Tags

, , , , , ,


Pembawaannya sangat sederhana, tubuhnya yang dibalut batik hijau pupus jauh dari kesan kemasan keras dan sangar yang biasanya menjadi trademark militer. Senyum hangatnya mengembang menyambut langkah menghampiri tempat pertemuan kami di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara; Rumah Makan Solata. Sebuah rumah makan khas Toraja yang direkomendasikan beliau ketika kami membuat janji untuk bertemu.

Laksamana Muda TNI Christina Rantetana, SKM, MPH; Laksamana Perempuan Indonesia pertama di jajaran TNI AL. Bintang satu disematkan di pundaknya pada 1 Nopember 2002, empat abad setelah Laksamana Malahayati, Panglima Armada Selat Malaka dari Kerajaan Darud Donya, Aceh Darussalam tercatat dalam sejarah sebagai Laksamana Perempuan pertama di dunia. Bagaimana seorang perempuan yang berasal dari dataran tinggi Toraja ini bisa terjun di dunia bahari?

laksamana christina

Laksamana Muda TNI Christina M. Rantetana, SKM, MPH (foto koleksi pribadi)

Perempuan paruh baya kelahiran Mengkendek ini mengawali obrolan pagi itu dari cerita masa kecilnya di Toraja hingga langkahnya memasuki pendidikan militer yang tanpa rencana. Bagi Christina muda yang baru melihat laut saat menjejak di Makassar untuk melanjutkan pendidikan ke Akademi Perawat, berkarir di Angkatan Laut tak pernah timbul dalam benaknya.

Setelah menyelesaikan pendidikan perawat pada 1978, satu keinginannya hanyalah mengejar karir untuk menjadi seorang kepala perawat di sebuah rumah sakit. Alasannya sederhana, senang melihat sesuatu yang bersih dan rapi. Di samping itu ada rasa bangga bila melihat kepala perawat berjalan keluar masuk bangsal rumah sakit untuk memeriksa ruangan.

Kini, dirinya adalah seorang perwira tinggi yang menyandang bintang dua di pundaknya dari jejeran Korps Wanita Angkatan Laut (KOWAL) setelah dilantik oleh Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr Marsetio pada 28 Juni 2013 lalu di Markas Besar Angkatan Laut, Cilangkap, Jakarta Timur. Sang laksamana yang segera akan mengakhiri masa baktinya, saat ini tercatat sebagai Staf Ahli Menkopolhukam RI Bidang Ideologi dan Konstitusi.

Sebagai perempuan Toraja, saat berbicara mengenai dunia perempuan khususnya perempuan Toraja; beliau mengatakan bahwa dalam diri sebagian besar perempuan Toraja memiliki karakter seorang tominaa (=tokoh agama Toraja) yang bijaksana dan mampu untuk menjadi seorang pemimpin. Sayangnya, perempuan Toraja masih malu-malu dan ragu untuk tampil sendiri, selalu merasa butuh kawan untuk mendampingi.

Untuk itu diperlukan pembinaan dan pendampingan agar langkah mereka lebih terarah. Perempuan masa kini tak hanya berkutat dengan urusan dapur, mereka yang ingin maju harus bisa menyalurkan potensi dirinya. Harus berani untuk menyampaikan pendapat dan tahu kemana akan melangkah. Pemberdayaan perempuan harus dilakukan baik secara struktural maupun kultural. Perempuan harus bangkit untuk membela kaumnya.

perempuan keumala

Ibu Laksamana menyusuri Perempuan Keumala, sebuah epos untuk Nanggroe; kisah perjuangan Laksamana Keumalahayati dari Darud Donya Aceh Darussalam.

Ketika ditanya kesan beliau sebagai perempuan Indonesia kedua yang menyandang pangkat laksamana setelah Laksamana Malahayati, Panglima Inong Balee di lingkungan yang dinominasi lelaki? Beliau mengatakan, semangat emansipasi itu sudah ada sejak abad 15 yang lalu ketika seorang perempuan dipercaya untuk memegang posisi penting sebagai tangan kanan Sultan Aceh. Sayangnya meski saat ini kita mendengung-dengungkan emansipasi perempuan, pada kenyataannya langkah perempuan banyak yang masih dihambat oleh beragam aturan yang diberlakukan baik secara struktur organisasi maupun dalam kultur yang dianut. Untuk menambah bintang di pundaknya pun terjadi perdebatan panjang selama sepuluh tahun demi sampai pada satu keputusan, layak tidaknya seorang perempuan mendapatkan dua bintang di pundaknya.

Ibu 5 (lima) anak yang siang itu didampingi oleh suami tercinta Ir Cosmas S Birana MS, percaya bahwa semua yang dicapai saat ini adalah karena kasih karunia Tuhan. Bekerja keras, menjunjung tinggi disiplin dan tetap bersandar pada Tuhan adalah prinsip yang selalu dipegang dalam menjalankan aktifitas sehari-hari. Berani menerima setiap kesempatan yang ada, tidak tertegun pada satu masalah tapi mencari solusinya, jangan pernah ragu untuk melangkah karena Tuhan pasti memberikan yang terbaik. Imbuh Ibu Laksamana sembari mendendangkan kidung pujian sumber kekuatan “.. dari semula tlah Kau tetapkan hidupku dalam tanganMu dalam rencanaMu Tuhan ..”

Perempuan yang menjadi pelopor Kaukus Perempuan Parlemen kala menjadi anggota DPR RI dari Fraksi TNI Polri pada 1997 – 2004 ini, sedang bersiap untuk kembali melangkah ke parlemen membawa aspirasi perempuan Indonesia. Sebelum menutup pembicaraan, beliau yang maju dari daerah pemilihan Bekasi menegaskan bahwa; membangun Toraja bisa kita lakukan dari tempat dimana pun kita berada. Pakai talenta yang Tuhan percayakan kepada kita untuk berbagi dengan sesama. Lakukan dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia [oli3ve].

Sebuah tulisan yang lahir dari ‘ngobrol santai dengan Ibu Laksmana Christina Rantetana pada Sabtu, 27 Juli 2013, ditulis untuk Toraja Cybernews setelah sebelumnya diposting di Perempuan Keumala, saleum.