Tags

, , , , ,


Sabtu (10/05/2014) … mentari pagi mulai menyengat kala kami meninggalkan rumah makan cepat saji yang berpendingin di seberang stasiun Cikini. Hawa dingin berganti udara panas, mengiring langkah menyusuri gang sempit, berjalan di antara lapak pedagang di Pasar Ampium. Konon, asal kata ampium diambil dari kata opium yang dilafalkan oleh lidah penduduk setempat sebagai ampium.

Jalan ini bekas rel kereta yang menuju ke stasiun Salemba, nanti di depan masih tersisa jembatan kereta yang melintas di atas sungai Ciliwung,”tutur Mas Adit sembari menunjukkan posisi bantalan rel yang menggelembung di jalan yang melintas di tengah pasar yang kami lewati. Mas Adit, lengkapnya Aditya Dwi Laksana dari Kereta Anak Bangsa (KAB) yang sangat paham sejarah kereta api; pagi itu menemani kami blusukan di sekitar Cikini – Salemba.

pasar ampium

Melintas di Pasar Ampium, Kramat

Pasar Ampium pagi itu lumayan ramai, kiri kanan penjual buah, sayuran, ikan, ayam, barang kelontong, tukang pangkas rambut serta anak-anak kecil yang berkeliaran di sekitar halaman rumah orang tuanya yang berhimpit di tengah gang sempit yang ditemui saat keluar dari pasar. Sesekali badan perlu sedikit diserongkan untuk berbagi ruang dengan warga yang sedang berbelanja di salah satu warung atau saat melintas di tengah sekelompok warga yang sedang bercengkerama di depan pintu rumahnya.

Langkah kami mendadak terhenti ketika di tengah-tengah gang ada warga yang sedang menggelar hajatan dan menutup badan jalan yang sudah sempit. Inilah romantisme hidup di dalam gang. Bila ada warga yang menggelar kenduri, para tetangga dan warga yang melintas diharapkan pengertiannya karena kenyamanannya terganggu sesaat. Keluar dari Gang Ampium menuju Jl Kenari, kami mengasoh sejenak di atas jembatan kereta api yang kini difungsikan sebagai jembatan penyeberangan orang (JPO).

pasar ampium

Sisa bantalan rel yang ditutup dengan aspal

stasiun kereta salemba

Warga melintas di atas jembatan kereta api yang kini beralih menjadi JPO

Nahhhh, coba perhatikan dinding rumah ini,” lagi-lagi Mas Adit menunjukkan satu kejutan yang memesona mata.
Wooouuwwww …ini … ini…!”kehilangan kata melihat sisa bangunan stasiun Salemba yang kini menjadi dinding rumah petak warga.

Puas clingak-clinguk di depan pintu salah satu rumah warga, kami meneruskan langkah menuju Salemba. Tepat di seberang Museum MH Thamrin, kembali Mas Adit menunjukkan satu bukti peninggalan sejarah kereta api yang masih tertancap di bibir Jl Kenari, tiang pancang perlintasan kereta api. Satu jalur masuk ke gudang buah (kini Museum MH Thamrin) dan satu lagi ke pabrik opium. Ahaaaa … usai Kecanduan di Corong Opium, melongok Pabrik Opium menjadi pelengkap perjalanan menyusuri jejak opium.

stasiun salemba

Dinding stasiun Salemba yang masih tersisa

Tanpa mengisap opium imaji mulai berkelana pada catatan James R. Rush yang tertuang dalam Candu Tempo Doeloe, Pemerintah, Pengedar dan Pecandu 1860 – 1910. Potongan-potongan kisahnya serasa bertaburan di udara melayang satu per satu kala kaki melangkah ke pelataran pabrik opium pagi itu.

Jauh sebelum Belanda menjejak di Jawa, opium telah menjadi komoditas penting dalam perdagangan regional. Pada abad ke-19 para saudagar Tionghoa menguasai kantung-kantung opium di pesisir utara Jawa. Pengepak demikian sebutan mereka, mau membayar pajak yang cukup tinggi kepada pemerintah Belanda demi mendapatkan hak istimewa selama jangka waktu tertentu untuk memonopoli usaha dagang opium.

pabrik opium salemba

Pabrik opium yang kini menjadi ruang kelas

scott merrillees

Pabrik Opium 1905, kini Kampus Pasca Sarjana FEUI, Salemba (sumber : Greetings from Jakarta, Postcards of Capital 1900 – 1950, Scott Merrillees)

Opium menjadi menjadi salah satu sumber penghasilan bagi pemerintah Hindia Belanda yang sangat menguntungkan karena pajaknya besar. Uang yang dikeruk dari opium, kebun kopi dan ladang tebu digunakan oleh pemerintah Belanda untuk melunasi utang perangnya yang bertumpuk serta membiayai pembangunan rel-rel kereta api sebagai jalur transportasi nasional.

