Tags

, , , , ,


Rasanya baru kali ini membeli kembang utuh sendiri untuk dibawa ke peristirahatan setelah satu pagi di pertengahan 2013 mampir ke Pasar Setui, Banda Aceh membeli bunga tabur untuk IBU. Lalu mendadak merasa seperti orang yang sedang berbunga – bunga sore itu, yang hendak menyambangi seseorang yang membuat hatinya berbunga. Tiga tangkai anggrek vanda sudah dalam genggaman tangan, sengaja dibeli di kedai bunga di pelataran parkir taman pemakaman umum Menteng Pulo.

Selalu ada potongan masa yang berkelabat di dalam kepala setiap kali menjejakkan kaki di tempat yang teduh meski terkadang sangat senyap ini, Ereveld Menteng Pulo. Entah kenapa imaji malah melayang pada monumen Karel Doorman yang berdiri kokoh di tengah – tengah Ereveld Kembang Kuning, Surabaya. Bukankah kemarin 73 tahun kepergiannya?

Ik val aan, volg mij!” serunya menyemangati awak kapalnya. Hari itu, 27 Februari 1942 Karel Doorman memimpin armada laut sekutu bertahan menghadapi gempuran armada laut Jepang yang lebih kuat di Laut Jawa.De Ruyter perlahan tenggelam setelah lambungnya dirobek torpedo Jepang. Karel Doorman memilih menjadi kesatria, ia tetap berada di atas de Ruyter hingga kapal itu hilang ditelan laut Jawa. Peristiwa di sekitar utara perairan Bawean, Jawa Timur itu kemudian dikenal sebagai Pertempuran Laut Jawa.

ereveld kembang kuning, karel doorman, petempuran laut jawa

Monumen Karel Doorman di Ereveld Kembang Kuning

Pada 5 Maret 1942, Jepang mulai melangkah masuk ke Batavia (sekarang Jakarta) setelah pendaratan di Teluk Banten, Eretan Indramayu dan Kragan Rembang pada 1 Maret 1942 dinihari. Mereka mengincar Andir (sekarang Bandara Udara Internasional Husein Sastranegara), Kalijati (sekarang Landasan Udara Suryadarma) dan Cililitan (sekarang Bandara Udara Halim Perdana Kusuma); tiga lapangan terbang penting di pulau Jawa.

Suasana semakin memanas, di dalam tubuh militer Hindia Belanda sendiri pegulatan emosi antara perwira tingginya juga bergejolak. Melihat ketegangan yang terjadi sebagian besar perwira diungsikan ke Australia, mereka diberangkatkan tanpa membawa keluarga. Spoor yang kala itu bertugas sebagai staf intelijen di Staf Umum Bandung meminta ijin kepada Ter Poorten, Panglima Tertinggi Tentara Hindia Belanda untuk berangkat ke Australia dan mendapat ijin untuk terbang dengan pesawat terakhir pada Sabtu, 8 Maret 1942 dari Andir.

Keberangkatannya diwarnai drama, istrinya Rika yang tak dipamiti berniat bunuh diri dengan menenggak racun seranga. Beberapa saat sebelum pesawat yang akan ditumpangi berangkat, Spoor malah menghilang dari lapangan udara dan muncul terengah-engah sesaat sebelum pesawat tinggal landas.

Penguasa Hindia Belanda sudah merasa ketar-ketir sejak Singapura diserahkan oleh Arthur Percivale tanpa perlawanan kepada Laksamana Yamashita pada 15 Februari 1942. Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan, kekuatan armada perang Jepang yang menunjukkan taringnya dalam penyerangan ke pangkalan angkatan laut Amerika, Pearl Harbour 7 Desember 1941 adalah salah satu buktinya. Pada 9 Maret 1942 Ter Poorten bersama Mr AWL Tjarda van Starkenborgh, Gubernur Jenderal Belanda datang memenuhi undangan Hitoshi Immamura, Komandan Tertinggi Jepang untuk berunding di rumah dinas perwira staf Sekolah Penerbang Kalijati. Ter Poorten diberi waktu 10 menit untuk berpikir sebelum mengambil keputusan menyerah tanpa syarat dan menyerahkan seluruh wilayah kekuasaan tentara Hindia Belanda kepada Jepang.

