Tags

, , , ,


Sejatinya tulisan berikut ini adalah surat terbuka untuk Bapak Arief Yahya, Menteri Pariwisata Indonesia periode 2014 – 2019. Namun, menilik bahwa pariwisata bukan hanya menyangkut satu orang; maka surat ini saya tulis dan tujukan untuk diri sendiri sebagai pengingat dan kepada Indonesia tercinta agar dengan kesadaran penuh, kita bersama mau menjaga dan memajukan pariwisata Indonesia tanpa mengandalkan orang lain. Tulisan ini pula dimaksud untuk mengajak kita mencerna bersama Benarkah Malaysia tidak ada apa-apanya seperti yang diungkapkan oleh bapak Menpar?

indonesia bertindak, keluarga esjepe, cinta indonesia

Indonesia Mendambakanmu! ikon provokasi cinta Indonesia dari Indonesia Bertindak

Engkau mungkin tak akan pernah tahu apa yang akan kau dapat dari setiap tindakanmu. Tapi jika engkau tak melakukan sesuatu; engkau tak akan pernah belajar dan tak ada sesuatu pun yang akan terjadi. – [Mahatma Gandhi]

Sangat disarankan untuk menyediakan secangkir minuman penghangat untuk menikmatinya, selamat membaca.

Siapakah Travel Blogger di Dunia Wisata?
Travel blogger adalah pahlawan tanpa tanda jasa, mereka banyak membantu menulis dan mempromosikan wisata Indonesia meski tak diminta … pernyataan ini meluncur dari mulut Ibu Ratna Suranti, Direktur Pencitraan Indonesia dari Kementerian Pariwisata saat menjadi narasumber di ajang Kompasianival 2014, Sabtu (22/11/2014) lalu. Meski sempat berbunga ketika mendengar pernyataan tersebut, ada kecewa yang merebak tatkala memperhatikan halaman presentasi yang dipaparkan di Sasana Budaya, Taman Mini Indonesia Indah sore itu, hanya dihiasi oleh artis blogger yang itu-itu saja. Merujuk pada ibu Ratna, akun media sosial artis blogger yang selama ini diajak bekerja sama oleh Kemenpar untuk promosi wisata; pengikutnya banyak. Hmm … bagaimana dengan blogger/travel blogger yang pengikutnya sedikit, kasihan sekali mereka tidak dianggap!

Sedih saya bertambah karena ternyata dari obrolan singkat di TMII, sebuah simpulan mengemuka Kemenpar tidak memiliki database blogger Indonesia!

Pernyataan berbeda disampaikan oleh Musa Yusuf, Direktur Marketing Wisata Dalam Negeri, Kementerian Pelancongan dan Kebudayaan Malaysia ketika menjamu peserta Malaysia Tourism Hunt (MTH) 2013 di Putrajaya (22/09/13) lalu, travel blogger adalah rekan media yang banyak membantu sebaran promosi wisata. Karena berpandangan seperti ini, Malaysia melalui Kementerian Pelancongan dan Kebudayaanya mengajak 80 (delapan puluh) perwakilan media termasuk travel blogger dari Brunei, Filipina, Indonesia, Iran, Italia, Singapura, Thailand dan Malaysia untuk berpartisipasi dalam kegiatan MTH 2013 lalu.

malaysia tourism hunt 2013, putrajaya, musa yusuf, surat untuk menteri pariwisata

Media Brunei, Filipina, Indonesia bergaya bersama Musa Yusuf, Direktur Marketing Wisata Dalam Negeri, Kementerian Pelancongan dan Kebudayaan Malaysia di Putrajaya

Sebagai salah satu dari 3 (tiga) travel blogger Indonesia yang diundang ke kegiatan tersebut, tentu saya sangat bersyukur bisa terpilih dari sekian banyak blogger Indonesia tanpa melalui ajang lomba atau membandingkan jumlah pengikut akun media sosial. Selama 6 (enam) hari kami dibagi dalam kelompok kecil, masing-masing terdiri dari 3 – 4 orang dan diberi 1 (satu) unit kendaraan Proton Preve yang dikendarai menyusuri selatan Malaysia. Dalam enam hari itu pula lagu tema Visit Malaysia 2014, Celebrating 1Malaysia, Truly Asia menjadi lagu yang sangat familiar dan kami dendangkan di setiap perhentian.