Para pengisap opium/pecandu terbesar masa itu adalah orang Jawa di samping orang Tionghoa. Di kalangan priyayi, opium menjadi bagian dari keramahtamahan yang disuguhkan kepada para tamu dalam sebuah perhelatan. Berbeda dengan saudagar Tionghoa kaya/pengepak yang mengisap candu di klub candu atau di rumah mereka yang besar dengan pipa-pipa mentereng, orang pribumi hanya mampu menyesap candu kualitas rendah di warung-warung pinggir jalan atau di ladang.

Morfin, narkotika utama yang terkandung dalam opium adalah penghilang rasa sakit yang digunakan secara resmi di dunia medis. Pemberian morfin kepada pasien sebagai stimulan untuk mengurangi sakit dibenarkan selama digunakan secara bertanggung jawab dalam takaran dosis yang dianjurkan dan di bawah pengawasan ahlinya. Ketika pemakaiannya disalahgunakan, timbullah ketagihan yang menyebabkan pecandunya terlibat masalah sosial dan ekonomi.

pabrik opium

Salah satu pintu di pabrik opium Salemba

Menyadari pengaruh buruk zat adiktif opium serta dampaknya pada kesehatan dan kesejahteraan sosial yang terjadi di masyarakat, pada 1880-an muncul gerakan anti opium yang didengungkan oleh para jurnalis, misionaris serta politisi Belanda. Didasari kepedulian pemerintah Belanda terhadap kondisi kesejahteraan spiritual dan material masyarakat Indonesia, dibentuklah regi opium yang menerapkan sentralisasi urusan opium di Batavia sebagai ibukota negara. Regi opium beroperasi di bawah pengawasan Departemen Keuangan.

Pada 1893, sebuah pabrik mulai dioperasikan di Batavia sebagai bagian dari pengambilalihan monopoli dagang opium dari para pengepak yang semula terbagi-bagi di beberapa daerah. Untuk mengantisipasi pasar Hindia Belanda, satu pabrik baru dengan fasilitas yang lebih besar dibangun pada 1901 di luar Batavia. Tercatat sebanyak 630 orang orang Indonesia dipekerjakan di pabrik tersebut pada 1905 dan lebih 1000 orang pekerja pada 1913. Tak jelas kapan pabrik ini berhenti beroperasi, namun hingga hari ini bangunan pabriknya masih tetap berdiri. Bangunan yang dulu menjadi penghasil opium dengan rasa dan kualitas super kini beralih fungsi menjadi kampus Pasca Sarjana FE UI, Salemba. Ruangan pabriknya pun dibagi menjadi ruang-ruang kelas tempat menuntut ilmu.

pabrik opium

Sesekali boleh donk mejeng 😉

Kembali ke Cikini, saat menunggu bis di salah satu sudut jalan yang bersimpangan dengan jalan Surabaya; seorang pemuda tanggung melintas di depan kami. Tangan kanannya berusaha menyanggah balita dalam gendongan sedang tangan kirinya memegang kaleng aica aibon yang ditempelkan rapat-rapat di ujung hidungnya. Alamak jaaaaang! Ngelem! Ngelem (= menghirup aroma lem), pilihan menyenangkan diri masyarakat tak mampu untuk menghilangkan sejenak perasaan tak nyaman pada kerasnya kehidupan dengan melayang di awang-awang.

Pada akhirnya satu benang merah tersingkap kenapa ada Pasar Ampium, karena dahulu di ujung jalan itu terdapat pabrik opium! Menutup tulisan ini, mari menelaah ungkapan yang digunakan oleh orang Belanda pada abad 19 dalam menggambarkan kondisi masa itu,”Orang Jawa membajak dan menanam, orang-orang Tionghoa memanen dan orang-orang Eropa membawanya pergi.” Apa kabar perdagangan opium (narkotika) di nusantara hari ini? Salem pecandu sejarah [oli3ve].

Advertisements