Tags

, , , ,


Maghrib menjelang saat kaki melangkah keluar dari underpass Stasiun Beos, Jakarta. Bergegas melepaskan diri dari himpitan pedagang kaki lima yang memenuhi bibir stasiun, ikuti arus menerabas lewat pintu kecil di celah pagar yang satu jeruji besinya sengaja dipatahkan. Dari depan stasiun menyeberang ke arah Pangeran Jayakarta hingga tiba di depan gerbang Gereja Sion.

Tak ada jadwal ibadah sore itu, di halaman samping gereja hanya diramaikan oleh suara sekelompok remaja yang asik bermain basket. Kaki berjinjit di depan peristirahatan Opa Zwaardecroon tepat saat gema magrhib sayup terdengar dari kejauhan. Cukup lama tak bertandang ke sini, terakhir mampir saat menjenguk Opa Zwaardecroon di awal 2007 bersama rombongan Batmus.

Tempat peristirahatan Opa Zwaardecroon

Tempat peristirahatan Opa Zwaardecroon

Jassenkerk, nama yang diperuntukkan bagi gereja di luar kota Batavia yang dibangun di tengah lahan pemakaman. Sebelumnya di tempat itu telah berdiri sebuah pondok sederhana tempat kaum mardjiker (Portugis hitam yang menjadi budak kompeni) belajar agama; karenanya gereja ini pun dikenal sebagai Gereja Portugis. Peletakan batu pertama pembangunan gereja dilakukan pada 19 Oktober 1693 oleh Kerkmeester (Presiden Gereja), Joan van Hoorn.

Nama Jassenkerk sendiri berasal dari kata jassen (=balok kayu) yang banyak didatangkan dari Ciasem dan dialirkan lewat Kali Ancol hingga jembatan dekat gereja yang dikenal dengan nama Jassembrug. Lahan pemakaman di sekitarnya disebut Land van Kapitein Jass, sehingga pada masa itu jika ada yang meninggal orang akan mengatakan … daar gaat er weer een naar ‘t land van Kapitein Jas artinya pergi ke tanah Kapitein Jas/dikuburkan. Bayangkanlah sebuah lahan pemakaman terluas di Batavia pada abad 18 tempat peristirahatan puluhan ribu manusia yang sebagian besar meninggal karena endemi malaria.

kapitein jas

Makam Vader Jas

Karena sudah terlalu penuh, pada 1828, tanah pekuburan ini ditutup dan sebagian besar makam yang ada dipindahkan ke sebidang tanah milik Willem Helvetius van Rimsdijk di Kebon Jahe Kober. Malaria mewabah di Batavia selama 1733 – 1738 juga menelan korban para petinggi di kalangan VOC termasuk 2 orang Gubernur Jenderal Dirk van Cloon (1732 – 1735) dan Abraham Patras (1735 – 1737).

Vader Jas … Kapitein Jas … dua nama yang tertera di atas sebuah makam persegi yang melintang di salah satu sudut Kebon Jahe Kober. Bagi yang meliriknya selintas, makam itu hanya akan terlihat seperti bagian pondasi bangunan yang dibiarkan tak selesai. Sebuah makam yang sangat biasa untuk satu sosok yang telah membawa pengaruh luar biasa pada jamannya.

Beberapa literatur maupun cerita dari mulut ke mulut yang menyebar menyebutkan Kapitein Jas hanya sosok bayangan yang disebut sebagai “pemilik” lahan pemakaman di sekitar Jassenkerk. Entah kenapa sebuah makam diperuntukkan baginya turut “diboyong” dari halaman Jassenkerk ke Kebon Jahe Kober dan dikeramatkan hingga sekarang.

Antara ada dan tiada, namun jika ditelusuri lewat catatan sejarah sosok Kapitein Jas ini ada. Nggak percaya? Mari kita buktikan!

Rust zacht lieve vader, bid voor ons Carlo, Mien, Ida, Tini, Adi, Hery, Ina … tulisan ini terpatri di salah satu sisi makam Kapitein Jas yang disebutkan meninggal pada 5 Mei 1768. Jika dia tak ada, lalu siapa 7 nama yang terpatri memberi penghormatan di makamnya?

kapitein jas

Kapitein Jas

3 Oktober 1777, sembilan tahun setelah tanggal yang tertera di makam di atas; Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jeremias van Riemsdijk meninggal di Batavia. Jeremias adalah keponakan dari Adriaan Valckenier yang terkenal karena kasus Batavia 1740.

Van Riemsdijk adalah pemilik tanah di belakang Jassenkerk yang dijual dan diperuntukkan sebagai lahan pemakaman pada masa dirinya menjabat sebagai Kapitein di satu perusahaan dagang. Karena jabatannya ini, van Riemsdijk pun mendapat julukan Kapitein Jas (singkatan dari Jeremias).

Jadi, kalau Kebon Jahe Kober atau sekarang disebut Museum Taman Prasasti dan sebagian halaman Jassenkerk atau Gereja Sion adalah bekas tanah keluarga van Riemsdijk; siapakah Vader Jas aka Kapitein Jas ini? Selamat berimajinasi, salam penjelajah kubur [oli3ve].

Bahan bacaan:

  • Gereja-gereja Tua di Jakarta, Adolf Heuken SJ.
  • Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia, Mona Lohanda
Advertisements