Tags

, , , , ,


Kemarin malam terkaget-kaget membaca update status pak Lilie Suratminto di facebook; di situ jelas tertulis Opa Yotty telah tiada. Kenangan berputar ke April tahun lalu saat berkunjung ke rumah Opa Yotty di Depok bersama rombongan peserta Plesiran Tempo Doeloe (PTD) Depok Lama SahBATMUSeum. Opa Yotty dengan langkah tertatih menemui kami di teras rumahnya yang sederhana. Wajah senjanya sesekali dihiasi senyum dengan pandangan menerawang saat menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya.

anak presiden depok, yotty jonathans, sejarah depok

Opa Yotty Jonathans

Siapa Opa Yotty, sampai saya bela-belain menuliskannya secara khusus di sini?

Opa Yotty Jonathans adalah putera G. Jonathans, Presiden Depok yang memimpin gemeente bestuur (pemerintahan sipil) dengan daerah teritori khusus di Depok. Gemeente bestuur dibentuk pada 1872 oleh para ahli waris Chastelein yaitu para pekerjanya yang telah dimerdekakan guna membentuk tatanan awal pemerintahan sipil di Depok dalam organisasi kepemimpinan republik.

Negara Depok dengan otonomi sendiri ini bahkan diakui oleh pemerintah Hindia Belanda di masa itu. G. Jonathans adalah Presiden Republik Depok yang terakhir karena pada 4 Agustus 1952 pemerintah Indonesia mengambil alih seluruh tanah partikelir Depok (kecuali gereja, sekolah, balai pertemuan dan pemakaman) menjadi hak pemerintah dengan memberikan uang ganti rugi sebesar Rp 229.261,26.

Cornelis Chastelein menjejakkan kaki di Depok pada 10 Agustus 1657 dan mulai membangun daerah tersebut bersama pekerja yang dibawanya dan berasal dari berbagai wilayah di nusantara seperti Bali, Borneo, Makassar, Maluku, Ternate, Kei, Pulau Rote dan Batavia.  Mereka terdiri dari 12 (dua belas) marga yaitu Jonathans, Laurens, Bacas, Loen, Soedira, Isakh, Samuel, Leander, Joseph, Tholense, Jacob dan Zadokh.

gpib immanuel depok, Chastelein, sejarah depok

Nama ke-12 marga Chasteleins terukir di 12 pintu GPIB Immanuel Depok

Chastelein mengajarkan mereka agama Kristen sesuai dengan amanat dari ayahnya dan mendirikan Gereja Jemaat Masehi pada 1714 (sekarang GPIB Immanuel Depok) untuk tempat beribadah. Sepeninggal Chastelein para pekerja ini mendapatkan pembebasan dan hak waris atas seluruh tanah, bangunan, alat pertanian dan harta Chastelein lainnya berdasarkan surat wasiat yang dituliskan oleh Chastelein pada 13 Maret 1714.

Chastelein juga berpesan agar proses pembagian warisan dilakukan secara adil dan bijaksana seperti yang tertuang dalam kutipan terjemahan wasiatnya berikut :

“… MAKA hoetan jang laen jang disabelah timoer soengei Karoekoet sampai pada soengei besar, anakkoe Anthony Chasteleyn tijada boleh ganggoe sebab hoetan itoe misti tinggal akan goenanya boedak-boedak itoe mardaheka, dan djoega mareka itoe dan toeroen-temoeroennja tijada sekali-sekali boleh potong ataoe memberi izin akan potong kajoe dari hoetan itoe boewat penggilingan teboe… dan mareka itoe tijada boleh bikin soewatoe apa djoega jang boleh djadi meroesakkan hoetan itoe dan kasoekaran boeat toeroen-temoeroennja,…”

Chastelein meninggal pada 26 Juni 1714, tanggal kematiannya kemudian diperingati sebagai hari kemerdekaan dari perbudakan bagi kaum pekerja Chastelein. Ke-12 marga pekerja ini pun diabadikan di pintu GPIB Immanuel Depok.

Jauh dari keriuhan dan kemegahan, Opa Yotty hidup dalam kesederhanaan bersama anak cucunya di rumahnya di kawasan Depok Lama. Rumah sederhana tempat dimana ayahnya, mantan mendiang Presiden Republik Depok juga pernah menetap dan memimpin Negara Depok. Rumah yang berdiri di depan Gemeente Bestuur van Depok (dulu kantor pemerintahan Depok) itu menyimpan banyak cerita. Beliau pun pergi dalam kesederhanaan tanpa jamahan media.

sahabat museum, sejarah depok, opa yotty, plesiran tempo doeloe

Foto keluarga Batmus dengan Opa Yotty di depan rumah Opa Yotty (10 April 2010)

Selamat jalan Opa Yotty. Keramahan, ketulusan, senyum dan lambaian tangan Opa akan selalu terkenang di hati kami, beristirahatlah dengan tenang.

Jakarta, 29 Maret 2011

Tulisan ini dibuat untuk mengenang Opa Yotty Jonathans, yang berpulang ke rumah Bapa. Terima kasih telah menerima kami yang datang berombongan tanpa ba-bi-bu “menyerbu” dengan beribu pertanyaan namun Opa dengan sabar menjawabnya satu per satu, saleum [oli3ve].

note:
Sebuah catatan yang dibaharui dari catatan sebelumnya di Kompasiana, 29 Maret 2011; dipindahkan ke sini untuk dokumentasi. Catatan yang setahun kemudian mempertemukan dan menautkan dengan seorang sahabat yang banyak memberi support, Kak Lita Jonathans.

Advertisements