Tags

, , , , ,


… Merdeka Square pagi itu …

Seorang lelaki tuna wisma masih terbuai mimpinya ketika kaki melintas di depan bangku taman tempatnya lelap, di sisi lapangan berumput hijau. Tak terganggu cekikikan perempuan yang tampak saling memotret di seberang Gedung Abdul Samad. Kaki terus  kuayun hingga ke depan Kuala Lumpur City Gallery, dimana sekelompok pelancong sedang berkerumun, mengantri untuk bergambar di ikon I Love Kuala Lumpur.

merdeka square, dataran merdeka, kuala lumpur

Dataran Merdeka di minggu pagi

Senyumku mengembang, teringat senyummu saat bergambar di tempat itu beberapa waktu yang lalu. Apa kabar dirimu? Aku merindu kebersamaan itu, menikmati secangkir kopi hitam pengusir dingin selepas hujan menyirami bumi, sebelum kaki diayun menikmati kota ini. Adakah engkau juga memiliki rindu yang sama? Rindu berjalan bersama, bercanda dan berbagi tawa, menertawakan kebodohan dan ketololan diri, membangun mimpi dan terus saja meminta berkatNYA, berpura-pura tak paham hingga mencoba berkompromi dengan laranganNYA?  Aaah, rasaku semakin nelangsa.

Masih 15 menit sebelum pintu galeri dibuka sesuai jadwal yang menempel di pintu kaca itu. Kutanya lelaki muda yang melangkah ke dalam galeri apakah aku boleh turut melangkah masuk? Ia tak menggubris pintaku, ditunjuknya penanda waktu;  OPEN DAILY 9.00am – 6.30pm. Aku juga tahu arti kata itu, yang kutanyakan adalah pengecualian!

KL City Gallery, Victoria Fountain, Merdeka Square

Gambar Victoria Fountain di KL City Gallery

Kugeret langkah kembali ke Merdeka Square, duduk di bangku taman di depan Victoria Fountain, menikmati buaian bayu. Menatap ujung tiang bendera yang ada di sisi belakang air mancur, di pucuknya; Jalur Gemilang mengangkasa dan menari dengan riangnya. Tarian kebebasannya membuatku iri. Melambungkan angan tuk menjumpaimu di ujung perjalanan ini. Sampai kapan engkau kan menyepi, sampai kapan engkau kan menghindari pertemuan yang dirindukan?

Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu – [Sapardi Djoko Damono]

Kuteguk air mineral dari botol terakhir yang semalam aku raih dari jatah minum yang tersisa di bus yang menghantarkanku dari Penang. Setan-setan yang berdiri berderet di depan air mancur tersenyum melihat mukaku yang kusut. Mungkin pikir mereka aku ini perempuan bodoh dan gila yang rela menanggung bebannya, menumpuk kerinduannya demi sebuah janji untuk tetap menyayangi dan mendoakan keselamatanmu. Aku tak peduli dengan cemoohan mereka, aku hanya peduli pada jiwamu, pada Kasih yang ditanamNYA di relung hatimu.

Seperti syair yang sering kau senandungkan yang menyadarkanku hari ini adalah hari Minggu, dan menggerakkan bibirku untuk melantunkan pujian yang sama di tempat ini.

Kasih past lemah lembut,
Kasih pasti memaafkan,
Kasih pasti murah hati,
KasihMU, KasihMU TUHAN

Ajarilah kami ini saling mengasihi
Ajarilah kami ini saling mengampuni
Ajarilah kami ini KasihMU ya TUHAN
KasihMU tulus tiada batasnya

Detail of Victoria Fountain di Merdeka Square

Winged Lion yang menghiasi Victoria Fountain di Merdeka Square

victoria fountain malaka, Malaka attraction

Kebetulan atau kebetulan? Saat melewati Victoria Fountain yang tegak di depan Stadthuys Malaka pada 2013, air mancurnya juga mati😉

Victoria Fountain adalah monumen yang dibangun sebagai persembahan untuk seorang perempuan yang sangat dihormati oleh masyarakat Inggris. Dia perempuan hebat, Queen Victoria Regina namanya. Dirinya dinobatkan menjadi ratu ketika usianya masih 18 tahun. Ia menggantikan pamannya, William IV, yang masa kontraknya di bumi habis, mangkat saat menjadi raja.

Monumen ini dibawa langsung dari Inggris pada 1897, dan dipasang di tempat ini pada 1904. Apakah suatu kebetulan bila puncak monumen ini serupa dengan puncak KL tower yang bisa terlihat berbayang di belakangnya? Dan, apakah kebetulan juga jika rinduku teramat menusuk saat berdiam di sini?

queen victoria, victoria fountain

Queen Victoria dan keluarganya (sumber: wikipedia)

O,ya … tahukah kamu, air mancur yang enggan memancurkan air di depanku ini, memiliki kembaran di Malaka. Lebih seabad Malaka dikuasai Inggris, 1826 – 1946. Saat perayaan 60 tahun kekuasaan Queen Victoria pada 1901, di tahun dirinya wafat; warga Malaka membangun sebuah monumen air mancur untuk mengenang sang ratu. Hebat ya mereka, tetap bisa menunjukkan tanda bakti dan hormatnya pada seseorang yang memiliki kekuasaan meski sebagian mungkin saja berada dalam tekanan. Apa yang dikerjakan dari hati, takkan pernah bisa mendustai keabadian. Ketahanannya diuji oleh waktu. Dan waktu jua yang kan membuktikan, rindu ini tak ‘kan pernah usai.

Aku pun selalu ingin memberikan yang terbaik sebagai balas KasihMU padaku. Dan di tempat ini, aku tak kuasa menahan rindu akan perjumpaan yang kuselipkan di antara doa yang terangkai setiap malam, di jelang ayam berkokok.

jalur gemilang, merdeka square, victoria fountain

Menggila di antara tarian Jalur Gemilang dan senyapnya Victoria Fountain

Asaku, satu hari nanti bila hatimu telah luluh; kan kuajak kau menikmati keindahan tempat ini. Hei, bukankah dirimu punya cita untuk menyusuri perjalanan waktu ke Malaka? Kabari aku bila telah kau putuskan waktumu, dengan senang hati aku kan mengawanimu melangkah, selalu. Saleum [oli3ve].