Tags

, , ,


Batavia pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Henricus Zwaardecroon [1718 – 1725], hidup seorang cowok yang ganteng, kaya, bersahaja  dan menjadi idola para gadis. Pieter Erberveld, lelaki keturunan Jerman-Thailand pemilik tanah yang luas di belakang Portugese Buitenkerk (sekarang GPIB Sion, Jakarta). Meski ayahnya dulu adalah komandan kavaleri VOC dan menjadi orang kepercayaan Cornelis Speelman, Gubernur Jenderal Hindia-Belanda [1681-1684]; Pieter sangat membenci VOC. Hal ini dikarenakan setelah Speelman tak berkuasa, pemerintah yang berkuasa menyita harta ayahnya karena dianggap tak memiliki akta yang disahkan oleh VOC.

Pieter Erberveld dalam pentas kolosal Kampoeng Petjah Koelit di pelataran Museum Sejarah Jakarta, Minggu 18 Juni 2006

Pieter Erberveld dalam pentas kolosal Kampoeng Petjah Koelit di pelataran Museum Sejarah Jakarta, Minggu 18 Juni 2006

Pieter bersahabat dengan Raden Ateng Kartadria seorang keturunan ningrat dari Banten. Mereka lalu berkonspirasi dengan beberapa kawan yang sejalan untuk melakukan pemberontakan dan membunuh orang-orang Belanda tepat pada malam pergantian tahun baru 31 Desember 1722.

Dianggap membahayakan pemerintah VOC; satu malam Pieter dan kawan-kawan yang sedang mengadakan pertemuan rahasia di rumah Pieter digerebek oleh tentara Belanda. Pieter dan Kartadria beserta 17 pengikut mereka ditangkap dan dibawa ke pengadilan delapan bulan sebelum rencana mereka berjalan.

Penangkapan Pieter Erberveld dalam pentas teatrikal di halaman Museum Sejarah Jakarta pada 18 Juni 2006

Penangkapan Pieter Erberveld dalam pentas teatrikal di halaman Museum Sejarah Jakarta pada 18 Juni 2006

Ada beberapa versi terbongkarnya pertemuan malam itu:

  • Pertama: Raden Ateng Kartadria melaporkan persekongkolan tersebut karena khawatir bila rencana itu berhasil posisinya akan goyang. Nyatanya, Kartadria ikut digrebek dan dihukum secara kejam bersama Pieter.
  • Kedua: Zwaardecroon berencana untuk membeli tanah milik Pieter tapi tanah warisan tersebut tidak dijual. Karena marah, Zwaardecroon mengeluarkan perintah agar Pieter disingkirkan.
  • Ketiga: konon kabarnya pertemuan itu dibocorkan oleh seorang perempuan yang menaruh hati pada seorang perwira Belanda. Tak kuat bila kehilangan pujaan hatinya, ia pun melaporkan kegiatan kumpul-kumpul tersebut.
Pelaksanaan sidang kasus Pieter Erberveld di Stadhuis

Pelaksanaan sidang kasus Pieter Erberveld di Stadhuis

Hukum gantung bagi pengikut Pieter Erberveld dan Kartadria

Hukum gantung bagi pengikut Pieter Erberveld dan Kartadria

Pada 22 April 1772 Pieter, Kartadria dan ke-17 pengikutnya digiring ke lapangan di bagian selatan kastil Batavia dan dihukum dengan cara yang keji. Badan Pieter dan Kartadria diikatkan ke empat ekor kuda yang ditarik keempat penjuru hingga kulit mereka pecah-pecah *arrrrgggghhhh*. Peristiwa keji itu dikenal dengan petjah koelit dan tempat pelaksanaan hukumannya yang sekarang berada di sekitar Jl Pangeran Jayakarta dikenal sebagai Kampung Pecah Kulit.

Sebagai pembelajaran terhadap kasus Pieter Erberveld, pemerintah VOC membangun sebuah monumen di depan rumah Pieter. Di bagian atas monumen tersebut ditancapkan kepala Pieter dan pada dindingnya dipasang sebuah prasasti yang ditulis dalam bahasa Belanda dan Jawa. Secara bebas diterjemahkan sebagai berikut:

Untuk mengenang penghianat negara yang terkutuk Pieter Erberveld, dilarang mendirikan bangunan atau bercocok tanam di tempat ini sekarang dan sampai hari kiamat. Batavia , 14 April 1722

Prasasti Pieter Erberveld di Museum Sejarah Jakarta

Prasasti Pieter Erberveld di Museum Sejarah Jakarta

Replika monumen peringatan Pieter Erberveld di Museum Taman Prasasti, Jakarta

Replika monumen peringatan Pieter Erberveld di Museum Taman Prasasti, Jakarta

Kalau dilihat dari penanggalannya agak janggal karena peristiwa pembantaian itu terjadi 22 April bukan 14 April 1722. Bisa jadi pada saat membuat prasastinya, tukangnya salah memahat tanggal sementara kalau harus mengulang lagi kelamaan. Potongan monumen asli tersebut masih bisa kita lihat di pelataran dalam Museum Sejarah Jakarta sedang replika monumen yang pernah dibuat di tempat aslinya bisa kita nikmati  di Museum Taman Prasasti, Jakarta. Lahan bekas tempat didirikannya monumen itu sekarang telah berubah menjadi showroom Toyota.

Pada Oktober 1724, dua tahun setelah peristiwa Erberveld; Zwaardecroon mengundurkan diri dari jabatannya. Ia meninggal pada 12 Agustus 1728 dan dimakamkan di halaman Portugese Buitenkerk. Sampai hari ini makamnya masih bisa kita jumpai di halaman samping GPIB Sion, Jakarta.

Prasasti di atas makam Henricus Zwaardecroon

Prasasti di atas makam Henricus Zwaardecroon

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari kisah Pieter Erberveld?  Dari jaman baheula tiga unsur yang memegang perananan penting dalam kejatuhan manusia itu abadi hingga sekarang: Tahta, Harta dan Wanita/Pria. Sejarah sering berulang karena kita tak pernah mau belajar dari pengalaman masa lalu. Yuk belajar dan bercermin dari sejarah, saleum [oli3ve].

*****

Tulisan ini adalah pembaruan dari tulisan sebelumnya tentang Kisah “Kampoeng Petjah Koelit” & Pieter Erberveld yang ditulis pada 20 Juni 2006.

Advertisements