royal air force, ereveld menteng pulo

Monumen peringatan untuk Royal Air Force di salah satu sudut Ereveld Menteng Pulo

Jepang sangat yakin telah menguasai seluruh wilayah Hindia Belanda. Mereka tak menyadari di ujung timur, di sebuah kepulauan kecil di barat daya Papua; Spoor ditugaskan untuk menyusun strategi pengintaian. Spoor diangkat menjadi Panglima Militer dan Asisten Residen di Keresidenan Tual, Kepulauan Kei dengan ibukota Merauke. Kawasan kekuasaannya mencakup hingga wilayah kamp interniran Boven Digul, tempat yang dibuka sejak 1926 sebagai kamp penampungan tahanan politik Indonesia. Tugas Spoor mengemban misi: memetakan situasi, mengorganisir pertahanan dan menginspeksi para tahanan interniran di Boven Digul. Agustus 1942 Douglas Mac Arthur merapatkan armadanya ke Merauke dan membangun basis militer Sekutu, sebagai pangkalan untuk memimpin invasi Jepang di wilayah Pasifik.

Di bulan yang sama, Spoor ditarik kembali ke Melbourne. Karirnya perlahan menanjak meski tetap diwarnai dengan drama karena ide, kemampuan intelijensinya yang membuahkan penyusuran yang dalam untuk mengungkap satu kasus dan mengkritisasi pola kepemimpinan militer Belanda seringkali berseberangan dengan para perwira tinggi dan pimpinannya. Pada 1944 Spoor diangkat menjadi Direktur NEFIS (Nederlands East-Indies Forces Inteligence Service), organisasi intelijen angkatan bersenjata Hindia Belanda yang pernah dikritiknya sebagai sebagai organisasi misterius. Di bawah pimpinannya, NEFIS berkembang pesat menjadi organisasi mandiri Belanda yang terbesar di Australia.

Spoor memindahkan kantor NEFIS dari Australia ke Hindia Belanda dan kembali ke Batavia pada Oktober 1945 dengan satu jabatan baru yang menantinya sebagai Kepala Staf KNIL, orang kedua di jajaran tentara kolonial. Kepulangan ini membuahkan pertemuan keluarga yang terpisah karena perang, Spoor berkumpul kembali dengan Rika istrinya yang melewati masa perang di kamp interniran Cihapit, Bandung dan kamp Kramat. Ia juga bertemu dengan kakaknya Andre Spoor, yang pernah bertugas sebagai Residen Pontianak beserta keluarganya. Pada 31 Januari 1946, Spoor menerima komando menggantikan Van Oyen sebagai Panglima Tertinggi KNIL; jabatan yang dianggapnya sebagai permainan politik dan membuatnya stress.

travel bloggers indonesia, ereveld menteng pulo

Kawan berjalan, kakak – kakak Travel Bloggers Indonesia di Ereveld Menteng Pulo (dok. Bobby Ertanto)

Di depan tempat peristirahatan Jenderal Hendrik Simon Spoor, putera musisi Belanda, Andreas Petrus Spoor; cucu keponakan JE Jautze seorang anggota Korps Marsose yang bertugas di Aceh pada 1893 -1894; dua tangkai anggrek yang telah disematkan ke dalam vas bambu diletakkan sembari bergurau,”selamat beristirahat violist berbakat, sesekali perdengarkanlah gesekan biolamu di Simultankerk agar tempat ini tak selamanya senyap.” Saleum [oli3ve].

Yang dibolak balik:

  • Jenderal Spoor, Kejayaan dan Tragedi Panglima Tentara Belanda Terakhir di Indonesia, J.A. de Moor, 2015
  • Pertempuran Surabaya November 1945, Des Alwi, 2012
  • Doorstoot Naar Djokja, Pertikaian Pemimpin Sipil Militer, Julius Poor, 2010