Tags

, , , ,


Rintik hujan masih turun satu-satu saat mikrolet yang saya tumpangi mulai melaju menyusuri jalan sempit di kawasan padat penduduk Johar Baru, Jakarta Pusat. Wilayah yang terkenal dengan aksi tawuran warga, kawasan bronx-nya Jakarta. Ucapan kawan yang mengantarkan langkah ke pangkalan mikrolet tak jauh dari Kantor Kecamatan Johar Baru kembali terngiang agar memperhatikan bagaimana kontrasnya daerah yang akan saya lewati untuk sampai ke tujuan.

Pokoknya tuh mikrolet ntar menyusuri kawasan yg beda jauhlah dengan tempat gw. Menyusuri pinggir kali hingga sampai satu pertigaan dia akan belok kiri masuk ke kawasan seperti kompleks rumah gw yang kembali adem. Naaaah, jalanan besar pas belok itu .. Narada!”

festival johar baru

Walikota Jakarta Pusat, Syaefullah Yusuf dan istri berbincang dengan Adhyaksa Dault

Sengaja mengambil posisi duduk tepat di belakang sopir agar leluasa menikmati pemandangan dan gampang menowel bahu pak sopir saat hendak berhenti. Meski pas naik sudah berpesan untuk diturunkan di Narada, mengingat pengalaman dari Pasar Genjing ke Johar Baru sopirnya asik ngobrol; maka kali ini mata tetap mengawasi jalan.

Duduk di samping abang sopir, seorang ibu berbaju terusan putih, rambut pirang asli buceri (=bule cet sendiri), kalo ditaksir umurnya sekitar 35an tapi tampangnya boros dengan pipi menonjol diberi perona merah mencolok kek ondel-ondel. Hmmm .. keknya satpam lagi curiga dengan kelakuan si abang yang sepanjang jalan dicecer dengan pertanyaan bak pesakitan lagi diinterogasi.

Nyok kite nonton ondel-ondel *nyoook*
Nyok kita ngarak ondel-ondel
Ondel-ondel ade anaknye *nyoook*
Anaknye ngider der ideran

Dengan bersiul setengah suara saya mulai menikmati pemandangan di kiri kanan jalan yang menyempit. Beberapa kali mikrolet merapat dan berhenti tak jauh dari pintu rumah warga saat hendak berpapasan dengan kendaraan lain dari arah yang berlawanan.

festival johar baru

Adhyaksa Dault unjuk suara di Festival Johar Baru, Jakarta Pusat diiringi The Professor Band

Dari wilayah tempat tinggal sang kawan yang tergolong adem, mikrolet berjalan perlahan menyusuri kampung kumuh dengan pemandangan yang menakjubkan. Sudah terlalu sering kita mendengar tawuran terjadi di tempat ini, masalah kecil ditiupkan oleh orang-orang tertentu disulut dengan beragam isu yang memacu adrenalin sekelompok warga untuk bergerak.

Setelah menyusuri daerah kumuh sepanjang pinggiran kali, mikrolet benar belok ke kiri masuk ke kawasan yang asri dan adem. Kontras banget dengan yang di belakangnya! Mendadak si sopir ngerem di depan perempatan dan membuyarkan lamunan.

“Mbak, Narada.”
“Yang lurus, apa belok kiri bang?”
“Masuk lewat gapura itu ke kiri.”
“Ke kiri ya bang, yakin nih? bukan yang lurus?”
“Emang mbak mau ngapain di sini?”
“Mau ke rumah temanlah, makasih ya bang.”

Eh dasar dudul, saya ngikutin petunjuk si abang sopir tanpa mau bertanya pada sekumpulan lelaki yang kongkow di depan pos ronda. Makin ke dalam koq jalannya menyempit? Ya sudah balik lagi untuk bertanya ke warung depan sebelum sesat di jalan. Nggak tahunya rumah yang dicari sedari tadi ditengokin pagarnya hehehe.

festival johar baru

Indonesia Jaya

Kembali ke masalah tawuran. Beragam upaya sudah dilakukan oleh pejabat yang berwenang serta tokoh masyarakat untuk meredam aksi tawuran dan menciptakan damai di tengah warga. Upaya tersebut tidaklah mudah dilakukan menilik begitu kompleksnya masalah sosial yang membelit di dalamnya.

Saya jadi teringat ucapan mantan pemuda bandel yang saya jumpai di Pasar Lama Tangerang beberapa waktu yang lalu, Udaya Halim. Menurut Udaya, anak nakal bukan karena kurang perhatian tetapi mereka adalah anak-anak kreatif yang tak tahu bagaimana menyalurkan bakat kreatif mereka.

Kreatifitas! Ya .. kreatifitas itu butuh penyaluran. Ibarat air satu gayung jika terus dikucurkan ke dalam gelas akan luber karena penampungnya tak cukup, air itu butuh wadah yang lebih besar untuk menampungnya. Berangkat dari sini, Minggu (17/11/2013) diadakan sebuah festival sebagai wadah bagi elemen masyarakat untuk unjuk kreasi dengan cara merangkul mereka dalam satu kegiatan positif, Festival Johar Baru yang mengusung tema Ini Baru Johar Baru.

festival johar baru

Warga yang memadati pelataran Kecamatan Johar Baru

Hal ini terbersit dalam pesan yang disampaikan oleh Walikota Jakarta Pusat, Syaefullah Yusuf yang tampil membawakan lagu Perdamaian berduet dengan istri pada Pentas Seni yang berlangsung di pelataran Kecamatan Johar Baru. Mantan Menteri Pemuda dan Olah Raga Adhyaksa Dault yang hadir pun tak luput dari todongan untuk turut naik panggung. Dengan diiringi The Professor Band yang digawangi sekelompok profesor dan dosen dari UI; meluncurlah lagu Bento, Anak Jalanan hingga Indonesia Jaya berkolaborasi dengan Sekolah Komunitas Johor Baru (SKJB).

Festival Johar Baru diisi dengan beragam kegiatan seperti karnaval budaya, bazaar dan pesta seni yang berlangsung dari pagi hingga malam hari. Kegiatan ini melibatkan komunitas dan warga dari 4 (empat) kelurahan di Johar Baru: Johar Baru, Tanah Tinggi, Galur dan Kampung Rawa. Kegiatan yang didukung oleh Pemprov DKI dan Pemkot Jakarta Pusat ini, diharapkan dapat memupuk persatuan dan persaudaraan antar warga dan meredam aksi tawuran. [oli3ve]