Tags

, , , , , , ,


Malam takbiran lempar-lemparan komentar dengan seorang kawan di satu media sosial. Kepada sang kawan saya mengingatkan untuk dikirimi ketupat dan opor ayam lebaran. Dia menjawab dengan mengatakan bahwa sebenarnya lebaran ketupat itu seminggu setelah tanggal 1 Syawal. Karena selama ini saya hanya penggembira dan penikmat ketupat lebaran ‘n the gank;  jadi mikir juga kenapa makan ketupatnya seminggu setelah lebaran? Penasaran saya coba mengorek-ngorek informasi dari Eyang Google sehingga menghasilkan rangkuman singkat berikut.

Mumpung masih hangat, selamat lebaran dulu ya😉

Selsin mengucapkan Selamat Idul Fitri 1434H

Selsin mengucapkan Selamat Idul Fitri 1434H

Ketupat dalam bahasa Jawa disebut kupat (=ngaKU lePAT) artinya mengaku salah. Jadi secara eksplisit ketupat adalah simbol permintaan maaf dan silaturahmi yang diimplementasikan dengan menghantarkannya bersama opor ayam, sambel ati dll kepada tetangga dan keluarga.

Tradisi makan ketupat sudah sedari dulu dilakukan dalam masyarakat Jawa. Akulturasi budaya dalam menyampaikan nilai-nilai kehidupan inilah yang kemudian  dipakai oleh Sunan Kalijaga sebagai metode pendekatan ketika menyebarkan agama Islam. Makan ketupat kala itu dilakukan seminggu setelah berakhirnya puasa alias seminggu setelah memasuki bulan Syawal.

Apa filosofi yang terkandung dalam sebuah ketupat? Ketupat dibuat dari beras putih yang direndam kemudian dibungkus dalam anyaman daun kelapa lalu direbus selama 2 jam. Isi ketupat yang putih perlambang hati yang bersih. Anyaman daun kelapa pembungkus ketupat yang saling memilin melambangkan perjalanan hidup manusia yang pernuh warna. Lamanya proses pembuatan ketupat ibarat sebuah proses dalam menjalani hidup tak ada yang instan. Seperti roda yang berputar terkadang di atas kadang di bawah. Pergeseran waktu dan penyesuaian jamanlah yang kemudian membawa ketupat menjadi sajian wajib di hari pertama lebaran tanpa perlu kehilangan makna.

Jadi kalau di hari lebaran anda menerima hantaran ketupat ‘n the gank, berbahagialah! Seorang kawan yang kemarin pagi menerima hantaran ketupat mengatakan,”rasanya seribu satu campur aduk.” Bisa dimaklumi, karena diterima dari beberapa tangan rasanya pun mengikuti selera si pembuat, that’s life bersyukurlah!

Lalu bagaimana cerita lebaran saya? Saat penghuni rumah tergopoh-gopoh berangkat shalad ied ke mesjid, bersama pesepeda lipat yang selalu bikin rute sinting kami menyusuri jalan protokol yang sepi menuju Kota Tua Jakarta. Rute cukup panjang setelah sekian lama gak mengayuh jarak jauh, akibatnya perut pun kriyuk-kriyuk di tengah jalan.

Saingan parkir dengan TJ (captured by Alice Mulia)

Saingan parkir dengan TJ (captured by Alice Mulia)

Di perjalanan pulang, kami menghampiri sebuah kedai makan yang menunjukkan tanda-tanda kehidupan di Hayam Wuruk, Kwetiaw Jangkung! Pada salah satu dindingnya ditempeli kertas yang ditulis tangan dengan huruf kapital:

SELAMAT IDUL FITRI
MOHON MAAF LAHIR BATHIN
KAMI TETAP BUKA DI HARI LEBARAN

Kwetiaw Jangkung dengan spesialisasi Kwetiaw Sapi dan Bakmi Kepiting Pontianak sesuai dengan yang terpampang di spanduknya. Menurut kawan yang lahir dan besar di Jakarta, tempat makan ini memang sudah tersohor dari dulu. Biar bisa saling intip sajian di meja, kami sengaja memilih menu yang berbeda: 1 Bihun Siram Sapi, 1 Kwetiaw Mun Sapi, 1 Bakmi Kepiting Spesial dan 1 Bakmi Kepiting Biasa (beda porsi dan harga dengan yg spesial).

