Tags

, , , ,


Kuliner dan bacaan adalah dua dari tiga misi dibangunnya rumah ini yang sering terlupakan sehingga tidak dibaharui. Mumpung lagi ingat dan terbayang-bayang rasanya, maka mari kita menikmatinya dalam hayal.

“Bagaimana kalau kita bertemu di Rumah Makan Solata? Mbak suka masakan Toraja kan?”
“Boleh Bu, so pasti suka dengan masakan Toraja dan sudah lama juga nggak makan.”

Itulah potongan obrolan kala mengatur jadwal pertemuan dengan Ibu Laksamana Christina Rantetana beberapa waktu yang lalu. Meski sudah sering mendengar namanya, baru kali ini kesampaian menyambangi tempat makan yang menyajikan kuliner khas Toraja itu. Maka sesuai janji, di hari yang telah disepakati saya melangkah ke Rumah Makan Solata di utara Jakarta untuk menjumpai beliau.

markisa toraja

Es Markisa Toraja

Pesanan pertama sesaat setelah mendaratkan pantat di TKP adalah segelas Es Markisa Toraja untuk menghalau haus sekaligus pengobat rindu pada asem-asem manisnya markisa. Jelang waktu makan siang perut perlahan mulai protes #kriuuuuk-kriuuuk, proses memilih menu pun dimulai. Rasanya pengen deh memilih masakan yang tersaji di menu karena lidah sudah berbulan-bulan ‘nggak mencicipi makanan khas kampung halaman.

rumah makan solata

Menu Rumah Makan Solata. Ayo dipilih mau makan apa?

Akhirnya setelah timbang sana sini, kita sepakat untuk memilih paket berikut biar bisa makan tengah.

rumah makan solata

Paket panggang B2 dan rebusan daun singkong

rumah makan solata

Pantollo’ B2 : kaki babi dimasak dengan bumbu kluek plus daging buah kluek (rawon ala Toraja)

rumah makan solata

Selamat makan Indonesia

Obrolan terus berlanjut di sela acara makan siang yang nikmat dan mengenyangkan. Untuk sesaat kolesterol and the gank dilupakan sejenak. Bagi yang mau icip-icip, jangan lupa ajak saya ya hehe. Selamat mengkhayal dan ‘ngeces-‘ngeces, saleum [oli3ve]

Advertisements