Bangga? pastinya, bisa jalan-jalan gratis koq! Tapi yang membuat tercengang ketika dalam satu kesempatan, saya melayangkan tanya penasaran kepada salah seorang panitia darimana mereka mendapatkan data dan kontak saya? Kementerian Pelancongan dan Kebudayaan Malaysia memiliki database blogger dunia! Sehingga pada saat hendak melakukan kegiatan yang melibatkan blogger, data tersebut dibuka dan tinggal diseleksi nama-nama mana saja yang hendak diundang.

Budayamu Sejarahku
Ketika Malaysia mengklaim budaya yang menurut orang Indonesia adalah kepunyaannya, seIndonesia heboh menghujat negeri serumpun itu. Emosi menguasai lalu beramai-ramailah kita berteriak dan membuat gerakan anti terhadap saudara sendiri. Kenapa kita tidak berlaku bijak dan melirik sejenak catatan sejarah bangsa, timbang saling tuding dan menyalahkan?

Satu hari, kami mengunjungi satu perkampungan di daerah Selangor yang saya yakin tak banyak dikunjungi oleh pejalan dari Indonesia, Kampung Banghuris namanya. Kampung wisata yang dikelola dengan tetap mempertahankan kearifan lokal setempat oleh warganya dengan mendapat dukungan dari pemerintah. Banghuris adalah salah satu destinasi wisata yang sedang gencar dipromosikan oleh Malaysia. Yang menakjubkan adalah warga kampung ini sebagian besar keturunan Jawa, bahkan beberapa tetua di sana masih sangat fasih bertutur dalam bahasa Jawa. Maka jangan heran bila kesenian yang mereka tampilkan pun tak jauh berbeda dengan yang biasa kita lihat di Indonesia.

muzium lukut

Iring-iringan rombongan MTH2013 di sepanjang Seremban – Port Dickson jelang Lukut

Hal yang sama kami jumpai ketika dijamu makan malam di Port Dickson, tari-tarian yang disajikan sepanjang malam itu bernuansa Minangkabau dengan beberapa modifikasi. Pejabat dari departemen pelancongan menyampaikan bahwa kesenian yang disajikan memang berakar dari Minangkabau. Kenapa begitu? Karena mereka yang tinggal di wilayah tersebut masih mewarisi darah dari nenek moyang mereka yang berasal dari Sumatera.

Saya pernah membaca sepotong ungkapan yang mengatakan bahwa proses penghancuran suatu bangsa diawali dengan penghancuran peninggalan sejarahnya. Setelah mengetahui selintas catatan sejarah tersebut, masihkah kita akan bersikap arogan?

Bermain Angka dengan Malaysia
Tetiba tertarik untuk berbicara tentang angka. Jika Indonesia punya segalanya dibandingkan dengan Malaysia, pertanyaannya; berapa target angka kunjungan wisatawan mancanegara Indonesia di 2014?

28 Desember 2013, saya sedang menghadiri kegiatan peluncuran program Countdown Carnival Visit Malaysia Year 2014 (VMY 2014) untuk wilayah utara di Pulau Pinang ketika sebuah pesan singkat menggetarkan gawai yang diselipkan di dalam saku celana. Seorang kawan memberi kabar Kemenpar (kala itu masih Kemenparekraf) yang saat itu tengah berada di acara Lovely Desember Toraja memberikan pernyataaan bahwa target angka kunjungan wisatawan ke Indonesia di 2014 adalah sebesar 9,5 juta. Pada saat yang hampir bersamaan Haryanty Abu Bakar, Deputy Director, Malaysia Promotion Board, Penang; berbicara di depan perwakilan media dengan yakin menyatakan Penang optimis dapat menggaet 5,5 juta wisatawan mancanegara di 2014.

haryanti abu bakar, tourism board penang, visit malaysia yera 2014, wisata penang

Haryanty Abu Bakar, Deputy Director, Malaysia Promotion Board, Penang

Lalu, berapa target angka kunjungan wisatawan mancanegara Malaysia di 2014? 28 juta! Sementara Kemenpar baru mulai menabung untuk menggapai angka 20 juta di 2019, ya masih selisih 10 juta dibanding Malaysia yang menargetkan angka 30 juta di 2020.

