Tags

, , , , , ,


Pondasi adalah bagian paling penting dari satu bangunan. Pemilihan tanah yang menjadi dasar untuk meletakkan pondasi bangunan pun haruslah benar-benar tepat. Bangunan yang tampak indah dari luar jika tak dibangun di atas landasan  yang kuat dan ditopang dengan tiang yang kokoh tak akan bertahan lama. Seiring berjalannya waktu, bangunan itu lambat laun gampang goyah, retak digerus perubahan musim dan ambruk diterpa goncangan. Prinsip yang sama berlaku juga dalam menjalani kehidupan.

Amoroso Katamsi

Amoroso Katamsi membawakan monolog Hero karya Putu Wijaya

Tidak ada yang tidak berubah, kecuali perubahan itu sendiri
Seperkasa apa pun engkau, tubuhmu akan menua
Setinggi apa pun pangkatmu, engkau akan pensiun
Sehebat apa pun pertunjukanmu, engkau akan kehilangan panggung

Itulah usia …
Rasanya baru kemarin awal perjalanan dimulai

Nukilan pesan Amoroso Katamsi yang terangkai dalam buku bersampul putih yang terbuka di depan mata di atas, mengingatkan pada penggalan Change the Way U SEE Indonesia. Meski ditulis dalam konteks yang berbeda namun pengertiannya, sama. Suatu kebetulankah?

Nama Amoroso Katamsi mengingatkan pula pada sosok Eyang Harto semasa menjadi Panglima Kostrad dalam film G30S; film wajib tonton setiap 30 September yang pasti tak asing bagi generasi 80 – 90an. Di G30S, Amoroso sangat apik berperan sebagai Eyang Harto muda yang ganteng. Sosok yang akhirnya tak sekadar ditonton aktingnya di layar lebar atau layar kaca, namun disaksikan langsung penampilannya di atas pentas; Meniti 77, Mengalir dalam Kehidupan.

Amoroso Katamsi, Aning Katamsi, Doddy Katamsi

Keluarga Katamsi (tengah) ki-ka: Amoroso Katamsi, Ratna Katamsi, Aning Katamsi dan Doddy Katamsi

Meniti 77, sebuah karya seni yang menyajikan mozaik perjalanan seorang Amoroso Katamsi sepanjang 77 tahun usianya. Pentas dibuka dengan sebuah tembang syukur yang dilantunkan oleh puteri Amoroso; Aning Katamsi diiringi alunan piano Ratna Katamsi. Tak hanya Ratna dan Aning, rocker Doddy Katamsi pun ikut ambil bagian membawakan beberapa lagu.

Pondasi berkesenian keluarga Katamsi telah diletakkan sedari masa kanak-kanak. Amoroso mewarisi jiwa seni dari ayahnya yang gemar menggesek biola. Meski Amoroso melanjutkan pendidikan ke Fakultas Kedokteran dan berkarir di Angkatan Laut, namun darah seni tetap mengalir deras di dalam jiwanya. Pun demikian dengan ketiga anaknya yang mewarisi darah seni dari kedua orang tua mereka. Siapa yang tak mengenal nama besar penyanyi seriosa, Pranawengrum Katamsi?

Amoroso Katamsi

Amoroso Katamsi

Lintasan masa dari Amoroso kecil hingga pemenuhan panggilan jiwanya pada dunia kesenian, disajikan dalam tayangan animasi di layar yang dibentang di atas panggung. Sedang, kisah cinta Amoroso dan Pranawengrum yang bersemi di bangku kuliah, ditampilkan lewat Tali Kasih; sajian gerak dan tari oleh David Fitrik dan Eka.

Adalah anugerah diberi kesempatan menyaksikan para pekerja seni yang menjadi bagian dari pentas Meniti 77 di Teater Mini, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (16/01/2015) lalu. Selain keluarga Katamsi, mereka yang tampil bermonolog malam itu ada Jajang C. Noer dengan Mas Brotonya, Sha Ine Febriyanti yang menggodok rasa lewat Cut Nyak Dhien, Gandung Bondowoso dengan Godlob serta om Jose Rizal Manua yang mengocok perut berbagi kisah cinta Mas Joko.

Jajang C. Noer

Jajang C. Noer

Pada akhirnya, tak putus berucap terima kasih Sha Ine Febriyanti yang telah memberikan sepucuk undangan untuk menyaksikan sajian yang dihadiri dan nikmati oleh para pekerja seni serta Menyelami Hati Cut Nyak Dhien. Tak ada yang kebetulan jika sudah digariskan untuk dilalui. Jalani dengan hati yang lapang, setia melalui ragam proses suka atau tidak suka. Percaya saja pada sang Penuntun yang kan menuntun hingga ke garis akhir, saleum [oli3ve].