Tags

, , , , ,


Peluhku menderas, kaos yang kukenakan basah, menempel dan lekat di badan. Makin malam, suasana semakin riuh dan ruang gerak pun semakin sempit. Semua turun ke jalan, ingin melihat arak-arakan dan atraksi barongsai. Badanku terdesak di antara kerumunan manusia di pelataran depan Ho Ann Kiong. Berhimpitan di jalan yang dipenuhi manusia dari berbagai usia membuat dadaku sedikit sesak. Saat mencoba menggerakkan badan sedikit untuk menghirup udara segar, sosok lelaki  itu menjulang di sebelahku. Tanpa ba bi bu, ditariknya pergelangan tangan, menyisipkan selembar kertas ke dalam genggamanku.

Mulutku mendadak gagu, tapak tanganku terkepal. Ingin melawan namun tenaga rasanya tersedot habis hingga badan tak bisa kugerakkan. Belumlah usai keterkejutan yang mulai merambat ke sekujur tubuh, lelaki itu tersenyum, suara baritonnya mengalun ke dalam gendang telinga,”I come to see you, meet me at jetty.” Dirinya lalu menghilang di tengah lautan manusia sesaat sebelum tanyaku pecah di dalam kerongkongan. Uwaaaaat?? Arrghhhhh, kutu kupreeeeet! Siapa manusia berkulit putih yang sok akrab ini? Aku sangat yakin dirinya bukan salah satu dari sotongers bule yang ikut keriaan di Terengganu.

squidjigging, terengganu, alexander hamilton, us change image $10

Mural di pecinan Kuala Terengganu

Kutepis rasa penasaran yang mulai menjalari pikiranku, aku hanya ingin menikmati riuh yang semakin ramai di sini. Maaf ya mas bule, pergi jauh-jauh dari ruang hayalku. Berlama-lama aku tenggelam dalam keriaan. Berbagi tawa dan menikmati bising yang menggerakkan badan untuk turut bergoyang. Panggung di samping kelenteng bergantian disorot warna-warni cahaya lampu, mengikuti setiap penampil yang muncul untuk menghibur.

Sejam … dua jam, hiruk pikuk itu berangsur surut. Tak terdengar lagi tetabuhan dan kerincingan yang memekakkan malam. Yang tersisa hanya sepi dan wajah-wajah layu memaksa tersenyum meski langkah mulai gontai, tertatih kembali ke rumah usai mendapatkan tontonan dan hiburan. Kuikuti saja arus itu, mencari lorong Penyu, kembali ke depan kanal tempat bus akan menjemput.

Di mulut lorong langkahku tertahan gerobak kecil yang dikerubungi warga. Rupanya mereka berebut memesan secangkir minuman dingin yang ditawarkan dengan harga miring. Dahaga mengantarkanku mendekati kerumunan untuk mencari tahu, minuman apa yang membuat mereka merubungi si gerobak.

Ah well, here you are. Aku tahu kamu selalu menghindari minum es karena tenggorokanmu sering sekali meradang.

Oh maaaaak, suara bariton itu lagi. Dia berdiri tepat di belakangku, dan tangannya mulai iseng menjawil-jawil ujung rambutku.

Hi bro, who are you? Maunya apa sih, dari tadi gangguin orang saja?
Hmmm just want to walk with you. Bulan di atas lagi tersenyum tuh, asik buat jalan-jalan.

Kulirik seulas senyum menggoda tersungging di bibirnya. Tanpa sadar aku menengadah ke langit, bulan memang terlihat sangat indah. Bulat, kuning dan bercahaya.

Teringat seseorang?

Yeaaaah, bulan selalu membuatku teringat padamu, membuatku ingin berlama-lama memandangnya. Tapi, berjalan dengan orang asing di tempat yang meski pun tak terlalu asing, membuat rasa asing itu berkeliaran dan menggoda rasaku. Energi itu terlalu kuat untuk kutepis. Dia menyorongkan tangannya, lebih tepat meraih paksa tanganku dan menggenggamnya dengan erat.

