Tags

, , , , , ,


Sebenarnya ini adalah catatan tertinggal dari perjalanan dinas sehari ke Surabaya akhir Agustus 2012 lalu yang sekian lama hanya tersimpan di draft. Percaya deh maknanya tak berkurang meski baru dibagikan sekarang. *membela diri*

Usai menuntaskan tugas kerajaan, masih ada jeda waktu yang cukup panjang sebelum jadwal terbang yang tertera di tiket. Oleh seorang sahabat yang mantan preman kota buaya; saya diajak untuk mencicipi kuliner khas Jawa Timur yang tak mungkin ditemukan di Jakarta. Karena niatnya sekalian ngadem, saya ngikut aja diajak duduk manis di D’Kampoeng, Surabaya Town Square (Sutos). Ini kali kedua saya mengunjungi Sutos setelah beberapa tahun sebelumnya pernah mampir ke sana.

d'kampoeng

Salah satu sudut D’Kampoeng Surabaya Town Square

Sebagai penggemar ikan, melihat Pindang Kecap Bandeng yang menggoda saya pun memesan seporsi Nasi Krawu plus segelas jus Sirsak. Sambil menunggu pesananan, sang kawan menyodori satu menu yang penampakan dan namanya terasa asing di kuping,”cobain nih Pecel Semanggi!” Pecel Semanggi?? Berbicara soal pecel, sudah menjadi tradisi bila mampir ke Surabaya saya akan memulai hari dengan sarapan di Pecel Ibu Kus atau Pecel Murni sesaat setelah menjejak di Juanda. Tapi menu yang tersaji di depan mata kali ini benar-benar berbeda.

Bentar, nama makanan ini nggak ada hubungannya dengan jembatan di kawasan Semanggi Jakarta yang nyaris tiap hari macet karena dipadati kendaraan lho ya! Semanggi yang ini adalah nama tumbuhan jenis paku-pakuan yang tumbuh di air. Daunnya terangkai dari 3 – 4 helai daun berbentuk klover. Pernah bermain remi atau minimal memperhatikan/mendengar istilah klover? Nah kalau mau lihat bentuk daun semanggi berhelai 3, lihat aja di kartu remi. Konon jembatan Semanggi pun kalau dilihat dari udara menyerupai daun semanggi lho! Pernah sih motret dari roof top-nya Plaza Semanggi tapi lupa nyimpan filenya dimana hehe.

pecel semanggi

Pecel Semanggi

Tentang daun semanggi, ada satu tradisi tahunan dalam masyarakat Irlandia yang mempercayai bahwa daun semanggi digunakan oleh Santo Patrick pada abad ke-5 untuk menjelaskan tentang Allah Tri Tunggal: Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Santo Patrick adalah santo pelindung Irlandia, misionaris yang dipercaya membawa ajaran Kristen ke Irlandia. St Patrick meninggal pada 17 Maret 461, untuk menghormati beliau setiap 17 Maret masyarakat Irlandia memperingati hari kematiannya sebagai St Patrick Day yang dimulai pada abad-17 atas prakarsa Ordo Fransiskan.

Masih dari Irlandia, 4 helai daun semanggi mengandung makna keberuntungan. Masing-masing lembar daun tersebut melambangkan cinta, kesehatan, kejayaan dan kekayaan. Aaaah … bersyukur setahun ini bisa menikmati semua itu. Ketika semua diterima dengan rasa syukur makna hadirNya terasa sempurna. Satu asa, semoga satu hari nanti kaki ini menjejak di komplek makam tua Newgrange, Irlandia! Amiiiin!

Ketika memori diajak untuk merenungi kembali perjalanan yang telah ditempuh selama setahun ini, saya sampai pada satu kesimpulan. Gak ada salahnya juga review Pecel Semanggi baru muncul setelah menikmatinya setahun yang lalu. Gila! terlalu banyak nikmat yang disyukuri karena keberuntungan yang menghampiri. Ada yang datang tak diduga; beberapa digapai dengan perasan keringat dan air mata sembari menggeret langkah dengan terseok-seok. Itulah hidup, selama sumbu harapan tetap menyala dan harap itu tertuju padaNya; semuanya akan baik-baik saja.

Lalu apa kabar tuh si Pecel Semanggi? Mohon maaf tulisannya jadi melantur ke sana kemari. Yang masih melekat di lidah hingga saat ini adalah rasanya kayak makan bubur bayi yang terasa lembut dan manis di mulut. Jangan lupakan Pecel Semanggi saat bertandang ke kota buaya! Salam pejalan [oli3ve].

Advertisements