Tags

, , , , ,


Mukanya tertunduk malu. Seulas senyum tersembul di sudut matanya yang juga mengerling malu-malu, menatap tangan yang terulur ke hadapannya. Mungkin dia ragu untuk bertemu orang asing, meski orang asing yang ditemuinya membuatnya penasaran untuk tetap mendekat dan tak menjadi asing.

Hai, saya Olive. Nama kamu siapa?”
Fabio,” sambutnya lirih. Nyaris tak terdengar; tenggelam di tenggorokan yang tertekuk.

desa wisata gantung, belitung timur, kampung ahok, laskar pelangi

Sebuah rumah tua di bibir jalan Diponegoro, Gantung

Fabio … kening pun mengernyit. Nama yang tak biasa diserap otak yang telah merekam dengan jelas nama Ikal, Lintang, Mahar, Sahara, A Kiong, Syahdan, Kucai, Trapani dan Harun; para Laskar Pelangi dari Belitung seperti penuturan Andrea Hirata dalam novel dengan judul yang sama.

“Ayahnya sangat mengidolakan pemain bola Itali. Waktu anaknya lahir diberilah dia nama seperti nama pemain idolanya, Fabio Cannavaro,” tutur Nenek Haji dengan logat Belitong seperti membaca arah pikiran saya. Beliau pun menunjuk sebuah poster pemain bola yang tergantung di dinding beranda depan tempat kami bercengkerama petang itu. Sekelebat nama kemudian melintas, Yusmei; mungkin sebaiknya dia yang berada di tempat ini sehingga bincang soal bola tak tersendat pada sebatas nama.

Perkenalan dengan keluarga Nenek Haji terjadi sesaat setelah saya dan Thides diturunkan di depan gerbang sebuah rumah panggung Belitung di Desa Gantung, Belitung Timur akhir September lalu. Kehadiran kami disambut bak dua anak perempuan yang lama dirindu pulang dari rantau. Ragam tanya pun dilayangkan, tersembul di antara ragu dan penasaran. Tentu saja dengan senang hati kami memberi jawab karena kami pun senang mendapati raut muka teduh Nenek Haji, Pak Tatang, Ibu Ros, Fabio dan Cahya menyambut kehadiran kami. Menjadi bagian dari keluarga mereka walau hanya beberapa jam saja menumpang tidur di rumah mereka.

homestay belitung, fabio cannavaro

Beranda depan rumah Fabio Cannavaro

Demi melihat muka kami yang berminyak usai beraktifitas seharian di luar ruang, Ibu Ros menunjukkan kamar tamu di serambi depan untuk kami beristirahat dan mengantarkan ke kamar mandi untuk bersih-bersih.

Beginilah keadaan di sini. Rumah tua, ya seadanya. Ini rumah peninggalan orang tua,” suara Nenek Haji samar terdengar saat kaki melangkah ke kamar mandi.

Setelah bebersih diri, sembari menanti jemputan untuk makan malam Thides memilih mendekam di kamar mengutak-atik sesuatu di depan laptop. Saya beringsut ke serambi luar menikmati semilir angin dan paduan suara cengkerik dari balik semak-semak. Duduk di bangku kayu di depan kamar bangkitkan kenangan masa kanak-kanak pada sebuah rumah panggung sederhana nun jauh di kaki gunung di dataran tinggi Sulawesi.

jalan gantung, homestay belitung

Salah satu sudut jalan di Gantung

Damai perlahan menyusup menembus dasar hati. Bayang ayunan yang terdiam ditimpa remang cahaya lampu di sudut serambi membawa memori meliuk-liuk menggali potongan kenangan masa. Saya teringat amarah yang terpancar di wajah Om Dani tetangga sebelah rumah ketika mendapati kepala anaknya benjol karena tertimpa ayunan. Saking takutnya, sepanjang sore itu saya hanya berani mengintip dari celah jendela kamar memperhatikan raut muka Om Dani bersitegang dengan ibu yang dengan sabar meladeni ocehannya. Gelisah dan bersalah menghantui rasa karena telah mendorong kencang-kencang ayunan hingga terpental. Ketika mengenangnya di masa kini, kisahnya menjadi potongan kenangan yang membuat bibir tersenyum.

fabio cannavaro, rumah belitung timur, homestay belitung

Rumah Fabio Cannavaro

Lewat satu jam menunggu, perut mulai meringis menahan lapar. Thides keluar sebentar mencari tahu kenapa kami belum juga dijemput padahal tanda waktu sudah bergeser jauh dari waktu yang dijanjikan. Kata Nenek Haji tempat kami akan menikmati santap malam tak jauh, bisa direngkuh dengan berjalan kaki. Kami hanya berusaha bersabar meski cacing-cacing di perut semakin melancarkan demo karena pasokan pangan semakin menipis dan kelaparan mulai melanda kampung tengah.

Tepat pk 20 ketika sebuah kijang memasuki pekarangan dan berhenti tepat di bawah tangga. Seorang mas-mas membuka pintu, turun dan menghampiri anak tangga paling bawah.

Mbak ketinggalan bis ya?

Hmm … sasaran empuk untuk melampiaskan emosi. Orang lapar disodorin tanya yang bangkitkan amarah bisa lebih beringas dari serigala kelaparan terlebih karena umbaran janji yang meleset.

homestay belitung

Kamar tidur dua anak perempuan di rumah Fabio

Boleh saya tahu tempat pertemuannya dimana mas? Kami menunggu satu jam lebih dari waktu yang disepakati untuk menunggu di homestay tak ada bis yang menjemput.”
Jadi mbak ketinggalan, mbak menunggu dimana?

