Tags

, , , ,


Mimpi saya, menemukan seseorang yang memiliki cita-cita yang sama. Saya bermimpi kelak menjadi istri pemimpin rakyat. Tetapi ini tidak berarti saya meninggalkan cita-cita untuk bersekolah tinggi dan meraih sesuatu profesi. – [Utami Ramelan Suryadarma]

Soeriadi Suryadarma

Buku Saya, Soeriadi & Tanah Ai

Pagi hari itu, 19 Desember 1948, saya merasa was-was dan tegang. Suamiku berkemas-kemas membawa tas kecil berisi pakaian. Ia harus pergi ke Istana Kepresidenan demikian ujarnya. Tetapi ia mau pergi terlebih dahulu ke Markas Besar untuk mempersiapkan dibumihanguskannya Markas Besar. Dengan berat hati saya melepaskan suamiku pergi, dengan bertanya dalam hati,”Akan ketemukah kita lagi?” …. Saya menguatkan hati, dan mengatakan dengan penuh kesungguhan dan keyakinan pada Soeriadi,”Jangan bimbang dan kuatir pada nasib keluargamu. Kita harus kokoh dalam pendirian kita!” Maka, selanjutnya ketika dia dibawa pergi oleh tentara-tentara Belanda, saya bersama kedua anakku mengejar dia, dan dengan keras menyerukan,”Merdeka!” Kemudian saya jatuh ambruk. Perpisahan ini diabadikan oleh wartawan-wartawan Belanda dan kemudian dimuat di surat kabar mereka.

Utami Suryadarma berusaha tetap tegar di hadapan suami dan kedua anaknya saat mengucap salam perpisahan kepada belahan jiwanya, ayah dari anak-anaknya sebelum dibawa pergi oleh musuh. Soeriadi diasingkan ke Manumbing, Bangka bersama Mohammad Hatta, Mr. Asaat dan Mr. Gafar Pringgodigdo, Jika diperhadapkan pada keadaan di atas, sanggupkah kita berada pada posisinya?

Bagaimana rasanya menunggu kabar yang tidak menentu setelah sekian lama berpisah dari kekasih hati karena dipaksa oleh keadaan negara dalam suasana revolusi? Masa dimana komunikasi masih sangat susah, hanya dengan mengandalkan surat tanpa layanan kilat.

Soeriadi Suryadarma

Pengantin baru Soeriadi & Utami Suryadarma

Soeriadi Suryadarma

Keluarga Soeriadi Suryadarma

Tiga bulan telah berlalu dengan tidak ada kabar dari Soeriadi suamiku. Masih hidupkah ia? Sudah tewaskah ia? Memang bagi orang muda, maut belum mempunyai arti yang konkret. Manusia muda hanya mengakui hidup, mengingkari maut. Tetapi tiap malam bantalku basah oleh air mata. Seorang laki-laki naik sepeda, lewat dengan perlahan-lahan. Rumah kita sempat diamat-amatinya. Kemudian ia kembali dan masuk ke halaman rumah. Dengan acuh tak acuh saya melihat dia menghampiri paviliun tempat saya duduk. Orangnya berpakaian kumal, ia berkumis dan berpeci. Ia seyum kepadaku. Seketika itu membelalaklah mataku. Saya kenal wajah itu! Raut mukanya lonjong, matanya yang tajam, hidungnya yang mancung agak bengkok! Saya berteriak,”Soeriadi suamiku!” Ia lemparkan sepedanya ke tanah dan lari ke arahku. Saya lari kepadanya.

Saya, Soeriadi & Tanah Air, sebuah memoar Utami Suryadarma yang ditulis dengan tulisan tangan pada 1979 – 1980. Catatan harian seorang istri mendampingi suaminya selama 37 tahun, merintis Angkatan Udara RI (AURI) hingga menjadi Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU); yang ditemukan diantara tumpukan barang peninggalan ibu Utami oleh seorang menantunya.

Raden Roro Oetami Ramelan yang dikemudian hari lebih dikenal sebagai Utami Suryadarma, anak Kepala Polisi Daerah Solo (Chef van de Solosches Rescherce) dipersunting Soeriadi Suryadarma seorang perwira KNIL lulusan dari Akademi Militer Kerajaan Belanda/Koninklijke Militaire Academie (KMA), Breda; 3 Juni 1938. Setelah menikah, mereka tinggal di Jakarta lalu berpindah mengikuti perpindahakan tugas Soeriadi ke Kalijati, Bandung, Solo, Yogyakarta hingga menghabiskan usia senja di Jakarta.

