Tags

, , ,


Pagi ini terbangun dengan pemandangan Jakarta dari level 38 diselimuti kabut tebal. Ya, semalam balik ke tempat pengungsian pk 00 hujan deras tanpa ampun mengguyur Jakarta hingga beberapa ruas jalan yang dilalui sudah menjadi kolam-kolam kecil.

Sebaris pesan yang dikirimkan induk semang pagi ini pun isinya mengabari semalam air masuk lagi ke dalam rumah. Lebih tinggi dari hari sebelumnya, semata kaki menggenangi kamar-kamar di lantai bawah rumahnya tempat sebelumnya kami mengungsi saat kamar mulai kebanjiran. Tak lupa, si ibu mengirimkan gambar pak eRTe bersama dua kurcacinya dengan wajah cerah ceria bergambar di halaman rumah yang masih digenangi air semata kaki😉

Saat berpindah-pindah channel mencari berita, seorang pembaca berita dengan latar tampilan ruas jalan di salah satu komplek perumahan di barat Jakarta yang menjadi sungai bertutur,” …. kebanjiran, warga meminta pemerintah memperbaiki sejumlah saluran drainase yang tidak berfungsi …” Memang paling enak mencari kambing hitam dan menuntut tanpa mengingat kelakuan ketika sesuatu terjadi.

Mendadak perut mules-mules entah karena pengaruh beritanya atau imbas rangsangan kopi pahit di pagi hari. Sembari ‘nongkrong di bilik kecil tangan mencomot selembar majalah yang tergantung di sisi bilik untuk menghalau bosan. Lembarannya dibolak-balik hingga mata terhenti di lembar berikut:

jokowi

Jokowi gets things done (dok The Economist, January 26th 2013)

Gambar di atas membawa memori pada masa setahun yang lewat ketika kepergok sama beliau di salah satu ruang pertemuan di gedung Kompas. Saya yang duduk di deretan bangku depan asik menyisir rambut yang tersibak angin, ketika sosok berkemeja putih memasuki ruangan sembari tersenyum melangkah ke arah saya, mengulurkan tangan. *ahaiii, Maluku di Ambon*

Menjawab tanya beberapa yang hadir tentang peluang maju [mencalonkan diri] di 2014, dirinya hanya berkata bahwa yang ada dipikirannya adalah fokus dengan Jakarta. “Saya hanya ingin membenahi Jakarta.”

Jokowi

Salah satu harapan warga padanya

Ketika banjir [masih] melanda Jakarta setelah dirinya memimpin, banyak yang memberikan komentar-komentar miring tanpa mau berkaca pada rentetan perjalanan masa yang telah dilalui. Kinerja kegemarannya blusukan ke berbagai sudut Jakarta untuk memantau kondisi daerahnya pun dipertanyakan.

Lhaaa, segala sesuatu yang terjadi itu pasti ada pemicunya bukan? Tak mungkin air mendadak menggenangi seantero Jakarta bila salurannya tak disumbat dengan sengaja oleh warganya. Akumulasi kecerobohan yang dilakukan orang lain dari masa lalu koq ditimpakan kepada satu orang yang notabene baru menjejak; tanpa mau melihat perubahan-perubahan kecil yang telah dilakukannya bagi kota ini dalam setahun kedatangannya?

jokowi

Senyum yang selalu menghiasi wajahnya

Saya tak suka berpolitik, saya hanya seorang pejalan yang menumpang jalani kehidupan di Jakarta. Salah satu korban banjir yang harus menyingkir sejenak dari tempat tinggal demi menghindari genangan air. Jangan melihat apa yang telah dilakukan oleh orang lain, marilah kita sama-sama berdiri di depan cermin. Sebelum kita mengkritik orang lain tanya dulu pada diri masing-masing, apa yang telah engkau buat untuk Jakarta?

Sosok berkemeja putih itu namanya Jokowi, niatnya tulus untuk jadikan Jakarta kota yang indah dan nyaman bagi warganya pun bagi kaum pendatang yang menjejak di ibukota negara Republik Indonesia ini. Tapi, keindahan itu tak akan terlihat, kenyamanan itu tak akan terwujud jika niatnya tak didukung dengan baik oleh warga kotanya sendiri. Kota ini tak akan menjadi lebih baik, jika warganya sendiri tak memiliki cinta pada kotanya. Karena cinta akan membuat seseorang memberi yang terbaik dan menjaga kecintaannya. Enjoy Jakarta, saleum [oli3ve].