Tags

, , , , , , ,


Ketika memutuskan kembali ke Lasem untuk sebuah petualangan kecil di Minggu pagi itu, sudah terbayang sebuah perjalanan yang akan memberi warna dan jejak penuh makna. Setelah menyusuri potongan jalan pantura, kendaraan yang kami tumpangi berbelok meninggalkan jalan beraspal. Sisa hujan semalam masih membekas di beberapa ruas jalan tanah yang dilalui. Di dalam elf, badan bergoyang mengikuti ayunan kendaraan yang menari di atas jalan berlumpur.

uruvela, destinasi wisata lasem, vihara ratanava arama, buddha gautama

Sang Buddha saat bersemedi selama 4 tahun di hutan Uruvela, India tubuhnya menjadi kurus

Eh, kita nggak salah jalan kan ya?” Rasa khawatir mulai menjalari pikiran saat kendaraan semakin menjauh dari peradaban. Tak tampak lagi rumah-rumah penduduk. Yang terhampar di kiri kanan hanyalah petak-petak sawah yang berganti dengan gerombolan pepohonan kala kendaraan mulai menanjak di jalan yang tak bersahabat.

Semakin mendekati puncak bukit, makin meliuk-liuk pula badan dan seisi tubuh elf. Hati kebat-kebit, bibir komat-komat. Doa kusyuk dipanjatkan. Semoga tak ada kendaraan lain yang melaju dari atas bukit, karena badan jalan yang sempit akan menyusahkan kala berpapasan. Tepat saat kata amin diserukan dalam hati, kendaraan pun berhenti di puncak tanjakan, di depan sebuah gerbang menjulang yang tertutup rapat.

Seorang lelaki mengintip keluar. Beberapa tanya mengalir dari mulutnya. Ada aturan main yang harus ditaati kala berkunjung ke tempat ini. Ketika jawaban yang diberikan sesuai dengan tata cara berkunjung, dibukanya gerbang lebar-lebar. Diajaknya kami melangkah ke dalam pelataran, mengisi bangku yang tersedia di beranda Vihara Ratanava Arama.

banthe priyadhiro, bhikku lasem, vihara ratanava arama

Banthe Priyadhiro

Selang lima menit, lelaki muda berperawakan sedang dengan tubuh padat berisi melangkah ke beranda. Badannya dibungkus kain oranye kecoklatan, menyapa dengan senyum tak lepas dari bibirnya. Wajahnya teduh, sudut matanya memancarkan ketenangan. Banthe Priyadhiro, lelaki itu memperkenalkan dirinya sebelum berbagi inspirasi sang Budha.

Ratanava Arama dibangun pada 1985 oleh Banthe Sudhammo Mahathera sebagai perwujudan panggilan jiwanya untuk memberikan sesuatu yang berarti bagi sesama makhluk. Bhikku yang lahir dengan nama Busaha Burhanudin di Sumenep, Madura pada 21 April 1938 ini adalah putera tunggal dari Malik dan Saliha. Busaha memilih hidup mengembara setelah menjadi yatim piatu selepas sekolah menengah. Keluar masuk hutan di pulau Jawa selama 4 (empat) tahun demi mencari makna kehidupan. Pada 1964, Busaha mulai mengenal dan perlahan mendalami ajaran Buddha. Delapan tahun kemudian, dirinya memantapkan hati menjadi Samanera (= calon bhikku). Dua tahun berikutnya, Busaha ditahbiskan menjadi Bhikku di Wat Bovonarives, Bangkok.

ajaran buddha, Ariya Atthangiko Magga, jalan utama berunsur delapan

Ajaran Buddha: Ariya Atthangiko Magga, Jalan Utama Berunsur Delapan

Bukit Sendangcoyo yang tandus dan kering dipilihnya untuk menenangkan diri. Di sana, sang Bhikku mendirikan vihara. Tak kenal putus asa, dijalani dengan berpasrah diri. Lahan yang ada ditanami dengan pepohonan dan tanaman, berjalan tanpa lelah mencari sumber mata air ke pegunungan di sekitar vihara, mengumpulkan kayu, mengaspal jalan setapak; semua dikerjakan sendiri tanpa mengeluh. Setelah melalui proses yang panjang, tak kenal putus asa dengan semangat berbagi yang terus membara; bertahun kemudian mimpinya mewujud. Lahan tandus menjadi subur, pepohonan berdiri rapat-rapat, air mengalir dengan lancar, kebun dan hutan mulai memberikan hasil; kehidupan di vihara pun perlahan mulai berjalan dengan baik.

