Tags

, , , , , ,


sebermula adalah kata
baru perjalanan dari kota ke kota
demikian cepat
kita pun terperanjat: waktu henti ia tiada

Potongan puisi Dalam Bis karya Sapardi Djoko Damono (SDD) di atas, menjadi tema musikalisasi puisi AriReda semalam di Coffee War Kemang, Jakarta Selatan; Sebermula adalah Kata.

arireda, musikalisasi puisi sdd

AriReda @Coffee War, Kemang

Sudah terlalu lama tak mendengarkan suara mereka secara langsung. Kalau tak salah mengingat, kali terakhir menikmati duet mereka kala tampil di Blues for Freedom; Oktober 2010 silam di Galeri Foto Jurnaslistik Antara. Meski menyempatkan diri hadir pada Konser Kaki Langit Jubing Kristianto di Bentara Budaya Jakarta Maret 2011; namun malam itu hanya Reda yang hadir menjadi bintang tamu. Selebihnya, waktu tak berjodoh untuk muncul di beberapa acara mereka.

Tak mudah untuk mengubah puisi ke dalam bentuk nada. Pula tak gampang untuk memenggal untaian kata dalam larik-larik puisi menjadi sebuah lagu yang berirama. Demikian salah satu topik yang mengemuka dalam diskusi mengenai musikalisasi puisi yang mengawali acara tadi malam. Penggalan kata yang salah akan menghasilkan makna yang berbeda bisa jadi melenceng dari makna yang ingin disampaikan oleh penyair lewat puisinya. Meski pada akhirnya harus diakui sang penyair kehilangan hak tafsir atas karyanya ketika karya tersebut sampai ke tangan pembacanya.

arireda, musikalisasi puisi sdd

AriReda @Coffee War, Kemang

Seperti biasa AriReda yang dimotori oleh Ari Malibu dan Reda Gaudiamo tampil all out. Membuka musikalisasi puisi dengan Akulah si Telaga karya SDD dari album Hujan Bulan Juni. Lalu susul menyusul dengan jeda berbagi kisah di balik penciptaan musikalisasi puisi yang dibawakan: Di Restoran, Gadis Kecil, Nokturno, Sajak-sajak Kecil tentang Cinta, Ketika Jari-jari Bunga Terbuka, Gadis Peminta-minta, Metamorfosis, Hatiku Selembar Daun, Aku Ingin, Hujan Bulan Juni, Kuhentikan Hujan, Ketika Kau Tak Ada dan Ketika Berhenti di Sini.

Tak ingin mengecewakan para sahabat yang menyesaki Coffee War; masih ada sajian bonus di akhir musikalisasi puisi. The Boxer dari Simon & Garfunkel pun menghentak ruang kedai yang sebelumnya hanyut dalam sepi mendadak riuh. He was My Brother, Bridge Over Troubled Water, Blowin’ in The Wind, Imagine hingga Homeward Bound mengalun diiringi salakan gitar khas gaya Ari. Tak ketinggalan Junk-nya John Denver pun memenuhi setiap sudut Coffee War hingga AriReda menutup penampilan manis mereka dengan Bye Bye Love Hello Lonliness-nya Everly Brothers.

coffee war, arireda, musikalisasi puisi

Suasana di Coffee War semalam

Semalam AriReda ditemani oleh Henrikus Wisnu Groho dengan sajian bunyi-bunyiannya yang memperkaya rasa, berpadu dengan Petrus Brianto Adi yang menimpalinya dengan bass. Serta ada Bonita dan Dima Miranda yang juga turut berdendang bersama mereka melantunkan tembang kenangan.

Tiga puluh dua tahun bukanlah waktu yang singkat bagi AriReda untuk menapaki perjalanan berkolaborasi. Sepanjang masa itu banyak proses yang mereka jalani, termasuk mengalami masa bermusuhan selama beberapa tahun. Di malam nostalgia dan temu kangen semalam, kedai kopi menjadi saksi sebuah rahasia tersingkap; Ari Malibu bukanlah anak UI. Bravo AriReda, selalu suka dan cinta dengan kreatifitas kalian. Saleum [oli3ve].

Advertisements