Tags

, , , , , , , , ,


Uncle, can you drive faster? seruku pada Uncle Simelekete agar melajukan kendaraan yang terengah-engah di jalan bebas hambatan. Gerutuan menggema dalam bahasa ketumbar jahe yang tak kupahami. Aku tak peduli. Namun kurasakan, kendaraan berlari lebih cepat dan lincah menari di padatnya lalu lintas pagi. Tak sampai sejam kami menggapai KLIA. Si uncle menepikan mobil di tempat menurunkan penumpang. Sapa terima kasihku disambut dengan senyum kecut, sembari membenarkan letak jenggotnya, nasihat yang sedari tadi ditahan meluap dari bibirnya. Sebelum banjir bandang, buru-buru kubendung dengan menutup pintu agar dirinya segera berlalu. Aku pun melesat mencari papan hitam besar di tengah ruangan yang sibuk itu.

KL city gallery, sejarah malaysia

Selamat datang di putaran masa

Sejak mengambil keputusan untuk berlama-lama menikmati kawasan warisan, aku sudah tahu tak akan bisa mengejar penerbangan pulang. Bahkan ketika memilih menikmati sekerat roti manis dan menyesap secangkir teh panas di sebuah gerai cepat saji di sudut Ampang, aku sangat sadar; harusnya saat itu sudah bersiap di ruang keberangkatan. Tapi, aku tak tergerak sama sekali untuk bergegas menjemput Meywah di 1915. Kuputuskan untuk melanjutkan bertualang di Dataran Merdeka. Alhasil, sepanjang perjalanan ke KLIA, kuping kusumpal dengan earphone agar tak terkontaminasi dengungan ketumbar jahe ala Uncle Simelekete.

GATE 5 CLOSED!

Alih-alih dilanda panik, aku hanya tersenyum berdiri di bawah papan besar memandangi tulisan yang memberitahu penerbanganku ke Jakarta tak terkejar. Dengan riang aku bersenandung … bye … bye love, hello happiness … sembari mendekati petugas di konter keberangkatan untuk memastikan langkah selanjutnya.

“Orang gila! Trus kamu keluar duit lagi untuk beli tiket yang baru, Lip?” engkau meradang di ujung sana mendengar kabar diriku ketinggalan pesawat dan alasanku menghanguskan tiket pulang. Terbiasa menghadapi ledakan emosimu, membuatku menanggapi setiap ocehanmu dengan santai. “Si Duduuuuuul! Trus buang-buang duit donk naik taksi dari hotel ke KLIA? Kenapa nggak naik KLIA Ekspress sih?” “Hidup itu PILIHAN, aku memilih untuk memanjakan diriku, menikmati kesukaanku. Yang penting pulang ke tanah air tak membawa sesal.” “Kamuuuuu! Ah sudahlah, capek aku nasehatin kamu! Cokelat pesananku ada kan?” “Nah, itu dia Dul, karena duitnya habis jadi cokelat diganti segepok cerita perjalanan aja ya.” “Duduuuuuul!”

*klik*

KL city gallery, dataran merdeka

Si Dudul, orang gila yang menjadi the one an only visitor KL City Gallery pagi itu 😉

Lupakan drama antara hati dan nalar ketika mereka berselisih paham pada sebuah PILIHAN. Hingga jelang kepulangan aku pun tak bisa memahami kenapa memilih disebut orang gila timbang membungkus selaksa penyesalan yang nantinya membebani pikiran lalu mulai berandai-andai. Ah, andai tadi begini … kan bisa begitu.

Pagiku diwarnai senda gurau para pelombong kala bibir Klang memagut lembut bibir Gombak. Bahasa hokian memecah pagi bersaing riak sungai yang mengalir membelah Ampang. Mereka, para pelombong Cina itu, didatangkan Raja Abdullah dari Lukut untuk menambang biji-biji timah di Lembah Kelang. Ulet, giat dan pantang menyerah telah menghantarkan mereka membelah lautan, berkelana meninggalkan tanah kelahiran demi mencari penghidupan yang lebih baik.