Ingin rasanya memberangus mulut si mas-mas penjemput. Namun pada akhirnya, kekakuan jualah yang menghentikannya berkicau hingga hanya senyap yang menemani perjalanan ke Galery Bukit Raya Laskar Pelangi. Sampai di tujuan, rasa lapar meluap berganti cemas saat menyadari kamera tertinggal di serambi luar rumah. Mau tak mau perbincangan harus kembali dimulai.

Hmmm, mas sorry ya lagi emosi. Boleh nggak mengantarkan saya kembali ke homestay? kamera saya ketinggalan di depan rumah.”
Tapi mbak ditunggu di dalam, sudah waktunya makan malam. Nanti saya yang ambil, mbak masuk saja dulu.” Blesssss, hati yang mendidih serasa disiram air es.
Tadi kameranya tertinggal dimana?” masnya melanjutkan tanya yang terpenggal sesaat, mungkin tertegun dengan perubahan emosi yang mendadak.
Terakhir saya geletakin di atas bangku kayu di serambi luar tempat saya tadi duduk waktu mas datang, makasih ya mas.”

Emosi yang tak terkendali bisa membuatmu lupa diri. Bersyukur energi positif itu melesat ke permukaan saat getir berusaha mengaduk rasa, hingga kendali diri pun bisa dikembalikan tanpa perlu bersitegang. Ketika si masnya kembali dari menjemput kamera yang tertinggal, lega pun menyelimuti hati.

Memandangi Fabio yang bersiap ke sekolah dari serambi depan

Memandangi Fabio yang bersiap ke sekolah dari serambi depan

Usai makan malam, kami pulang ke rumah. Fabio dan Cahya sudah lelap dibuai mimpi di atas kasur yang sengaja digelar di depan tivi. Saya turun ke ruang tengah, sebuah ruang di bangunan tambahan semi permanen yang menempel di belakang rumah induk. Ruang ini digunakan sebagai sebagai ruang keluarga dan ruang makan. Di ujungnya ada pintu menuju satu ruang besar tempat dapur dan ruang cuci.

Penasaran karena pintu rumah tetap dibiarkan terbuka ketika kami pulang, saya pun bertanya pada Ibu Ros yang terkantuk-kantuk mengerjakan sesuatu di meja kecil di seberang tivi. Menurut Nenek Haji dan Ibu Ros, warga Gantung tidak pernah khawatir meninggalkan rumah dalam keadaan tidak terkunci karena semua aman. Mereka memelihara rasa saling percaya, satu kondisi yang sudah langka ditemui di kota besar. Satu hal yang saya syukuri ketika mengingat kejadian kamera yang tertinggal dan kembali utuh ke tangan.

kantor pos gantung, homestay belitung

Seorang anak melintas di depan kantor pos Gantung

Di antara rasa kantuk yang mulai mendera, kami berbincang seputar keluarga hingga cerita keriaan saat syuting film Laskar Pelangi di Gantung. Pun diiming-imingi nikmatnya kopi Belitung yang wajib disesap di warung kopi bila ke Manggar. Ya, nikmatnya kopi Belitung telah terbukti di Gantung. Sensasinya peluruh emosi yang menggebu kala menyesapnya di rumah Ikal, ampuh menepis penatnya hati tuk mensyukuri hari ini di samping sekolah Laskar Pelangi usai makan malam tadi. Aah, kopi Belitung penghibur sejati sedari menjejak di sini.

Saat mata Ibu Ros dan saya semakin redup, mata Nenek Haji masih tetap berpijar menikmati tayangan yang tersaji dari kotak bergambar di depannya. Kala kantuk sudah tak tertahankan, saya pun pamit beristirahat agar esok pagi badan tak gontai untuk melanjutkan perjalanan. Malam itu, saya terlelap hingga suara Ibu Ros terdengar sayup di pagi buta mengetuk daun pintu, membangunkan untuk bersiap sebelum matahari menyapa Gantung. Pagi pertama dan terakhir di Gantung, hanya ingin memenuhi rongga dada dengan udara segarnya mengajak langkah keluar rumah menikmati suasana pagi.

Fabio dan Cahya belum bangun ketika kaki melintas di ruang tengah menuju kamar mandi. Mereka tampak sangat menikmati mimpinya ditemani Nenek Haji yang terlihat asik menyimak berita pagi di depan tivi, di ujung kasur tempat yang juga didudukinya semalam saat kami berbincang.

homestay belitung

Nenek Haji asik menonton tivi di ruang tengah

homestay belitung

Foto bersama Nenek Haji sebelum pamit

Fabio Cannavaro, teruslah bermimpi, kejar citamu tuk baktikan diri pada negeri. Satu hari nanti, saya kan kembali menjumpai dan melihatmu tumbuh sebagai pelangi dari Gantung. Tolong ingatkan saya di pertemuan kita nanti untuk berbagi cerita dan impian yang dituturkan Koh Yuyu kala kami bersua di Bukit Samak. Tentang angannya untuk membina Gantung menjadi desa wisata yang tak tercemari budaya luar, tentang asa besarnya pada generasimu dan tentang mimpinya akan Kota Pelangi yang kan mewujud di Belitung Timur dua puluh tahun mendatang. Masa depan itu sungguh ada di tangan generasimu Nak, saleum [oli3ve].