Bagaimana Malaysia yang Tak Punya Apa-apa itu Mengelola Wisatanya?
Sadar potensi wisatanya tak seelok Indonesia, Malaysia mengatur strategi untuk mengelola, mengemas dan menjual destinasi wisata yang mereka miliki dengan baik. Minggu kedua April 2014 lalu, sebanyak 100 (seratus) travel blogger/blogger/video blogger, perwakilan media cetak dan televisi serta agen perjalanan dari 25 (dua puluh lima) negara berkumpul di Kuala Terengganu, Malaysia selama 6 (enam) hari dalam rangkaian program VMY 2014, Terengganu International Squid Jigging Festival 2014. Ada yang datang dari Inggris, Finlandia, Australia, Amerika dan tentu tak ketinggalan dari Asia termasuk Indonesia.

Alokasi dana untuk pariwisata benar-benar dipergunakan dengan baik, infrastruktur dibenahi sehingga perjalanan ke satu destinasi bisa dinikmati dengan nyaman. Masyarakat di sekitar tempat wisata ikut merasakan cipratan rejeki lewat pemberdayaan ekonomi kreatif. Pernah merasakan naik Hop on Hop off dalam jarak jauh? Saya sangat menikmatinya ketika kami meluncur menuju Pulau Pinang dengan segala keriaan bersama travel blogger ASEAN ditemani oleh Ibu Haryanti Abu Bakar. Di beberapa titik perhentian, rombongan kami yang disertai oleh sekelompok pekerja seni memperkenalkan ikon VMY2014 dan melakukan flashmob dengan iringan Celebrating 1Malaysia, Truly Asia. Tentu saja sesekali kami turun menari dan bernyanyi, senang sekali menikmati suasana gembira seperti itu.

countdown carnival vmy2014

Monyet Belanda ikut flashmob di rest area Tapah

Program promosi wisata Malaysia dipersiapkan dan dilakukan dengan gencar selama setahun jelang tahun wisatanya. VMY 2014 mulai didengungkan dari 2013!

Gencar melakukan branding dimana-mana itulah yang dilakukan oleh Malaysia, sedang Indonesia masih menimbang-nimbang untuk branding berapa banyak biayanya yang dikeluarkan? bukankah bisa memanfaatkan jasa travel blogger yang membantu promosi tanpa dibayar? Malaysia berani jor-joran untuk pemasaran wisatanya, hasilnya? Salah satu contoh sederhana, target pasar terbesar Legoland adalah wisatawan Indonesia! Sangat gampang kan mengajak orang Indonesia melangkah keluar dengan biaya yang terjangkau, sementara untuk mengenali negeri sendiri kita harus mengorek isi kantong dalam-dalam.

Indonesia memang punya segalanya, tapi Indonesia tak pandai untuk merawat dan memelihara harta kekayaannya dengan baik.

Orang yang merasa punya segala akan berjalan dengan pongah tanpa merasa perlu untuk mawas diri. Kenyamanan membuat kita lupa untuk mempersiapkan langkah ke depan hingga akhirnya ketika sesuatu yang kita miliki, yang biasanya tak kita hiraukan dipetik oleh tetangga yang lewat di samping rumah; kita seperti cacing kepanasan meradang dan menggelepar-gelepar tak karuan. Sikap seperti inilah yang banyak tumbuh dan dipelihara masyarakat kita.

Saya di PHP Indonesia
Dalam setahun ini saya mondar-mandir bertemu dengan para pelaku wisata di Malaysia, dari para petinggi di Kementerian Pelancongan hingga masyarakat pelaku ekonomi kreatif. Terima kasih kepada Malaysia yang telah membuka mata saya selebar-lebarnya sehingga sebagai seorang pejalan, saya dapat melihat, mensyukuri keindahan negeri sendiri dan menumbuhkan rasa cinta serta bangga pada tanah tempat dilahirkan dan berpijak.