Inti kebahagiaan terletak pada pikiran … suara lembut Banthe Priyadhiro mengalun membagikan wejangan spiritual bagaimana menjalankan meditasi dengan baik. Semua berawal dari pikiran yang bersih, didasari oleh tekad yang kuat, serta dilakukan untuk memupuk dan mengembangkan cinta kasih. Sebelum melakukan meditasi hendaklah memperhatikan waktu, kondisi kesehatan serta lingkungan. Pagi hari saat bangun tidur antara pk 03.00 – pk 05.00 adalah waktu yang paling baik untuk bermeditasi karena pada saat itu pikiran masih belum terkontaminasi.

buddha tidur, vihara ratanava arama, vihara di lasem

Patung Buddha tidur di Vihara Ratanava Arama, Lasem

Tak luput diingatkannya, musuh paling berat dalam menjalankan meditasi adalah diri sendiri. Karenanya diperlukan konsentrasi penuh untuk menguasai dan menaklukkan keinginan diri. Selama bermeditasi, tubuh tak boleh bergerak, tidak membuka mata dan tidak bertukar posisi. Pikiran fokus, mulailah dengan satu harapan … semoga saya berbahagia … semoga semua makhluk berbahagia.

Semua wejangan singkat dari Banthe tersaji lewat jejak perjalanan sang Buddha yang menjadi inspirasi Banthe Sudhammo mendirikan komplek Ratanava Arana. Jejak yang dijumpai sejak melangkah dari pelataran vihara. Serangkaian patung sang Buddha menyambut tapak-tapak meniti anak tangga. Dari kelahiran, semasa bersemedi di hutan Uruvela, India, pencapaian kesempurnaan, mulai mengajarkan bagaimana memandang kehidupan dengan bijak dan belas kasih setelah menjadi Buddha kepada lima orang murid pertamanya di Taman Rusa Isipatana, India hingga meninggalnya sang Buddha dengan sempurna yang digambarkan dengan sebuah patung Buddha sepanjang 14 meter dalam posisi tertidur.

candi sudhammo mahatera, miniatur borobudur, vihara ratanava arama

Candi Sudhammo Mahatera di puncak Sendangcoyo

Undakan menuju ke puncak bukit setinggi 25 meter, sama panjang dengan seekor ular naga raksasa yang menjulurkan badannya dari puncak bukit. Kepalanya akan menyambut langkah di mulut tangga yang berakhir di ujung ekornya, ditandai dengan jalan bercabang. Bila terus mendaki ke pucuk bukit maka langkah akan sampai pada pelataran utama vihara, sedang bila berbelok ke kanan akan berjumpa dengan patung Buddha tidur.

Banthe Sudhammo meninggal pada 28 Februari 2000. Di atas pucuk bukit Sendangcoyo, tubuhnya dimakamkan di dalam miniatur candi Borobubur yang dibangun sebagai bentuk penghormatan untuk sang Bhikku. Sekeliling candi dipagari dengan tembok yang diukir dengan ajaran sang Buddha, empat buah pintu ditempatkan sesuai dengan arah mata angin. Di sisi belakang candi, sebuah kapal berlabuh di dermaga. Di dalam ruang kapal ditempatkan patung lilin sang Bhikku. Lambang sebuah perjalanan dan pengabdiannya pada kehidupan.

Banthe Sudhammo Mahatera, vihara ratanava arama

Kapal tempat bersemayam patung lilin Sudhammo Mahatera

Jelang pk 11, Banthe Priyadhiro pamit untuk makan siang. Jadwal makan dan kegiatan sudah diatur sedemikian rupa. Jika ada yang melewatkan waktu makan, silakan berpuasa hingga waktu makan berikutnya. Banthe mengatakan ia hanya makan dua kali sehari, pagi pk 06.00 – 07.00 dan siang hari, malamnya berpuasa. Saat Banthe beranjak ke ruang makan, langkah pun terayun menyusuri jejak-jejak sang Buddha di sekitar vihara. Semoga semua makhluk berbahagia, saleum [oli3ve].

Advertisements