Tags

, , , , , ,


Penghargaan apa yang sepatutnya diberikan kepada seseorang yang merelakan nyawanya dicabut paksa demi membela bangsa, profesi dan rekan sejawat di tempatnya berkarya? Yang dengan segala konsekuensi mengambil keputusan berat mengaku bersalah atas kesalahan yang tak dilakukannya, dihilangkan tanpa jejak, meninggalkan kesedihan pada keluarga yang dikasihi.

ereveld ancol, lembaga eijkman

Selamat datang di Ereveld Ancol

Panggilan jiwa membawa langkah kembali ke Ereveld Ancol pertengahan Juni 2015. Ini adalah kunjungan ketiga setelah bertandang ke sini Juli 2006 dan Agustus 2013 lalu. Pada kunjungan terakhir, saya mendapatkan kisah menarik tentang “penemuan” jejak akhir Kepala Lembaga Penelitian Eijkman yang meninggal pada 1945, yang membuat tubuh merinding.

Tujuan saya ke sini bukan untuk mengunjungi peristirahatannya. Ada tugas lain yang sedang dikerjakan. Namun, saat mondar-mandir menyusuri setiap nisan mencari sebuah nama yang berada satu kavling dengannya; namanya mendadak muncul di kepala dan mengalihkan langkah mencari makam beliau.

Yang terekam dalam memori, tempatnya di sayap kanan taman, dan beliau tidak sendirian di dalam liang kubur. Ternyata, saya harus meminta bantuan pak Yanto untuk mengecek daftar penghuni taman kehormatan demi memastikan lokasinya karena namanya ketutupan vas bunga. Prof Dr A.MOCHTAR, nama itu pun tampak jelas setelah bunga kering yang menutupinya dipindahkan. Berada di urutan terakhir dari 10 (sepuluh) nama lain yang berbagi liang dengannya.

Achmad Mochtar, nama yang mungkin sangat asing bagimu (dan masyarakat Indonesia). Kamu tak sendiri, saya pun baru mendengar namanya 2 (dua) tahun lalu. Thanks to mas Dicky yang berbagi kisahnya serta mengawani om BA dan saya seharian itu. Karenanya saya mencoba mengenali sosok yang difitnah dan terlupakan dari jejak perjalanan sejarah bangsa ini. Nama yang dituding sebagai yang bertanggung jawab atas nyawa ratusan manusia yang meninggal di kamp interniran Klender pertengahan 1944.

Djepang dateng ambil kita!

Gerakan ofensif angkatan perang Jepang menghancurkan Pearl Harbour pada 7 Desember 1941, menandai pecahnya Perang Pasifik. Sehari kemudian, Hindia Belanda menyatakan perang terhadap Jepang. Jepang terus bergerak menunjukkan taringnya, melancarkan serangan di sana sini, menunjukkan kekuatannya di kawasan Asia Tenggara. Gertakannya membuat Belanda merayu  Amerika, Australia dan Inggris bersekutu untuk melawan.

tukang kuburan, ereveld ancol, lembaga eijkman

Kegiatan #TukangKuburan di kuburan

Pada minggu terakhir bulan Februari, pesawat-pesawat Jepang menyerang lapangan-lapangan terbang penting di Jawa, antara lain Andir (sekarang Bandara Udara Internasional Husein Sastranegara), Kalijati (sekarang Landasan Udara Suryadarma) dan Cililitan (sekarang Bandara Udara Halim Perdana Kusuma). Pada 27 Februari 1942, angkatan laut sekutu dibawah pimpinan Laksamana Madya Karel Doorman digempur habis-habisan dalam pertempuran di Laut Jawa. Pagi-pagi tanggal 1 Maret 1942, pasukan Jepang mendarat di pulau Jawa.

