Tags

, , , , , , ,


Tinggal dan bekerja di Jakarta membutuhkan trik tersendiri agar tidak menimbun stres karena berpapasan dan terjebak di antrian panjang kemacetan setiap hari. Ojek pun menjadi pilihan alternatif sebagian besar warga Jakarta ketika hendak bepergian, menghindari kemacetan dan menghemat waktu. Sayangnya, dari sekian ribu pengendara ojek yang beroperasi di Jakarta, hanya sebagian kecil yang benar-benar memahami cara berkendara dengan baik dan benar, sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dari sebagian kecil ini, beberapa di antaranya karena desakan ekonomi, mau tidak mau, belajar kilat mengendarai motor agar bisa ngojek.

aplikasi gojek, gojek, gojek indonesia

Inovasi mengikuti perkembangan teknologi

Dalam sebulan ini, media diramaikan dengan gonjang-ganjing seputar moda transportasi berbasis aplikasi yang sedang naik daun. Salah satu yang akrab dibahas adalah GoJek, pionir pemesanan ojek lewat aplikasi. Tak ayal, di koran, televisi, media online, kantor, warteg dan di mana pun orang berkumpul, GoJek menjadi topik yang hangat dibincangkan.

Menurut Nadiem Makariem, CEO PT Gojek Indonesia, sejak diluncurkan pada Januari 2015 lalu, aplikasi GoJek telah diunduh sebanyak 500,000 pengguna dengan 10,000 pengendara yang bergabung sebagai mitra GoJek yang tersebar di Jabodetabek, Bali, Surabaya dan Bandung. Hal ini disampaikan Nadiem di tengah peluncuran GoJek Street Smart Program di Jakarta, Selasa (30 /06/2015).

nadiem makarim, rifat sungkar, gojek

Nadiem Makarim, CEO PT Gojek Indonesia dan Rifat Sungkar, founder Rifat Drive Labs

Lebih lanjut Nadiem memaparkan bahwa, GoJek Street Smart Program adalah program pelatihan berkendara yang diwajibkan bagi semua pengendara GoJek bekerja sama dengan Rifat Drive Labs (RDL). Program ini dilansir oleh GoJek sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan penguasaan teknik berkendara para pengendara GoJek. Sehingga diharapkan dalam melayani pelanggan, mereka selalu berupaya untuk memperhatikan ketertiban dan keselamatan berkendara.

Pada kesempatan yang sama Rifat Sungkar, Founder RDL yang juga Duta Safety Driving Indonesia menjelaskan, RDL bertugas untuk mengajarkan safety driving dan defensive riding untuk para pengendara ojek agar bisa memberikan kontribusi rasa aman bagi pelanggan GoJek melalui pelatihan bermanuver serta etika berlalu lintas. RDL telah menyiapkan 120 orang instruktur yang akan mendampingi pengendara GoJek dalam pelatihan yang akan dimulai pada 9 Juli 2015 di bilangan Jakarta Selatan.

Ketika ditanyakan mengenai program pelatihan untuk para pengendara ojek tersebut, Trio salah seorang mitra GoJek sangat antusias dengan program tersebut. Dirinya juga berharap ada semacam mediasi antara mitra GoJek dengan manajemen GoJek untuk mereka bisa berinteraksi dan menyampaikan kendala yang ditemui di lapangan saat melayani pelanggan. Trio yang bergabung dengan GoJek sejak 5 (lima) bulan dan menarik ojek selepas jam kerja utamanya sebagai karyawan di salah satu perusahaan swasta di Jakarta mengakui, pendapatannya dari mengojek sangat membantu dalam menunjang kebutuhan ekonomi keluarganya.

komplen gojek, gojek, cs gojek

Tata cara menyampaikan keluhan terhadap layanan GoJek

Ditanya ramainya perbincangan seputar layanan GoJek serta sulitnya prosedur penyampaian keluhan pelanggan, Pingkan Irwin, VP Marketing GoJek secara terpisah menjelaskan selain disampaikan melalui Customer Service, semua pengaduan pelanggan dikonsentrasikan melalui media sosial, twitter @GojekIndonesia. Ingin menjadi mitra/pengendara GoJek, baca prosedurnya di SINI. Untuk yang ingin berkeluh kesah memberi masukan atau kritik seputar GoJek, silakan ikuti prosedur pada gambar di atas, saleum [oli3ve].

Sebelumnya dipublikasikan dan Highlight di Kompasiana, Rabu, 1 Juli 2015

Advertisements