Mie Kepiting Spesial Rp 42,000/porsi

Mie Kepiting Spesial Rp 42,000/porsi

Kwetiaw Mun alias kwetiaw goreng basah Rp 32,000/porsi

Kwetiaw Mun alias kwetiaw goreng basah Rp 32,000/porsi

Bihun Siram Sapi Rp 32,000/porsi

Bihun Siram Sapi Rp 32,000/porsi

Gegara habis mengayuh di sekitar Stadhuis (= balaikota, sekarang Museum Sejarah Jakarta/Museja), begitu melihat nama Jangkung, yang terbayang adalah Opa Jan Pieterszoon Coen atau J.P. Coen. Nah lhoooo sopo kuwi? Kalau tinggal di Jakarta harus kenal lho siapa Opa Coen!

J.P Coen adalah Gubernur Jenderal pertama VOC di Hindia Belanda atau jika diurutkan dari jejeran gubernur jenderal yang ada J.P. Coen adalah gubernur keempat (1619 – 1623) dan keenam (1627 – 1629). Opa Coen adalah orang yang membangun kota Batavia di atas reruntuhan kota Jayakarta setelah direbut dari Pangeran Jayakarta pada 30 Mei 1618. Awalnya kota ini hendak diberi nama Niew Hoorn sesuai dengan nama kampung halamannya, namun tak disetuji oleh Heeren Seventien atau Dewan Tujuh Belas di Amsterdam

Batavia yang sekarang dikenal dengan Jakarta adalah ibukota RI yang merayakan hari jadinya setiap 22 Juni. Kenapa berbeda dengan tanggal dibangunnya? Ya, karena pemilihan hari jadi Jakarta mengikuti peringatan kemenangan Fatahilla merebut Pelabuhan Sunda Kelapa dari Portugis pada 1527. Jadi jangan heran kalau bermain ke Museja pelataran depannya dikenal dengan nama Taman Fatahillah.

Lulumpatan di depan Kastil Batavia/Stadhuis

Lulumpatan di depan Kastil Batavia/Stadhuis (captured pic by Alice Mulia)

Terus … hubungannya Opa Coen dengan Kwetiaw Jangkung apa? Tak bisa dipungkiri lidah pribumi sangat sukar untuk melafalkan nama-nama asing. Biar gampang nama Opa Coen kemudian lebih sering diluruskan menjadi Mur Jan Kun dari Moor Jan Coen. Moor sendiri adalah sebutan VOC untuk warga India Muslim, Moorsekwartier atau orang Moor. Lama kelamaan nama itu menjadi Mur Jangkung, makanya hingga sekarang orang lebih mengenal Opa Coen dengan nama tersebut daripada nama aslinya sendiri.

Maaf lahir bathin ya, mau makan bihun siram aja bisa menyerempet ke sejarah berdirinya kota Jakarta he he he. Tertarik untuk mencicipi? Datang aja ke:

Kwetiaw Jangkung
Jl Hayam Wuruk No 78 Telp 6283823

Lebaran tanpa kehadiran ketupat kurang mantap rasanya. Meski tak ada ketupat yang dihantarkan hingga hari ini, lebih berharga kata maaf yang diungkapkan dengan tulus dari hati yang paling dalam daripada sekedar sebuah simbolisasi. Selamat Idul Fitri 1434H, Maafkan Lahir Bathin [oli3ve].

Terinspirasi dari makan di Kwetiaw Jangkung serta membolak-balik:

  • Batavia Awal Abad 20, H.C.C Clockener Brousson, 2007
  • Keadaan Jakarta Tempo Doeloe, Sebuah Kenangan 1882 – 1959, Tio Tek Hong, 2006
  • Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia, Mona Lohanda, 2007
  • Menjelajahi dunia Eyang Google