Alexander, panggil saja Alex. Aku sudah berkelana selagi usiaku masih sangat muda. Bukan untuk mencari sesuatu tapi memang sudah digariskan untuk menjalani perjalanan itu. Kapalku baru kembali dari Aceh dan kami dalam perjalanan ke Malaka.

us change image $10, alexander hamilton, graffiti terengganu

Mural Capt. Alexander Hamilton di pecinan Kuala Terengganu

Tak dilepasnya tanganku. Belum tuntas pula tanya dalam hatiku. Namun dirinya tak bisa kuhentikan untuk terus berceloteh tentang perjalanannya pergi jauh meninggalkan negerinya bahkan sebelum Raja William menjadi raja. Bukan sekadar mencari petualangan tapi juga untuk belajar berdagang.

Dia berbagi kisah Dona Maria, perempuan yang melarikan diri dari Rio, membawa kabur cintanya, mengubah sosoknya menjadi Balthazar da Couto Cardoso, yang dikenal sebagai prajurit gagah berani dalam setiap pertempuran kemana dirinya ditugaskan. Pada akhirnya, setelah 13 tahun, Dona Maria kembali membuka diri. Ia menerima  pinangan dan menikah dengan Kapten de Melo, lelaki yang diselamatkan Balthazar dalam satu pertempuran di Goa, India.

Aaah, kisah yang membuatku ingin berlari ke Lisbon dan menyusuri jejaknya hingga ke India. Melihat aku hanya berjalan dalam diam dan sesekali manggut-manggut di sampingnya, Alex terus saja bertutur tentang pertemuannya dengan Joan van Hoorn di Batavia yang tak pernah dibayangkan, rempah-rempah Maluku yang membuatnya takjub, perjalanan menyusuri India, Arab, dan jejaknya mengarungi lautan demi mencumbui daratan di berbagai negeri yang membuat mulutku ternganga.

Tuhan menciptakan keragaman budaya agar manusia belajar saling menghormati dan menghargai. Menjumpai kepercayaan yang berbeda dengan kepercayaan yang dianutnya di setiap tempat yang dijejaki, menjadikan dirinya belajar membuka diri dan memahami indahnya perbedaan, tentang perjuangan dan keyakinan serta keberanian yang muncul dari dalam diri ketika terjadi sesuatu di luar dari kehendak sendiri.

The proof of the pudding is in eating it, so according to your taste or appetite, you may either condemn or commend – [Captain Alex Hamilton]

Kami terus melangkah hingga di depan jembatan yang melintang di atas sungai Terengganu. Kudengar teriakan awak kapal pesiar menawarkan jasa untuk menikmati Kuala Terengganu dengan menyusuri sungai di bawah terang purnama.

Esok pagi, aku tunggu kamu di sini. Di tempat ini, di tempat aku berdiri ini. Ingat ya, aku tunggu di sini.

Dia memberi penekanan pada setiap kata yang mengalir dari bibirnya. Maunya apa sih mas bule ini? Aaah tapi aku suka kisahnya, cara bertuturnya membawa anganku melambung bersama suara baritonnya. Siapa gerangan dirinya? Tanya itu terus menghantui pikiranku.  Di bawah terang purnama, kami berpisah. Dia melepasku dengan senyum yang tiada henti menghiasi wajahnya hingga badanku tenggelam ke dalam bus. Aku masih memikirkannya, ketika bayangannya muncul di samping bus, melambaikan tangan dari balik kaca. Mulutnya komat-kamit, tangannya memberi isyarat mengingatkan pertemuan esok hari. Kulambaikan tangan padanya, semoga esok adalah milik kita, Alex. Alex who? Kamu telah membuat hayalku mengembara tak tentu arah.

us change image $10, alexander hamilton, terengganu

Gambar Hamilton di lembaran U$ 10 sejak 1929 (dok. Chandra Christrianti)

Matahari sudah meninggi ketika kami kembali diturunkan di pecinan keesokan paginya. Aku sudah mulai melupakan pertemuan semalam kalau saja kaki tak memaksaku menyusuri jejeran mural yang menghiasi tembok kota. Di jelang ujung tembok itu, biji mataku nyaris melompat menemukan sebuah gambar dengan sebait tulisan di sana.