Ketika Jepang mengambil alih kekuasaan di Indonesia, orang – orang Belanda serta keturunan Belanda dan orang-orang Tionghoa yang anti Jepang dijemput dan dibawa sebagai tawanan perang ke kamp-kamp konsentrasi. Mereka dipekerjakan sebagai tenaga kerja paksa (romusha). Minimnya sanitasi serta kondisi fisik yang menurun karena terus menerus digenjot tanpa didukung pangan yang layak menyebabkan wabah kolera, tipus dan disentri (TCD) merajalela di kamp. Mereka yang daya tahan tubuhnya tidak kuat, meninggal; sebagian lagi yang berhasil melewati masa kritis, bertahan hidup, lolos dari maut.

Antara Juni – Juli 1944, para tawanan di kamp Klender Jakarta tampak sakit. Dari gejala yang tampak, mereka diindikasi terserang kolera. Jepang pun memutuskan untuk memberikan vaksin TCD kepada para tawanan itu. Vaksin tersebut dibawa dari Lembaga Pasteur, Bandung yang kala itu sudah dikuasai dan dikelolah oleh militer Jepang. Bukannya berangsur pulih, beberapa hari setelah divaksin, ratusan tawanan di kamp Klender meninggal.

ereveld ancol, killing field indonesia, lembaga eijkman

Pohon ini saksi bisu pembantaian yang dilakukan Jepang terhadap para tawanan perang di Ancol

Melihat kejadian ini, Jepang meminta Lembaga Eijkman untuk melakukan penelitian terhadap jaringan tubuh korban. Hasilnya sungguh mengejutkan karena para peneliti menemukan bahwa vaksin TCD yang telah diberikan kepada para tawanan mengandung basil tetanus. Tidak menerima hasil penemuan tersebut, pada Oktober 1944, para peneliti di Lembaga Eijkman berikut tenaga medis yang melakukan vaksinasi ditangkap dengan tuduhan sabotase. Mereka disekap, dipukuli, dibakar, dan disiksa hingga beberapa di antaranya meninggal.

Demi menyelamatkan hidup para peneliti di lembaga yang dipimpinnya, Achmad Mochtar rela memberikan pernyataan sebagai yang bertanggung jawab atas tuduhan sabotase yang ditudingkan pada lembaganya. Januari 1945, para peneliti dan tenaga medis yang masih hidup, dibebaskan namun Achmad Mochtar tetap ditahan. Pada 3 Juli 1945, kepalanya dipancung, jasadnya digilas dengan tank, sisa-sisa tubuhnya dibuang ke dalam liang kuburan massal di Ancol.

Achmad Mochtar lahir di Sumatera Barat pada 1892 (pada nisannya tertulis 1890), menyelesaikan pendidikan kedokteran di STOVIA pada 1916 kemudian melanjutkan pendidikan doktor di Universitas Amsterdam. Pada 1937, sekembali ke Indonesia, dirinya bergabung dengan The Central Medical Laboratory (kemudian menjadi Lembaga Eijkman). Di masa pendudukan Jepang, dirinya diangkat sebagai kepala Lembaga Eijkman sekaligus menjadikannya orang Indonesia pertama yang memegang jabatan tersebut. Di Bukit Tinggi, namanya diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah Achmad Mochtar.

achmad mochtar, lembaga eijkman, direktur lembaga eijkman

Makam Prof Dr Achmad Mochtar di Ereveld Ancol

Pada 2010, 65 (enam puluh lima) tahun setelah kematiannya, berdasarkan data Dokumentasi Perang yang tersimpan di arsip Belanda; jejaknya baru ditemukan. Di taman kehormatan inilah jasadnya ditanamkan, bersama mereka yang namanya (mungkin) tak pernah disebut di dalam catatan sejarah perjalanan bangsa ini.

Hari ini, 70 (tujuh puluh) tahun setelah kepergiannya yang mengenaskan, dan dengan melihat segala yang telah dikerjakannya; sudah sepatutnya Prof Dr Achmad Mochtar mendapat tanda jasa sebagai Bapak Sains Indonesia. Saleum [oli3ve].

Bahan bacaan:

Dipublikasikan juga dan Headline di Kompasiana, Selasa, 21 Juli 2015.

Advertisements