Bulan lalu saya sedikit kecewa pada sebuah agensi dari maskapai penerbangan Indonesia yang telah mengirimkan soft copy kontrak kerja sama namun kemudian membatalkannya setelah sekian lama tak ada kabar. Saya dan beberapa teman travel bloggers Indonesia kena PHP! O,ya PHP itu pemberi harapan palsu, lalu gimana rasanya ketika harapan yang membubung itu dipatahkan di tengah jalan? Sakitnya tuh di siniiii di dalam hatiku πŸ˜‰ Satu bukti travel blogger yang bukan artis, yang punya pengikut akun media sosial seuprit belum dihargai dengan baik di negeri ini.

Apakah kecewa tersebut membuat saya kapok menjadi travel blogger? Nggaklah! Itu hanya satu ujian iman yang harus disyukuri bahwa saya bangga menjadi bagian dari Indonesia. Lalu siapa yang menghibur di jelang akhir tahun ketika di-PHP? Sorry to say, Malaysia!

surat untuk menteri pariwisata, indonesia bertindak, perempuan keumala

Indonesia cintaku tak sebatas kata – [Indonesia Bertindak]

Hari ini kita menjejak di hari pertama 2015 dan sejak pertengahan tahun lalu, saya sudah dikibas-kibas dengan program MyFest2015. Bagaimana dengan Indonesia? Langkah ini kan terus menyusuri jengkal tanah negeri dengan segenap cinta yang terus bertumbuh di dalam hati.

Pariwisata Indonesia butuh #RevolusiMental Jika ingin memajukan pariwisata Indonesia, belajarlah pada Malaysia.

Rantepao, Toraja Utara, 31 Desember 2014
saleum,
si #TukangKuburan

Surat untuk Bapak Menteri Pariwisata ini, ditulis dan dibagikan sebagai bentuk kepedulian bersama para pejalan yang tergabung dalam komunitas Travel Bloggers Indonesia. Dengan kapasitas kami sebagai pejalan; kami berjalan, kami melihat, kami merasakan, kami menulis dan kami berbagi untuk INDONESIA tanpa pamrih [oli3ve].

FYI, Tulisan ini telah direspon dengan baik oleh pihak-pihak yang terkait dengan Tourism Malaysia.

Surat-surat lainnya dapat dibaca pada tautan berikut:

  1. Atrasina Adlina – Surat yang Terlambat Untuk Menteri
  2. Bobby ErtantoΒ  – Dear Menteri Pariwisata Indonesia
  3. Danan Wahyu Sumirat – Repackeged Visit Indonesia Year
  4. Defi Laila Fazr – Sekelumit Tanda Tanya Perihal Neraca Satelit Pariwisata Nasional
  5. Fahmi Anhar
  6. Farchan Noor Rachman – Surat Terbuka untuk Menteri Pariwisata
  7. Felicita Lasmana – Target 1 Juta Wisman per Bulan di Mata Biolog, Pejalan dan Blogger
  8. Firsta – Tourism in Indonesia
  9. Indah Sachiko
  10. Indra Setiawan – Backpacker Borneo
  11. Indri Juwono – Peduli Budaya Lokal untuk Pariwisata Indonesia
  12. Lenny Lim – Surat untuk Menteri Pariwisata
  13. Matius Nugroho – Merenda Asa untuk Pariwisata Kota Indonesia
  14. Parahita Satiti – Surat untuk Pak Arief Yahya
  15. Rifqy Faiza Rahman – Di Tangan Arief Yahya, Saya Memilih Percaya
  16. Rijal Fahmi Mohamadi – Pariwisata Indonesia dengan Segala Problematikanya
  17. Taufan Gio – Kepada Gunung-gunung yang Dicuri
  18. Tekno Bolang – Lostpacker
  19. Titi Akmar – Secercah Asa untuk Pariwisata Indonesia
  20. Vika Octavia – Pariwisata Indonesia: Telur Dulu atau Ayam Dulu?
  21. Wira Nurmansyah – Sepucuk Surat untuk Menteri Pariwisata
  22. Yofangga Rayson – Pak Menteri, Padamu Kutitipkan Wisata Negeri
Advertisements