Tags

, , , , , , ,


Nusa Penida, Nusa Lembongan atau Nusa Ceningan, tiga gugusan pulau di wilayah kabupaten Klungkung ini, tentunya sudah tak asing di kuping para pejalan terutama para divers. Klungkung adalah satu kabupaten di Propinsi Bali beribukota Smarapura.

Sebagai seorang penikmat sejarah, saya tak punya pengalaman seru menyelam di bawah laut Nusa Lembongan; berenang aja megap-megap. Namun, ada satu cerita menarik ditilik dari sisi sejarah Klungkung yang tak banyak diketahui orang, dari sanalah saya akan berbagi.

Dulu kala, Klungkung adalah pusat pemerintahan kerajaan-kerajaan di Bali dengan Kusamba sebagai kota pelabuhannya. Pada pertengahan tahun 1849 terjadi perselisihan yang memicu pecahnya Perang Kusamba. Klungkung dipimpin oleh penguasa Klungkung, I Dewa Agung Istri Kanya bangkit bersama rakyatnya melawan invasi Belanda. Pada 25 Mei 1849, Andreas Victor Michiels, jenderal berprestasi kebanggaan Belanda yang memimpin ekspedisi militer Belanda ke Bali kala itu,  tewas dalam penyerangan tersebut. Jasadnya dipulangkan ke Batavia dan dimakamkan di Kebon Jahe Kober (sekarang Museum Taman Prasasti). Untuk mengenang jasa-jasa Michiels, pemerintah Belanda membangun sebuah monumen untuknya di depan Waterloo Plein (sekarang Lapangan Banteng). Andai masih ada, maka lokasi berdirinya monumen tersebut adanya di pertigaan Jl Lapangan Banteng dan Jalan Perwira.

michiels

Makam Andreas Victor Michiels bisa dijumpai di Museum Taman Prasasti, Jakarta

Enam puluh tahun berlalu dari Perang Kusamba …
Seorang prajurit dari Kerajaan Klungkung yang tewas dalam Perang Puputan Klungkung, bangkit membawa pesan dari Dewa Agung Jambe.

Puputan (=penghabisan) Klungkung adalah perang penghabisan antara Kerajaan Klungkung melawan Belanda pada 28 April 1908. Semua bersatu maju berperang, dari Raja  Klungkung, Ida Dewa Agung Jambe hingga rakyat biasa. Dalam Puputan Klungkung, sang raja tewas bersama seluruh keluarga, kerabat, prajurit dan rakyatnya. Puputan …. habisssss, tiada yang bersisa.

keris puputan

Penampilan Rangga Riantiarno dalam lakon Keris Puputan Klungkung di Museum Nasional, Jakarta

Pesan Dewa Agung Jambe disampaikan lewat petuah Keris Puputan Klungkung dengan perantaraan Keris Ardawalike yang terakhir kali dipakai oleh Dewa Agung Jambe dalam perang puputan Klungkung kepada generasi yang hidup dua abad dari masanya. Keris ini terbuat dari besi nikel, berlapis emas dan permata. Keris pusaka milik kerajaan ini dirampas oleh Belanda bersama Tombak Ki Baru Gudug peninggalan Kerajaan Gelgel usai perang puputan.

“Belanda … Olanda memang sudah mengincar kami. Sudah lama. Akal bulus Olandalah yang membuat Badung basah dengan darah dua tahun lalu. Kerajaan pun diberi waktu hingga 22 April untuk menyerah.”

Keris Puputan Klungkung, judul lakon monolog yang ditampilkan oleh Rangga Riantiarno dari Teater Koma pada Minggu pagi (08/09/2013) lalu di Museum Nasional, Jakarta. Satu bentuk apresiasi potongan sejarah perjalanan bangsa yang dituturkan dengan cara yang tak biasa.

Akhir pekan @museum nasional adalah sebuah terobosan yang digagas untuk merangsang minat generasi muda bangun pagi-pagi, melangkah dengan riang ke musium untuk belajar sejarah bangsanya tanpa dipusingkan oleh urusan kurikulum sekolah. Senang melihat tunas-tunas bangsa ‘ngariung di salah satu pojok di lantai empat Museum Nasional  dengan wajah-wajah penasaran.

Keris Ardawalike, adalah salah satu koleksi Museum Nasional atau lebih akrab dikuping dengan sebutan Museum Gadjah. Lewat Keris Puputan Klungkung, kisahnya dipersonifikasikan oleh Rangga.

puputan klungkung

Dengaaaar! Dewa Jambe telah memanggil!

Wahai keris pusaka, keris nan luhur .. mari kita jalani kematian nan agung!

Dewa Jambe telah memanggil! Satu gelitikan untuk generasi sekarang, dengan cara apa kita meneruskan kisah perjalanan bangsa ini kepada generasi mendatang untuk bangkitkan rasa cinta pada sejarah bangsanya? Akankah kisah itu hanya akan menjadi saksi bisu yang terkungkung dalam benda-benda koleksi musium yang hanya menjadi pajangan, dipandangi tanpa bisa bertutur?

Catatan perjalanan berakhir pekan di musium, menikmati hidup dengan cara yang tak biasa, salam sejarah [oli3ve].

Advertisements