Ada satu petuah bijak yang mengatakan bahwa jati diri seseorang dapat dikenali dari bagaimana tutur bahasanya dalam berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Bahasa adalah identitas suatu bangsa.

Langit senja menyapa kami di salah satu sudut desa Gantung, Belitung Timur. Pemandangan menawan yang melahirkan decak kagum pada Semesta, menemani langkah-langkah penasaran mendekat ke tanah yang lapang, di tepi telaga. Sebuah papan tulis putih bersih berdiri di sana, di depannya berderet meja-meja kayu kecil, diletakkan di atas hamparan tikar lais.
“Kiape kabare?” sapa seorang lelaki dalam balutan busana berwarna merah menyala, busana khas daerah Belitung sembari mengulurkan tangan. Pucuk kepalanya memakai tudung dari kain, sungkon; begitu mereka menyebutnya.
Sapanya disambut paduan suara anak TK yang baru kembali berdarmawisata dari Museum Kata serempak dengan, ”biaselaaaaah.” Kosa kata bahasa Belitung yang baru dipelajari di dalam bus. Masing-masing murid menerima seperangkat alat tulis yang akan dipakai selama belajar di sekolah dan dipersilakan untuk memilih tempat duduk yang nyaman untuk belajar.

Layaknya sebuah kelas baru, dengan murid-murid dan guru yang baru bertatap muka; sebelum proses belajar mengajar dimulai, sesi belajar dibuka dengan perkenalan. Ragam tanya dikumandangkan oleh murid-murid yang mulai terlihat keisengannya. Lelaki yang menyapa di luar kelas tadi namanya Pak Jaya, guru Bahasa Belitong; salah seorang guru di Kelas Petang, Sekolah Pelangi tempat kami hendak menimba ilmu sore itu. Pak Jaya memperkenalkan seorang guru lainnya yang akan mengisi kelas bahasa, seorang perempuan yang juga mengenakan busana serba merah. Ibu Nur Haryati namanya.
Pelajaran dasar yang diajarkan sore itu adalah berhitung, percakapan sederhana yang digunakan sehari-hari dan diakhiri dengan berkesenian.
Nak kemane?
Aku nak ngayau
sikok, duok, tige … !!
Kepice kepice ade jeramba gede
Aik gemuro aik gemuro bebue bue ….

Di tengah serunya pelajaran, konsentrasi beberapa murid mulai terpecah karena godaan alam yang memikat mata. Mereka yang tak betah duduk berlama-lama, memilih berkeliaran di sekitar ruang kelas, bermain ke tepi telaga. O,ya … ini bukan telaga alam, tapi telaga yang tercipta dari lubang bekas galian tambang timah yang kemudian digenangi oleh air.
Untuk menarik perhatian murid-murid yang terlanjur berkeliaran kembali ke kelas, kame bage jajak sikok – sikok!
Belajar di ruang terbuka memberi kesempatan kepada murid untuk lebih rileks sehingga otak mereka pun lebih segar dalam menyerap pelajaran, pula mendekatkan murid pada alam. Dan pelajaran yang mereka dapat di kelas pun bisa dipraktekkan langsung saat bersosialisasi di lapangan.

Mengenang masa belajar di Sekolah Pelangi, bangkitkan kenangan pada seorang generasi pelangi dari SD Muhammadiyah, Gantung. Seorang anak kreatif yang sosoknya membuat hati tertaut, Mahar.
baru saja berakhir
hujan di sore ini
menyisakan keajaiban
kilauan indahnya pelangi
tak pernah terlewatkan
dan tetap mengaguminya
kesempatan seperti ini
tak akan bisa di beli
bersamamu ku habiskan waktu
senang bisa mengenal dirimu
rasanya semua begitu sempurna
sayang untuk mengakhirinya
melawan keterbatasan
walau sedikit kemungkinan
tak akan menyerah untuk hadapi
hingga sedih tak mau datang lagi
janganlah berganti
[Ipang Sahabat Kecil, ost. Laskar Pelangi]
Tulisan ini didedikasikan untuk seorang Laskar Pelangi, Verrys Yamarno pemeran Mahar dalam film Laskar Pelangi yang kembali ke panguan sang Khalik pada Senin (12/01/2015). Tak ada yang pernah tahu kapan jarum kehidupan kita akan berhenti berputar, hanya DIA sang Empunya Hiduplah yang mengetahuinya, saleum [oli3ve].
Padahal aku ngarepnya dia bakalan terus eksis di dunia perfilman. Ternyata takdir berkata lain…. RIPVerrys
that’s life mas
jadi ngiler pengin jajak-nya lagi mbak 😀
aku koq pengen ke ngopi di Kopi Khuli ya? blom puas 😉
Kemarin mampir lagi di desa Gantung, and suddenly I missed you all!
Btw aku malah belum cicip Kopi Khuli, is it black coffee atau pakai susu?
*ngebayangin naik motor home*
waktu di Kopi Khuli aku pesan kopi hitam kk, nggak tahu ya kalau ada pilihan pakai susu. i prefer black lebih orisinil 😉
Mas Verrys meninggal di usia yang sangat muda. Semoga ia diterima di sisi-Nya. Amin :))
sudah jalannya mas, tinggallah jejaknya dikenang
Senang membaca tulisanmu…
eeh, ada yg mampir
btw aku suka ngintip2 tulisan the esjepe lho 😉
Aku suka paragraf pembukanya. Mencuri hati banget! ^_^
Kemarin kaget & sedih pas mendengar berita soal Verrys Yamarno.
Iya, kita tidak pernah tahu kapan akan kembali menghadap kepadaNya
ampun mbak, aku bukan pencuri hati 😉
Paragraf terakhirnya bikin merinding, Kak. Padahal pengen sekali ketemu anak-anak Laskar Pelangi suatu hari nanti ketika mereka berkumpul semua di Belitong. Tapi siapa yang bisa menduga kapan ajal tiba. 😥
Lempar jaket biar hangat kk Cit 😉
aah jadi kangen sama Fabio Cannavaro
Aih, ga kerasa udah 4 bulan sejak momen sore itu bareng Mba Olive dan temen2 #TourDeBelTim .. Masih suka nyanyi-nyanyi sendiri, kepice kepice ade jerambe gede .. Hehehehe ..
RIP Verrys ‘Mahar’ Yamarno .. 🙂
perasaan baru kemarin ya jumpa di CGK 😉