Tags

, , , ,


Satu siang di akhir pekan ketika kedai-kedai kopi belum menebar aroma perangsangnya, ketika gerai-gerai distro masih digembok, berdua dengan seorang kawan; kami menyusuri lorong-lorong yang masih terlelap di lantai satu Pasar Santa, Jakarta Selatan. Oleh seorang kawan yang mengelola satu kedai di sana, kami diajak menikmati Ayam Bakar Madu di pusat jajanan di lantai satu sembari melanjutkan obrolan campur aduk di pertemuan siang itu.

pasar santa, kedai kopi pasar santa

Kaum urban berbagi kebersamaan di kedai kopi Pasar Santa

Dua bulan ini nama Pasar Santa menjadi sangat akrab di kuping kaum urban Jakarta. Mereka yang biasanya mengisi akhir pekan dengan berkumpul di mal atau kedai kopi berhawa sejuk mendadak ramai mengunjungi pasar. Ungkapan “belum gaul bila belum ke Pasar Santa” pun menjadi slogan eksistensi diri. Sedang bagi pengusaha muda yang membuka kedai di Pasar Santa, harga sewa kios yang berkisar 3,5 – 5 juta per tahun menjadi daya tarik untuk membuka usaha di sana.

Kedai-kedai di sini baru buka sekitar pk 14, ramainya jelang petang,” tutur kawan yang saya jumpai siang itu. Murahnya harga sewa kios membuat banyak orang yang kalap mengambil kios tanpa tahu mau usaha apa, yang penting diambil dulu sebelum habis. Pengelola pasar sudah mewanti-wanti para penyewa jika tidak membuka kiosnya 25 Oktober nanti, agar over sewa kepada yang berminat dan siap berjualan, imbuh sang kawan.

Usai santap siang sang kawan pamit hendak berbenah di kedainya meninggalkan kami melanjutkan obrolan dengan Ibu Yuli, pemilik Dapur Nanda. Saya sudah mendengar kisah Ibu Yuli yang setahun ini hatinya tergerak menyediakan nasi bungkus untuk anak jalanan di sekitar Pasar Santa. Dari kesenangan memasak, Ibu Yuli pun menyiapkan sendiri makanan yang hendak dibagikan. Setiap pagi Ibu Yuli membagikan 50 – 60 bungkus nasi di jalan. Tak hanya anak jalanan, para petugas kebersihan yang ditemuinya pun diberi nasi bungkus.

Untuk mendukung kegiatan sosialnya, Ibu Yuli yang sehari-hari menjalankan usaha percetakan kecil-kecilan di lantai dasar Pasar Santa, bersama beberapa kawan kemudian menyewa sebuah kios di lantai satu yang dijadikan Dapur Sosial Ibu Yuli. Dana untuk mengelola kegiatan ini terkumpul dari sumbangan donatur, kalau pun dana tidak mencukupi Ibu Yuli tetap menjalankan kegiatan berbagi nasi bungkus dengan lauk seadanya dan mengeluarkan dana dari dompet sendiri. “Kasihan, mereka butuh makan,” kata Ibu Yuli.

Bersamaan dengan menggegapnya Pasar Santa, hati Ibu Yuli dan dapur sosialnya pun turut menggegap. Harga sewa kios yang dijadikan dapur umum di pasar yang jatuh tempo di bulan Oktober mulai menari-nari di depan mata, membuat hati kebat-kebit. Darimana dana untuk menutupi biaya sewa? Bagaimana nasib mereka yang setiap pagi menanti sebungkus nasi sebagai sumber energi dari dapurnya?

dapur sosial ibu yuli, pasar santa, kedai kopi pasar santa

Ibu Yuli dan tim menyiapkan nasi bungkus untuk bakti sosial di Dapur Sosial Ibu Yuli, Pasar Santa

Beberapa hari menjelang keriaan untuk mempererat kebersamaan di tengah Pasar Santa yang diagendakan pada 25 Oktober nanti, sebuah pesan singkat menyentak sanubari. Dapur Sosial Ibu Yuli diminta dikosongkan oleh Inter Wahana Nuansa; pengembang dan pengelola pasar di hari itu karena akan disewakan kepada calon penyewa yang secara kebetulan adalah sebuah grup band besar yang gerakannya senantiasa mengatasnamakan kemanusiaan.

Kami tidak rela dapur sosial kami diusik karena kita sama-sama bayar sewa hanya demi menutup malu pengelola kepada calon penyewa yang mungkin tak tahu menahu kalau tempat itu digunakan sebagai dapur sosial.”

Di saat revolusi mental sedang didengungkan menyambut Indonesia baru, ada pergolakan mental yang juga sedang merayap diam-diam dari bawah. Pasar Santa Kembali Eksis! Pesonanya menarik kaum urban untuk bertandang dan menjalin keakraban di tengah pasar yang sebelumnya tak dilirik. Sebuah destinasi wisata kuliner baru di Jakarta yang semarak di akhir pekan, yang bersiap untuk menyatakan diri sebagai tempat berkumpul yang menyenangkan. Tapi pernahkah kita mengupas sisi kemanusiaan yang terjadi di dalamnya? Adakah sebuah kebersamaan, jika mereka yang peduli pada kebersamaan harus tersingkir karena alasan kebersamaan itu sendiri? Saleum [oli3ve].

*sebelumnya dipublikasikan di Kompasiana, 21 Oktober 2014*

Advertisements