Tags

, , , , ,


Bu, mana tandanya? Koq bersih?” sapa seorang rekan kerja sembari nunjuk-nunjuk ke laptop.
Tanda apa sih?” mata berusaha mencari tanda mengikuti arah yang ditunjuk.
Tanda begini,” diunjukkannya kelingking kanannya yang belepotan tinta ungu.

Kebanggan terpancar di sudut matanya bisa menunjukkan bukti kalau dirinya mengikuti keriaan demokrasi yang berlangsung Rabu (09/07/2014) kemarin. Urusan pertintaan yang telah membuat ramai timeline media sosial dengan unggahan beragam gambar diri memamerkan seujung jari hingga dua jari berlumuran ungu.

Kisah perjalanan 12 jam itu pun kembali terurai …

Dengan napas tersengal kaki dipacu untuk merapat ke ruang bertanda TPS 23 bertepatan saat seorang petugas pertahanan sipil menyobek potongan kertas penanda yang menempel di depan kaca ruang kelas yang disulap sebagai TPS.

Huffhuuufhhhhh … siang pak, saya mau nyoblos.”
Sudah tutup. Coba aja ke TPS sebelah.”
Tapi pak, nama saya tercatat di TPS ini.”
Eh, si Neng yang kemarin juga telat kan?”
Maaf, saya baru kali ini muncul di sini koq pak.”

Beragam uraian dari penjelasan kenapa baru sampai di TKP selang sepersekian menit dari kata TUTUP mereka kumandangkan hingga kata rayuan tak mempan untuk menggoyahkan saksi memberi kesempatan satu suara untuk INDONESIA. Seorang petugas yang baik hati mencoba membantu merayu petugas TPS namun tak digubris. Diajaknya kaki bergegas ke ruang sebelah, dua TPS yang menempati ruang kelas di kanan TPS 23. Di TPS 24 petugasnya sedang bersenda gurau, bilik suara masih terpasang rapi, kertas suara yang masih bersih pun berserakan di atas meja. Di meja pendaftaran pak Agustinus tampak sibuk mencatat sesuatu sehingga hanya meladeni pinta dengan lirikan mata dari balik kaca mata berbingkai tebalnya,”Tos tutup kang, coba TPS sebelah.”

Kami melangkah ke ruang sebelah. Di ruang dengan penanda TPS 25 ini manusianya terlihat lebih serius. Duduk membentuk huruf U dengan kotak suara digeletakkan di tengah. Sambutannya pun sama, dingin, meminta kembali ke TPS asal. Entah kenapa, siang itu tak terlalu bersemangat untuk ngotot!

golput pilpres 2014

Nomor Hotline petugas PPS 😉

Bekal KTP ternyata tak cukup untuk menunaikan kewajiban sebagai warga negara yang baik. Dua TPS di Mampang menolak dengan alasan khawatir surat suara yang disediakan untuk DPT setempat tak mencukupi. Sedang petugas PPS yang dihubungi dengan tegas mengatakan tak bisa lagi mengeluarkan form A5 karena tenggat waktu yang diberikan telah HABIS! Menjadi tanya ketika bersua dua perantau di depan pintu PPS pagi itu yang telah memegang form A5 asli tapi ditolak juga di TPS yang ditunjuk. Lalu????

Tak kehilangan semangat, saya memacu langkah ke Pasar Festival mengejar jadwal travel yang berangkat ke Bandung. Sempat melirik seliweran info terkini seputar tata cara nyoblos, termasuk info banyaknya perantau yang terancam golput karena tak memiliki form A5. Namun ada pula perantau yang beruntung bisa memberikan suara hanya dengan membawa KTP ke TPS tanpa proses berbelit. Sepertinya masing-masing TPS punya kebijakan tersendiri dalam menerapkan aturan mainnya.

Lalu lintas Jakarta – Bandung tak terlalu padat hingga kami menggapai pintu tol Pasteur pk 12.15. Dari Ciwalk saya melanjutkan perjalanan dengan Cipaganti menuju lokasi TPS terdekat dari rumah. “TPS 23 di sekolahan dekat rumah tante Katty,” bunyi pesan yang diterima saat melaju dari Cihampelas. Dan, di sinilah langkah berakhir, tersenyum perih di samping TPS 23 setelah DITOLAK di 5 (lima) TPS! Penolakan yang memperpanjang status GOLPUT.