Trangano … about one thousand houses in it, not built in regular streets, … The Town is above half-peopled with Chinese, who have a good trade for three to four Jonks yearly, … The product of the country are pepper and gold, which are mostly exported by the Chinese. About 300 tons are the common export of pepper … [Capt Alexander Hamilton].

Teka-teki itu terjawab sudah. Pertemuan pagi itu dimaksudnya untuk menunjukkan gambar dirinya di sini. Di tempat ini, di tempat kini aku berdiri memandang takjub pada karya seseorang di depan mata. Tak ada bulan purnama, karena hari itu sangat terik. Alex … mas bule itu? Muka yang tergambar di sana mengingatkanku pada mas bule penuh senyum yang semalam menemaniku melangkah di bibir kanal. Dia, Kapten Alexander Hamilton, dan dia pernah mampir ke Terengganu pada 1719 – 1720.

Kertas ituuuu? Pening melanda, tanganku merogoh semua saku yang ada, dari saku celana hingga saku Onye. Kertas yang semalam dia selipkan ke tangan itu ada dimana? Bergetar kukeluarkan kertas itu dari saku depan Onye. Ohhhh maaaaak! selembar U$10! Apa lagi ini??? Otakku berusaha menemukan jawaban atas teka-teki baru yang merangkak ke permukaan ketika sebuah nama yang sama kutemukan di lembaran itu, HAMILTON.

padlock lovus change image $10, alexander hamilton, gembok cinta,

i left my heart in Kuala Terengganu

Kepalaku semakin pening. Pening tersengat matahari dan pening karena dipaksa berpikir sangat keras demi memecahkan teka-teki si mas bule. Mataku mulai berkunang-kunang, semua menjadi berbayang ….aku …

Kaaaaak! Fotoin aku donk di sini.

Kenapa suaranya berubah manja seperti bayi? Belum sempat kujawab, pinta manja itu kembali terdengar.

Kaaaak, aku mau donk di fotoin di sini.
Eh, iya kak, sebentar ya.

Apakah aku berhalusinasi? Tapi mereka benar ada. Hamilton’s affect! aku melayang.

faktanya:
Kapten Alexander Hamilton (1688 – 1733) adalah seorang pelaut Skotlandia, pengelana, pedagang, penulis kisah yang kemudian bergabung dengan kongsi dagang Inggris (East India Company) saat berada di Mumbai (sebelumnya dikenal juga sebagai BombayIndia. Tak banyak  yang menuliskan tentang beliau, semoga satu hari nanti bisa menemukan potongan kisahnya yang lain.

Sedang, Alexander Hamilton yang mukanya terpampang di lembaran U$10, adalah tokoh visioner Amerika, keturunan Skotlandia dan orang terdekat George Washington. Dirinya menjadi Menteri Keuangan Amerika yang pertama dan karena jasanya gambar dirinya diabadikan pada lembaran U$10 sejak 1929. Pada 17 Juni 2015, Jacob Lew, Menteri Keuangan Amerika Serikat mengeluarkan pengumuman rencana mendesain ulang lembaran U$10 dan menggantikan gambar Hamilton dengan gambar diri seorang perempuan. Penentuan pemilihan “penggantinya” dilakukan melalui media sosial dan yang digadang-gadang akan menghiasi lembaran U$10 pada 2020 nanti adalah wajah Harriet Tubman.

Referensi:
A New Account of East Indies : being The Observation and Remarks of Capt. Alexander Hamilton, 1727.

Ada banyak kisah menarik di Kuala Terengganu yang tiada habis untuk digali. Terima kasih #TourismTerengganu, semoga kita kembali berjumpa di tahun depan, saleum [oli3ve].