Tags

, , , , ,


“Kok bisa isi blognya tentang Aceh sedang penulisnya orang Toraja?” tanya yang sering mengemuka acap kali ada yang mampir di sini atau di sana. Pula saat mudik ke Toraja akhir tahun kemarin, diberondong tanya serupa,“Kok bisa jatuh cinta pada Aceh?” Pertanyaan sederhana yang kadang membuat diri bingung dari mana memulai, membeberkan jawabannya. Secara raut wajah, sering disangka orang Jawa yang melahirkan canda dan mengakui diri sebagai orang Solo[wesi]. Tapi ketika disapa dengan bahasa Jawa, jawabannya pasang muka tak bersalah sembari senyam-senyum.

image

Cinta mengajak langkah menyusuri jejak manuskrip Aceh ke Univ. Kebangsaan Malaysia

Jadi kenapa Aceh? Mungkin jawaban Bang Tunis, rakan dari Nanggroe yang sedang menikmati perselingkuhannya dengan Heizung di tengah salju Berlin ini bisa sedikit mencerahkan,”karena, Nanggroe untuk dicintai.

Terkadang cinta membuat diri melakukan ragam langkah di luar batas nalar. Langkah yang hanya akan dimengerti bila seseorang pernah atau memiliki rasa dan ditautkan oleh energi yang sama. Bagaimana kalau tanyanya dibalik,”Pernah jatuh cinta?” Cobalah memahami jawabnya lewat petuah Gibran.

Ketika cinta memanggilmu, maka dekatilah ia walau jalannya terjal berliku. Ketika cinta memelukmu, maka dekaplah ia walau pedang di sela-sela sayapnya melukaimu – [Kahlil Gibran]

Alkisah satu pagi, kala mata masih sepet dan otak masih enggan untuk diajak bercanda; sebuah pesan diterima dari Firsta, sahabat yang dipertemukan lewat komunitas Travel Bloggers Indonesia. “Mbaaaak, buka tautannya dan baca sampai akhir ya!” Dalam hati, bible aja masih teronggok di sisi bantal, disuruh baca berita ini. Namun, penasaran menggerakkan jemari membuka tautan yang dikirimkan dan mata fokus pada deretan tulisan di sana. Di ujung bacaan berkaca-kaca, meraih bible mengucap syukur untuk, Nanggroe!

Nanggroe mengingatkan pada Janji Senja di Lubuk Sukon dan impian di Bukit yang membuahkan pertemuan demi pertemuan dengan sosok-sosok inspiratif, mereka yang selama ini digadang hanya kan ditemui sebatas mimpi. Di pertengahan 2014, gairah Nanggroe kembali mempertemukan dengan teman berjalan yang akan mengiringi langkah menyusuri jejakmu, Meywah.

image

Foto keluarga #TravelNBlog angkatan pertama (doc. Firsta)

Berawal dari keriaan workshop #TravelNBlog yang berlangsung Sabtu (21 Juni 2014) lalu di Wego, walau pulang tak membawa door prize yang diperebutkan, hati tak kecewa. Tetap dan selalu bersyukur. Bersyukur perut dimanjakan dengan aneka cemilan hingga makan siang yang rasanya masih menempel di lidah sampai detik ini; bersyukur banyak pelajaran yang dipetik dari pertemuan setengah hari itu, bersyukur ada yang kegirangan duduk sebelahan bangku bahkan berani ‘nebak kembarannya Kk Indri, Tindak Tanduk Arsitek. Haha, Adie selamat! kamu bukan yang pertama koq. Dan, meski sudah lama ‘ngeblog, selalu menyenangkan untuk mengikuti keriaan workshop travel karena pasti ada sesuatu yang baru yang didapatkan dari kegiatan semacam ini.

Mereka yang berbagi di #TravelNBlog pun tak pelit menularkan jurus dan ilmu dengan riang gembira. Ariev Backpackstory berbagi bagaimana Crafting Your Story, Mumun dan Vira Indohoy mengeluarkan jurus Blogging in English, Wira yang foto-fotonya selalu menggiurkan memberikan tips Making Awesome Pictures dan yang ditunggu-tunggu serta menjadi tujuan awal ikut keriaan ini; Basic SEO dari Frista, Discover Your Indonesia.

travelnblog, berkat ngeblog, inpirasi keumala

Gairah Nanggroe mempertemukan dengan Meywah

Keterkejutan belum usai, jelang akhir Juli 2014 saat bebenah dan menyiapkan Meywah untuk melalang buana ke Negeri Gajah Putih, ada selebaran warna hijau yang melayang jatuh ke lantai. Upzzzz, selembar kertas ucapan yang ditulis tangan, diselipin oleh tim #TravelNBlog di kantong Meywah. Aaaaah, makasih ya!

Ingin menambah ilmu dan memaksimalkan kegiatan ‘ngeblog? Setelah Jakarta, #TravelNBlog yang merambah Bandung pada Desember lalu akan kembali digelar di Semarang dalam waktu dekat. Sering-seringlah mengintip info kegiatannya di SINI agar tak terlewatkan.

Kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini. Ada yang masih penasaran kenapa Nanggroe? Tanyakanlah kepada sang Pemberi Rasa, kenapa Nanggroe yang ditaburkan di dalam hati. Ada energi yang senantiasa membuat rasa membuncah dan bergairah ketika menyebut Nanggroe. Meski jalannya tak mudah, meski harus jatuh bangun, selama DIA yang menuntun berjalan; langkah ini tak akan pernah berhenti. Teruslah berjalan kawan, saleum [oli3ve].

Advertisements