman kota adalah taman pemakaman Cina tertua di Kuching. Bingo!

Puas? Belum, karena yang kucari bukan itu.
Lalu, apa lagi sih yang kamu cari?

brooke memorial kuching, heritage kuching, charles brooke serawak

Charles Brooke Memorial dibangun pada 1924 di depan Old Courthouse, Kuching

Di malam saat memasuki kota ini menumpang taksi dari bandara, mataku sudah curiga dengan petunjuk jalan yang berbau Inggris. Jl McDougall, jalan yang ditutup malam itu karena ada petingi yang hadir di keriaan yang berlangsung di Lapangan Merdeka. Karenanya, aku mencoba memindai masa sesaat setelah mendapatkan kunci apartement suite yang kutempati bertiga dengan teman dari Kuala Lumpur senyap.

Menurut potongan sejarah yang aku baca, ada keluarga kulit putih yang turun temurun pernah memerintah di sini. Keluarga Brooke. Logikanya, jika mereka pernah beraktifitas di sini, dan kota ini masih memelihara jejak peninggalan mereka, maka paling tidak ada sesuatu yang bisa kutemukan untuk menepis rasa penasaran itu. Tapi ternyata tak mudah, karena tak semua yang kujumpai memberikan jawab atas tanya yang kusodorkan. Tak mengapa, mungkin memang lebih bergairah bermain kucing-kucingan di Kuching.

brooke dockyard, peninggalan brooke, kuching heritage

Brooke Dockyard dilihat dari sungai Serawak

James Brooke berlabuh di Serawak dan membuang sauh dari The Royalist pada 15 Agustus 1839. Padanya Pangeran Muda Hasyim, orang kepercayaan Sultan Brunei meminta bantuan untuk meredam pemberontakan suku Dayak Iban terhadap kesultanan Brunei. Atas jasanya, Brooke diangkat menjadi gubernur di wilayah Serawak. Tiga tahun kemudian, pada 18 Agustus 1842, Brooke melepaskan diri dari Brunei dan mendirikan Kerajaan Serawak yang baru serta mengumumkan dirinya sebagai Raja. Oleh masyarakat setempat, Brooke lebih dikenal sebagai Rajah Putih Serawak. Untuk pemerintahan baru yang dibentuknya, Brooke melakukan penataan administrasi, penetapan aturan undang-undang dan hukum serta menerapkan kebijakan penghapusan perbudakan dan menghentikan ritual potong kepala yang dilakukan oleh beberapa suku di Serawak.

astana kuching, brooke resdent, sejarah astana serawak

Astana, yang dibangun oleh Brooke; sekarang menjadi kediaman Guberur Serawak

Satu malam di bulan Februari 1857, kediaman Brooke didatangi para perompak, menyulutnya dengan api yang melahap habis seluruh isinya. Brooke berhasil meloloskan diri dari incaran perompak, dia melarikan diri dengan menceburkan diri ke dalam sungai. Pada malam itu, seorang pemuda menjadi korban kegilaan mereka. Henry Nicholetts yang mereka pikir Brooke, dipenggal kepalanya lalu mereka tenteng berkeliling kota. Setelah kematiannya, Brooke yang tidak mempunyai keturunan, menunjuk kemenakannya, Charles Anthony Johnson Brooke sebagai penggantinya.

Pada masa pemerintahan Charles, kediaman Rajah mengalami dua kali kebakaran yang membuat Charles memutuskan untuk membangun istana baru dari bata sebagai pengganti kayu. Alasan lain yang menguatkan pilihan tersebut adalah, dalam masa 3,5 tahun dirinya kehilangan Anne dan anak mereka Francis serta Julia istri keduanya di rumah tersebut sehingga Charles ingin membangun satu harapan baru, sebuah Astana.

makam keluarga brooke, fort margherita

Tempat mereka dikenang, The Brooke Memorial di samping Fort Margherita

Sepeninggal Julia, Charles kembali ke Inggris dan menikah dengan Margaret yang kemudian dikenal sebagai Ranee of Sarawak. Astana menjadi tempat baru untuk mereka tinggali pada 1870. Di sebelahnya Charles membangun sebuah benteng yang diberi nama Fort Margherita. Di antara Astana dan Fort Margherita, sebuah lahan kecil tempat mengenang mereka yang pernah ada, di sana bersemayam orang-orang terkasih yang pernah mengisi hari-hari Charles: Anne dan anaknya Francis, Julia serta 3 (tiga) orang anak Charles dan Ranee yang meninggal semasa balita Ghita, serta si kembar James dan Charles.

