Tags

, , ,


Pk 15.59 … masih ada sisa waktu 1 menit sebelum seisi bis mendemo karena raga telat menghampiri kotak berpendingin itu. Namun, tanpa memperhitungkan berapa menit yang diperlukan untuk melangkah menuju gerbang Cornwallis hingga menggapai tempat parkir, kuikuti satu hentakan yang bawa langkah mendekat ke ujung barat benteng untuk menemuimu.

Dirimu berdiri beku dalam diam, dingin dan terkesan angkuh dengan pandangan tak lepas ke Selat Malaka. Itu yang kau lakukan saban hari; dari matahari terbit hingga malam menenggelamkannya. Entah harap apa yang kau titip di ujung sana, mungkin satu saat engkau kan berbagi. Tiga langkah dari tempatmu berdiri kuhentikan langkah sejenak, kupandangi lekuk tubuh dan kulitmu .. hijau kebiruan, mengkilap diterpa pendar matahari senja.

sri rambai

Sri Rambai, idola segala usia

Desah angin Selat Malaka mengalun lembut … sebentuk tanya menyapa di sudut hati, siapa gerangan dirimu yang berani menahan langkah di ujung benteng ini? Sepotong nama aku temukan terselip di antara deretan kata yang sudah usang tergerus panas dan hujan, terpampang di sebuah papan penanda tak jauh dari tempatmu berdiri, Sri Rambai.

Belumlah langkah melekat, sesosok tubuh mungil mendahului merengkuh tubuhmu. Ooooh maaaak, rupanya kau idola di kota ini. Kuperhatikan setiap orang yang bertandang ke kota ini berlomba untuk bercengkerama denganmu atau sekedar mengabadikan perjumpaan denganmu. Teringat dibatasi waktu, kurayu sosok mungil itu untuk menjauh sejenak agar aku bisa menyentuh tubuhmu.

sri rambai

IAN BVRGERHVIS ME FECIT1603 M, nama dan tahun pembuatan Rambai

sri rambai

Lambang VOC yang menghiasi punggung Rambai

Peu haba, Rambai? Tak sadar kusapa dirimu dengan salam dari Nanggroe. Tanganku mengelus tubuhmu mencoba resapi rindu yang memanggilku untuk mendekat. Sebaris nama menarik perhatian terpatri di ujung leluk badanmu IAN BVRGERHVIS ME FECIT1603 M, agak ke atas lambang persekutuan dagang Belanda, VOC (=Verenigde Oost Indische Compagnie) mencolok di tubuhmu.

Ujung-ujung jemari menari menyusuri setiap lekuk tubuhmu meresapi dengan segenap rasa; membawa angan berkelana pada masa yang jauuuuuuh sebelum masaku.

1613 M .. para panglima Kerajaan Aceh pulang membawa pampasan perang usai penyerangan ke Kerajaan Johor. Sebuah meriam turut dibawa pulang dipersembahkan pada Sultan sebagai bukti keberhasilan di medan juang. Jasa para pejuang negeri dikenang lewat sebuah tulisan yang kemudian terpatri dalam dalam aksara Arab-Melayu pada punggung meriam itu, Tawanan Sulthan.

Padanya Sultan Iskandar Muda menyematkan sebuah nama yang indah selaras dengan keindahan lekuk tubuh dan keanggunannya, Sri Rambai.

182 tahun Sri Rambai berdiam di Nanggroe hingga Sultan Alauddin Mahmudsyah (1781 – 1795) menghadiahkannya sebagai balas jasa kepada Sultan Ibrahim dari Selangor. Pada 1817 ketika Inggris menyerang Kuala Selangor, Sri Rambai turut dibawa ke Penang sebagai pampasan perang.

sri rambai

Bentuk lain yang menghiasi punggung Rambai

Sri Rambai, engkau telah berkelana melintasi masa … asa mempertemukan kita di sini. Sayang, tak banyak waktu untuk kita berbagi kisah. Kan kusampaikan rindumu pada Nanggroe, tuk damai senantiasa melekat di hati. Satu hari nanti, aku pasti kembali untuk menemuimu … bersama bercengkerama menikmati senja tenggelam di Padang Kota Cornwalis, Penang sembari menyesap segelas es cendol yang nikmat atau secangkir khupi Aceh?

Tiga perempuan muda berlari kecil menaiki anak tangga benteng, berlomba mendekati dan memeluk Sri Rambai, mencoba berbagi harap untuk sebuah impian di hari depan. Aaaah, engkau tak hanya indah dipandang, mereka percaya engkau bisa membantu wujudkan asa yang terpahat di hati. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan senyum tertahan di bibir melihat tingkah mereka. Bergegas kugeret langkah menuruni benteng Cornwalis meninggalkan Sri Rambai yang tetap setia berdiri di sana, memandang jauh ke ujung Selat Malaka. Rambai, aku pamit. Saleum [oli3ve].

Advertisements