Sebagai wujud tanggung jawab seorang komandan militer dan kepatuhan pada kode kehormatan, pada awal 1960 Soeriadi menghadap Soekarno untuk meletakkan jabatannya sebagai KSAU karena insiden penembakan istana yang dilakukan oleh seorang perwira penerbang, Letnan II Daniel Maukar. Pengunduran diri tersebut ditolak oleh Bung Karno, namun pada 16 Januari 1962 karena dianggap AURI tidak becus membantu dalam pertempuran di Laut Aru yang menyebabkan gugurnya Komodor Yos Sudarso; Soeriadi Suyadarma dicopot oleh Soekarno dari jabatan KSAU. Nama Soeriadi Suryadarma “Sang Gatot Kaca AURI” perlahan surut, tenggelam dan dilupakan dari catatan sejarah setelah 16 tahun berkarir gemilang merintis dan mengembangkan AURI.

Sepanjang hidupnya, pangkat dan kedudukan tidak pernah amat berarti baginya. Satu-satunya yang sangat berarti adalah hidup dan bekerja dalam lingkungan yang dicintainya: Angkatan Udara.

Soeriadi Suryadarma adalah pribumi pertama yang menembus KMA, Breda dan Militaire Luchtvaar (ML), Kalijati sekolah penerbang yang diperuntukkan bagi tentara Belanda. ML dirintis Belanda pada 30 Mei 1914 di Landasan Udara Kalijati, Subang, Jawa Barat. Sebagai wujud penghargaan atas jasanya, pangkalan udara Kalijati kemudian diabadikan menjadi Landasan Udara Suryadarma, Subang pada 7 September 2001 *miris*. Selain itu, namanya juga dijadikan nama sebuah perguruan tinggi TNI AU Universitas Suryadarma, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Soeriadi Suryadarma

Museum Amerta Dirgantara Mandala di Lanud Suryadarma, Kalijati, Subang

Lanud Kalijati

Sekolah Penerbang Kalijati kini menjadi Pusdiklat Terbang Layang

Sebelum menikah denganSoeriadi, Utami Ramelan aktif berorganisasi dan menerbitkan sebuah majalah berbahasa Belanda “PAHESAN” bersama kawan-kawannya. Setelah menjadi istri perwira KNIL hingga istri KSAU, Utami mendampingi sang suami dalam merintis berdirinya AURI dan aktif dalam kepengurusan Kowani (Kongres Wanita Indonesia). Sepeninggal Soeriadi, Utami tetap aktif melakukan berbagai kegiatan termasuk menjadi Rektor Universitas Respublika yang diserbu oleh KAMI/KAPPI pada 1966. Universitas Respublika sekarang dikenal dengan nama Universitas Trisakti, Jakarta. Utami adalah wanita tegar, perkasa, kuat dan hormat pada suaminya, pada masa pendudukan Jepang dia menyetir sendiri mobilnya dari Kalijati berkendara bersama putrinya yang kala itu baru berusia 3 tahun dan seorang pembantu perempuan menembus Alas Roban mengungsi ke Solo. Untuk pengalaman ini Utami berpendapat, rupanya pada keadaan sangat kritis dalam kehidupan manusia, manusia diberikan kekuatan gaib untuk menjalankan kewajibannya, sehingga ia tak perlu takut atau ragu-ragu.

Pada awal berdirinya Museum Perangko Nasional, Utami menyerahkan koleksi perangko dan sampul peringatan sejarah revolusi kemerdekaan milik Soeriadi kepada Menteri Perhubungan masa itu sebagai pusaka sejarah. Sayang, nama Soeriadi tak tercatat sebagai kolektornya meski ada asa dari sang istri nama Soeriadi akan disebut. Namun ibu Utami pada akhirnya memilih diam dan menerimanya dengan lapang dada karena mendapat imbalan uang sebagai penyambung hidup karena uang pensiun almarhum suaminya waktu itu hanya sebesar Rp 54,000/bulan tak cukup untuk menyambung kehidupannya bersama keluarga.

Memoar Utami Suryadarma, Saya, Soeriadi & Tanah Air; diluncurkan di kediaman almarhumah ibu Fatmawati Soekarno pada 3 Juni 2012, atas prakarsa para cucu sebagai persembahan untuk Eyang Putri mereka Utami Suryadarma bekerjasama dengan Yayasan Bung Karno. Utami meninggal pada 16 Januari 1996 dan dimakamkan berdampingan dengan Soeriadi Suryadarma yang meninggal pada 16 Agustus 1976 di Karet Bivak, Jakarta Pusat.[oli3ve]

Catatan: sebelumnya diposkan dan HL di Kompasiana (16 Juli 2012), re-post untuk dokumentasi.

Advertisements