Mentari menebar senyum indahnya sebelum menutup hari di sepanjang sungai Serawak. Aku menikmatinya dengan hati riang dari dalam perahu yang mengantarkanku menyisir Kuching, memandang Astana dan Fort Margherita dari jauh. Betapa romantisnya tuan Charles ini, selain Fort Margherita, dirinya juga membangun 2 (dua) benteng yang dipersembahkan untuk istrinya Fort Alice di Simanggang dan Fort Lili di Betong. Nama tersebut diambil dari nama lengkap sang istri, Margaret Alice Lili de Windt.

brooke dockyard, heritage kuching

Karena digembok ngambil gambar Brooke Dockyard yang masih beroperasi sampai hari ini dari luar aja yaa

brooke dockyard, heritage kuching

Tampak dari waterfront seperti ini

Senja semakin merekah. Kuputar pandangan 180 derajat ketika mataku terantuk pada sebentuk jejak yang terpatri di sebuah bangunan di bibir sungai, Brooke Dockyard. Pada penanda yang menempel di pagar bangunan, dijelaskan bahwa drydock ini dibangun pada 1909 semasa pemerintahan Charles Vyner Brooke dan diresmikan oleh Ranee Sylvia pada 1 Juni 1912.

Hari ini Sabtu, 15 Agustus 2015, hari terakhir sebelum bertolak ke Kuala Lumpur, aku kembali berjalan menyusuri waterfront Kuching. Niat hati hendak berkunjung ke Museum Peranakan di ujung jalan Main Bazaar tapi museumnya tutup. Alih-alih kecewa, mataku berbinar mendapati kafe tuan James Brooke tak jauh dari museum. Kupesan semangkok Laksa Serawak dan segelas Lime Juice pada pelayan yang datang berlambat-lambat sehingga membuat perutku mulai menyenandungkan nada-nada tak beraturan.

james brooke, laksa serawak, kuliner kuching

Laksa Serawak, Lime Juice dan Opa James Brooke di James Brooke Cafe

Mencoba bersabar menanti pesanan, aku tersenyum sendiri, teringat pertanyaan yang dilontarkan oleh Shams sesaat setelah kami mendarat dan melangkah keluar ke bandara Kuching malam itu,”Ada kuburan siapa yang mau dicari di sini?” Tanya yang dijawab dengan menggeleng dan senyum tak jelas karena niat ke Serawak hanya untuk plesiran sehingga tak sempat mencari tahu keberadaan kota ini.

Dum Spiro Spero, selama aku masih bernapas, aku berharap!

Lega, saat seteguk Lime Juice mengalir dengan riang menyusuri perjalanannya menghalau dahaga ke dalam saluran cerna sebelum gemulai Laksa Serawak memeriahkan binar rasa yang bergejolak dari ujung-ujung lidah. Di luar sana ada kemeriahan, tapi bukan pesta untuk memperingati 176 tahun kedatanganmu di kota ini. Terima kasih telah mengajakku bermain kucing-kucingan, dan menghembuskan energi yang telah membawaku menyusuri kota masa mudamu. Di usiaku engkau telah memimpin sebuah kerajaan, sedang aku hanya duduk-duduk di sini memandangi lalu lalang mereka yang berkeliaran di sepanjang bibir sungai Serawak. Tak ada yang terjadi secara kebetulan, meski kadang terjadi seperti kebetulan. Satu hari nanti aku kan kembali menyusuri jejakmu di kota ini, saleum [oli3ve].

Referensi: Sarawak Long Ago, W.J. Chater – Second Impression, 1994

Advertisements