Kesal, sedih, kecewa, campuran emosi yang mengaduk rasa di siang terik. Belum lagi tenggorokan kering ditambah rasa lapar yang mulai menyerang karena sepagian belum sesuap pun makanan masuk ke lambung. Saya menghempaskan pantat di salah satu bangku kayu yang ada di depan TPS 24, kesal karena semua usaha yang dilakukan hanya menuai kekecewaan. Lemas tertunduk memaku pandang pada lantai semen di ujung kaki ketika pak Agustinus mendadak sudah menancapkan pantatnya di bangku sebelah.

golput pilpres 2014

Penghitungan suara di TPS 24

Sedih ya Neng? Maaf ya, bapak henteu bisa bantu. Aturannya memang begitu dan ada saksi yang pegang keputusan.”
Gak papa pak, saya hanya sedih karena segala usaha yang saya lakukan hari ini menemui jalan buntu. Saya bela-belain pulang demi nyoblos tapi hanya karena telat dikit nggak bisa memberikan suara.”

Penuturan pak Agustinus yang mencoba membesarkan hati disertai permintaan maafnya membuat dada sesak dan ujung mata memanas. Sekuat daya menahan agar banjir bandang tak terjadi di siang bolong. Tiga puluh menit berlalu, sorak kegirangan dari TPS 23 yang menuntaskan perhitungan suara dengan keunggulan nomor 1 terdengar seiring ayunan langkah meninggalkan pelataran sekolah.

golput pilpres 2014

Mengintip proses penghitungan suara

Tak ingin berlarut dalam kekesalan, saya memutuskan untuk menikmati kota Bang Emil dan mulai mengubek-ubek informasi tempat nongkrong tak biasa yang bisa didatangi sembari menunggu jadwal kepulangan ke Jakarta. Soldatenkaffee!

Pk 18.45 … bus yang dijejali manusia-manusia urban bergerak perlahan meninggalkan pelataran hotel Batara. Di bangku paling belakang saya memasang earphone dan dengan segenap asa bersenandung lirih …

Syukur untuk setiap rencanaMU
dan rancanganMU yang mulia …

Kuucapkan berkat atas Indonesia,
biar kemuliaan Tuhan akan nyata

Bagi bangsa ini kami berdiri
dan membawa doa kami kepadaMU
sesuatu yang besar pasti terjadi
dan mengubahkan negeri kami
hanya namaMU Tuhan ditinggikan
atas seluruh bumi

Kami tahu hatiMU ada di bangsa ini

Setiap perjalanan memiliki kisah dan maknanya sendiri. Akankah perjalanan itu membawa kembali semangat untuk terus melangkah, ataukah akan membuat langkah undur lalu terhenti. Semua tergantung pada manusia yang melangkah di sana.

enjoy jakarta

Rasuna Said pk 21.00 sepiii?

Pk 21.00 kaki kembali menjejak di Rasuna Said. Bersyukur atas segala rahmat yang bisa dinikmati meski ada rasa nano-nano bercampur kecewa melanda. Diingatkan Tuhan akan kata cukup dan syukur lewat obrolan singkat dengan pak Sulaeman, supir taksi Gemah Ripah sepanjang perjalanan Cikawao – Cihampelas. Dipertemukan Tuhan dengan dua pengusaha muda Bandung, Mia dan Henry. Mia yang belum seminggu membuka rumah makan, dengan senang hati membantu mencarikan info travel bahkan meminjamkan telponnya untuk menghubungi beberapa travel. Kepergok Henry, pemilik Soldatenkaffee saat sedang asik jepret-jepret di kafenya membuka kesempatan ngobrol seputar usahanya yang menghebohkan dunia. Lalu, sebelum kembali ke Batavia, ditemani Nugie, adik angkat di TBI menikmati Pizza Peuyeum di Warun Laos.

Hari ini, ketika mendapati timeline medsos berisi keluh kesah beberapa kawan pejalan yang bernasib sama; kesal dan kecewa itu telah menguap. Meski tak dapat memberikan suara karena terbentur form A5; setiap langkah yang terayun, goresan yang tertuang lewat lembar tulisan, cita, air mata dan doa kami (pejalan) untuk INDONESIA TERCINTA. Saleum A5 [oli3ve].

Advertisements