Yap Ah Loy, seorang di antara para pelombong itu. Kutemui dia di gerbang masa. Anak muda yang tak kenal menyerah. Usia 17 tahun, Ah Loy datang ke Malaka dan bekerja sebagai kuli di pelombongan Durian Tunggal. Baru bekerja 4 bulan pelombongan tutup, Ah Loy berangkat ke lombong Kesang, Muar dan bertahan di sana selama setahun. Saat hendak dipulangkan ke kampungnya di Cina, Ah Loy tertimpa kemalangan. Ia kehilangan seluruh uangnya kala menanti kedatangan kapal di Singapura. Alih-alih kembali meminta bantuan kepada paman angkatnya di Malaka, Ah Loy memutuskan untuk mengikuti saudaranya berjalan kaki ke Lukut.

yap ah loy, Frank Swettenham, sejarah kuala lumpur, sejarah malaysia

Potret Yap Ah Loy dan Frank Swettenham

Kutinggalkan Ah Loy, aku beranjak untuk menjumpai Frank Swettenham, Residen Jenderal Federasi Melayu. Lelaki Inggris ini punya pengaruh besar dalam meletakkan landasan kebijakan pemerintah Inggris di tanah Melayu. Frank diangkat dan dipercaya sebagai warga penasehat Selangor. Dibangunnya rel kereta api yang menghubungkan pelabuhan Klang dengan pusat lombong untuk memudahkan pengangkutan hasil timah. Ia mengatur tata kota dan mempercantik setiap sudutnya dengan kebijakan dan peraturan pemerintah.

Dalam salah satu bangunan itu kini aku tenggelam. Bangunan yang dirancang oleh A.C. Norman dan J. Russel pada 1898 diperuntukkan bagi kantor percetakan negara Selangor. Ragam dokumen negara mengalir keluar dari tempat ini. Jika hari ini engkau berjalan di kawasan warisan, di sana kan kau temui bangunan-bangunan cantik peninggalan koloni Inggris yang masih berdiri kokoh. Andai Frank tak mengeluarkan titahnya, aku tak bisa membayangkan penampakan kotanya usai melintasi masa.

kl city gallery, orgasme di kualalumpur

Cukup RM 5 untuk menggapai multi orgasme

Rasaku hanyut dalam pesona masa. Dari pertengahan abad 19, kususuri setiap masa hingga terdiam di depan sebuah miniatur kota. Seorang petugas menuntun langkah untuk berdiri di sebuah penanda dan memberikan petunjuk agar diam di sana tak memotret dengan cahaya. Dalam hitungan detik, ruangan gelap gulita. Belum sempat bertanya apa yang terjadi, dalam sekejap cahaya laser bertebaran memenuhi ruangan. Sebuah pertunjukan masa, tersaji di depan mata. Dengan mulut ternganga, kunikmati semua sajian itu selama kurang lebih 5 (lima) menit dalam kesendirian.

i love KL. kl city gallery

Teteh-teteh dari Bandung bergambar di depan ikon sejuta umat, I Love KL

Siapa yang dapat menentukan nasib seseorang? Dari kuli lombong, Ah Loy beranjak menjadi kapiten Cina. Merintis sebuah tempat yang tadinya hanya dikenal sebagai hutan belantara menjadi pusat perdagangan yang memaksa pemerintah Selangor untuk memindahkan pusat pemerintahan ke kota lombong.

Meski riak Klang dan Gombak tak seseronok dulu, sejarah mencatat; di tempat bibir Klang dan Gombak bergelora menikmati paduan rasanya, di sana kini berdiri ibu kota sebuah negeri yang berjaya. Di muara kuala yang berlumpur, Kuala Lumpur. Nukilan sejarah perjalanan masa ini dapat dinikmati dalam sekali putaran masa di Dataran Merdeka, dengan melangkah ke dalam Kuala Lumpur City Gallery.

gombak river, kelang river, the history of Kuala Lumpur

Hayoo mana Gombak dan mana Klang? bayangkan pada satu masa, sepanjang alirannya para pelombong melombong timah di sini 😉

Spektaaaaaa! asaku berkelana, berharap pada satu masa, negeriku dapat menyajikan pesona ini pada generasinya.

Moral of the story, hidup adalah PILIHAN dan KEPUTUSAN ada di tanganmu. Aku percaya, TUHAN tidak pernah salah ketika menawarkan pilihan mana yang harus kita putuskan untuk dilakoni. Terbukti, pagi itu, kugapai puncak orgasme setelah menentukan pilihan yang kau tuding GILA. Ya, hanya orang gila yang rela ketinggalan pesawat untuk kembali ke negerinya demi satu pelajaran penting; mencoba memahami diri dengan berkaca pada negeri orang lain, saleum [oli3ve].

Advertisements