Tags

, , , ,


Tinggal di Jakarta tapi tak tahu dimana jalan Thamrin? *terlaluuu* Coba tanya mereka yang berkantor di gedung-gedung di sepanjang jalan Thamrin, muka mereka berseri-seri ketika menyebutkan lokasi kantornya di sekitar jalan protokol yang membelah metropolitan Jakarta itu. Tapiiii, meski setiap hari menyusuri jalan itu berangkat dan pulang kerja, belum tentu mereka mengenal siapa sosok yang namanya diabadikan sebagai nama Jl MH Thamrin.

patung mh thamrin

Prince Red di depan patung MH Thamrin

Pk 06.30 di minggu pagi bundaran Hotel Indonesia (HI) sudah dipenuhi manusia. Ada yang sekedar duduk-duduk manis di bibir kolam air mancur menikmati pagi, ada yang asik mengabadikan diri dengan latar air mancur yang menjadi salah satu ikon kota Jakarta, ada yang menikmati sarapan, ada yang bergerombol berjalan dalam kelompok membawa spanduk komunitas, ada yang sibuk membunyikan bel sepeda meminta jalan di padatnya manusia dan beragam kegiatan lain yang dilakukan untuk mengisi pagi. Hari Bebas Kendaraan (HBK) dua tahun belakangan ini menjadi incaran manusia Jakarta untuk beraktifitas di sekitar Thamrin – Sudirman. Jika di awal pencanangan HBK sekitar 6 (enam) tahun lalu orang masih ogah turun ke jalan, jangan ditanya sekarang!

Tidak ingin bersaing dalam lautan manusia yang memadati kawasan HI, kami mulai bergerak mengayuh kereta angin di sela-sela pejalan kaki dan pengayuh sepeda lainya menuju Monas. Di depan patung pak Thamrin kami berhenti sejenak, memarkir sepeda dan mengambil gambar sebelum memulai perjalanan. Ya, inilah titik awal Gowes Heritage Djacatra: Jejak MHT “Betawi Perlente” (seri II).

patung mh thamrin

Patung MH Thamrin di satu senja menjadi tempat warga untuk bersantai

Muhammad Husni Thamrin (sering disingkat MH Thamrin), lahir di Jakarta 16 Pebruari 1894 dari keluarga yang berada. Kakeknya seorang Inggris pemilik hotel di kawasan Petojo yang menikah dengan perempuan Betawi. Meski darah Belanda mengalir dalam tubuhnya yang diturunkan dari ayahnya, tak ada wangi-wangi Belanda pada namanya. Thamrin yang sejak kecil diasuh pamannya karena sang ayah meninggal, menyandang nama sang paman Thamrin Mohammad Tabrie di belakang namanya. Thamrin mengenyam pendidikan Belanda, ia menamatkan sekolahnya di Konningwillem II sebelum bekerja di kantor residen Batavia lalu melanjutkan karirnya di perusahaan pelayaran Koninklijke Paketvaart-Maatschappij (KPM).

Kring … kring … gowes …gowes …
putar-putar Jakarta – Ancol – Monas lewat Harmoni bersepeda

Pamit pada pak Thamrin, kami kembali bergerak menyusuri Medan Merdeka, Gajah Mada, Kyai Tapa berbelok ke Biak menyusuri gang kecil hingga berhenti di sebuah stadion yang berdiri di tengah-tengah kampung di kawasan Cideng berbatasan dengan dinding ruko.

sejarah persija

Tim Gowes Heritage Jacatra di lapangan VIJ Petojo, Jakarta

Stadion Sepak Bola VIJ, tulisan samar itu terbaca di atas gerbang berupa tembok semen dengan pintu kecil yang terbuka lebar. Thamrin menyumbangkan dana sebesar 2000 gulden untuk pembangunan lapangan bola yang diperuntukkan bagi warga pribumi di Batavia (sekarang Jakarta) pada 1932 yang kemudian dikenal dengan lapangan VIJ (Voetbalbond Indonesia Jacarta). VIJ inilah sebenarnya cikal bakal lahirnya Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta (Persija).

Masyarakat luas mengenal Thamrin sebagai salah satu tokoh Betawi meski sangat jarang kita mendengar kiprahnya dalam catatan sejarah. Pada 1927 Thamrin menjadi anggota Dewan Rakyat (Volksraad) sebagai wakil dari Partai Indonesia Raya (Parindra) setelah sebelumnya ia pun duduk di Dewan Kota (Gemeenteraad).

makam mh thamrin

Makam MH Thamrin di Karet Bivak, Jakarta

makam mh thamrin

Tim rusuh di makam pak Thamrin

Thamrin adalah tokoh pergerakan kemerdekaan yang menyoroti masalah mikro yang berhubungan langsung dengan tatanan kehidupan masyarakat seperti sewa tanah, pajak serta harga komoditi yang dihasilkan oleh rakyat (kopi, kedelai, beras dll). Satu sosok yang dikenal menjalin hubungan baik dengan pemerintah Belanda demi memperjuangkan kemerdekaan dan juga dekat dengan Bung Karno.

Satu pagi di akhir pekan berikutnya, saat menyusuri Jejak Opium di kawasan Cikini Jakarta, kami mampir sejenak ke Museum MH Thamrin (tentang museum ini akan diceritakan di lain waktu ya). Di depan patung pak Thamrin yang berdiri tegak di halaman musium mata terpaku pada sebait tulisan di bawah kakinya:

memilih djalan jang sesoeai dengan perasaan ra’jat akan membikin ia bekerdja bersama-sama dengan gembira oentoek kesentaoesaan Noesa dan Bangsa

museum mh thamrin

Patung MH Thamrin di depan Museum MH Thamrin

Memori melayang pada potongan obrolan di Minggu pagi sebelum kami beranjak dari makam pak Thamrin. Ini orang besar namun akhir hayatnya mengenaskan … kepergiannya diliputi misteri, saat meninggal dia hanya menumpang hidup di sebuah kamar petak kecil di bilangan Sawah Besar, Jakarta Selatan. Beliau meninggal di usia yang masih sangat muda 46 tahun karena sakit pada 11 Januari 1941 dan dimakamkan di Karet Bivak Begraafplaats (sekarang TPU Karet Bivak). Salam gowes [oli3ve].

Advertisements