Tags

, , ,


Hari pertama di bulan Pebruari langit Jakarta masih saja bermuram durja. Entah sampai kapan dirinya akan memelihara sendu. Berbeda dengan Prince Red, sejak kemarin sore dirinya bersemangat menanti pergantian hari. Tak peduli mau langit Jakarta muram, ‘nangis, dirinya yakin Minggu pagi pasti diajak jalan-jalan.

Saking semangatnya, Prince Red semalaman tak bisa tidur. Bukan karena siaga banjir, tapi di otaknya sudah terbayang perjalanan seru yang akan dijalaninya. Pk 05.30 dirinya lagi tidur-tidur ayam saat sepasang tangan yang sudah sangat dirindukannya perlahan menepuk-nepuk punggungnya. Secepat kilat Prince Red menggeliat, memasang senyum paling manis, siap untuk jalan pagi.

museum taman prasasti

Mejeng keluarga di pelataran Museum Taman Prasast

Meeting point pagi ini sesuai dengan pesan singkat yang dikirimkan oleh juragan BatMus pk 06 ketemu di depan hotel Kempinski, bunderan HI. Pastinya sih nggak yakin jam segitu pada ngumpul bila melihat cuaca yang konon semalam hujan deras. Kalau dilihat dari sisa air yang membasahi jalanan pagi ini bisa jadi, hmm … semalam tidurnya pingsan kali ya?

O,ya pagi ini Prince Red diajak jalan-jalan bareng Gowes Heritage-nya om dan tante dari Ikatan Alumni UI (ILUNI). Pk 07 lewat mulai bergerak melintasi Thamrin sampai ujung lalu berbelok ke Abdul Muis, masuk ke Tanah Abang 1 menuju Museum Taman Prasasti. Prince Red yang biasanya jalan sendiri menyusuri jejak sunyi, pagi ini dapat banyak teman. Ternyata ada juga ya grup tetangga yang senang mengayuh ke kuburan.

menteng pulo

Menyusuri TPU Menteng Pulo

Taman Prasasti sudah rapi, tak ada lagi tukang-tukang yang bekerja mengangkat-angkat prasasti dan memindah-mindahkannya ke sana kemari. Di serambi depan terlihat dua kereta kencana diparkir, menurut mas-mas yang jaga kereta itu jatah dari Festival Keraton Sedunia yang diadakan di Monas awal Desember 2013 lalu.

Dari Taman Prasasti, mengayuh gempor dimulai. Tak jelas siapa yang memilih rute dengan jalur yang lebih sinting dari kelompok seli sinting. Keluar dari Tanah Abang 1 masuk ke Abdul Muis – Jati Baru – Fachrudin, usai Metro Tanah Abang belok ke Kh Mas Mansyur lewat rel kereta berbelok ke RM Margono melintasi Dukuh Bawah luruuuuus menyusuri  Galunggung lalu belok kanan ke Halimun – Kuningan Madya – melintasi kawasan Epicentrum menyusuri pinggir Menteng Pulo dari Achmad Bakrie Barat (?).

Ereveld Menteng Pulo

Foto lagi di depan gerbang Ereveld Menteng Pulo

Sampai di TKP langsung foto keluarga di depan gerbang dengan tulisan Ereveld Menteng Pulo karena langit mendungnya makin parah. Pokoknya hari ini Prince Red ikut ‘nampang di gambar orang aja hahaha. Habis foto-foto digeret pak Agus menjenguk Opa Spoor, setelahnya pada mencar mengikuti naluri masing-masing. Ada yang cuma foto sana sini, ada yang pasang senyum saat yang lain moto, ada juga yang meregangkan tungkai kaki di bibir kolambarium dan di depan Simultankerk.

Saat yang lain masih asik di ereveld, kita menyeberang ke Jakarta War Cemetery (JWR) menjenguk Opa Mallaby. Tumben-tumbenan pula, setelah sekian lama susah dihubungi, pagi ini saat ditelpon pak Apriadi sang menejer kubur angkat telpon. Ya udin, dapat akses di tempat langsung buka pintu gerbang dan ajak yang lain melintas batas hehehe.

Kami pamit sama pak Agus tepat saat rintik hujan satu-satu mulai menetes di atas kepala. Berpisah dengan rombongan ILUNI, empat anak Batmus menembus hujan  mencari martabak kubang ke Saharjo. Ternyata tukang martabaknya baru buka pk 12, dalam sekejap mengganti selera mengejar tongseng ke Sunda Kelapa.

Hari ini Prince Red puas banget deh berkeliling dengan rute yang baru, meski sempat hujan-hujanan saat parkir di depan Masjid Sunda Kelapa tak ada keluh kesah keluar dari bibirnya. Dan perjalanan hari ini diakhiri dengan menikmati siraman air pancuran, uhuiiiy mandi sehat ala Prince Red, salam sinting [oli3ve].