Tags

, , , ,


Lelaki yang dipanggil Bapak oleh anak-anak asuhnya itu melempar senyum saat melangkah ke dalam ruangan tempat kami berkumpul sambil lesehan. Di ruang tidur lantai dua rumahnya yang disulap menjadi aula, pak Joko nama lelaki itu menyalami kami satu per satu. Senyum tak lepas dari wajahnya selama berbagi kisah dalam mewujudkan citanya membangun sebuah panti asuhan yang layak untuk anak-anak asuhnya.

Bagaimana lelaki dengan penghasilan tak tetap sebagai supir panggilan ini bisa membangun dan mengelola panti asuhan dengan modal tabungan material yang disisihkan dari penghasilannya selama bertahun-tahun dan uang sebesar 2 juta rupiah?

panti asuhan pak joko

Pak Joko didampingi istri, Ibu Tati dan sebagian anak asuhnya

Semua berawal di tahun 2010 ketika melihat kondisi rumah yang dibanjiri titipan anak sudah tak layak untuk menampung jumlah anak yang semakin banyak. Hal ini menumbuhkan tekad Pak Joko dan ibu Tati untuk membangun sebuah rumah yang lebih besar untuk diri dan keluarganya serta panti asuhan untuk anak-anak yang dititipkan padanya.

Di mata kita tidak cukup tapi di mata Allah semua dicukupinya,”kalimat itu menohok ulu hati di Minggu dini hari.

Mereka menguras semua tabungan yang disisihkan sejak 1995, hasil keringat sebagai sopir panggilan. Untuk menutup modal mereka juga menjual sebidang tanah peninggalan orang tua yang tak seberapa. “Semua dibangun dengan modal nyicil termasuk para tukang yang dibayar dengan nyicil, “imbuh pak Joko.

Anak-anak bersiap menikmati sahur bersama

Anak-anak bersiap menikmati sahur bersama

Semua itu dilakukan dengan niat yang tulus tanpa perlu dikoar-koarkan ke seantero jagad. Rekan sekerjanya pun tak ada yang tahu tentang kegiatan ini. Adalah Anna Melani, freelance producer rekan kerja di perfilman yang suatu hari mengetahui tentang panti asuhan pak Joko. Anna Melani pun mulai gerakan untuk menggalang dana bantuan buatย Bantu Pak Joko melalui sebuah blog. (note: program donasi ini ditutup 15 Maret 2013 lalu). Informasi kegiatannya bisa ditemukan di SINI.

Panti Asuhan Al Hasyim

Panti Asuhan Yayasan Benih Kebajikan Al Hasyim

Sampai sekarang saya masih kerja di film sebagai driver,”pak Joko menutup obrolan pagi sebelum kami menikmati nasi kotak yang kami bawa untuk makan sahur bersama anak-anak Panti Asuhan Yayasan Benih Kebajikan Al Hasyim.

Saat ini jumlah anak yang menetap di panti 23 orang namun setiap ramadhan ada tambahan anak malam, yaitu mereka yang memang ingin belajar agama dan dititipkan orang tuanya di sana.Bagi yang terpanggil untuk membantu pak Joko dan anak-anak, silahkan disalurkan langsung ke alamat berikut:

Panti Asuhan Yayasan Benih Kebajikan Al Hasyim
Jl Warung Silah Gg H. Saaman RT03/RW04
Cipedak, Jagakkarsa, Jakarta Selatan
Telp 021-7866845

Pk 04.45 kami beranjak dari panti, walau dengan mata terkantuk-kantuk karena sehari semalam belum tidur mempersiapkan kotak-kotak untuk makan sahur, hati ini berasa adem. Senang melihat wajah-wajah ceria anak-anak yang matanya masih sembab menahan kantuk namun bersemangat menanti sahur bersama. Suka cita mendapat pencerahan dari ketulusan hati pak Joko dan ibu Tati.

Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya – [Luk. 21:4].

Mendadak penggalan ayat di atas muncul di kepala. Sepanjang jalan pulang saya merenungkan kisah janda miskin yang memberi dari kekurangannya, segala harta yang dia punya bahkan biaya kebutuhan sehari-harinya untuk Tuhan. Apa yang kami lakukan hari ini belum seberapa, namun dengan niat yang tulus semoga diridhoi oleh sang Pengasih. Indahnya berbagi.

Terima kasih untuk kawan-kawan Laskar Pelancong yang telah mengajak ke Jagakarsa. Semoga tiga pinta doa yang diaminkan oleh anak-anak di panti segera dipaketkan olehNya, amiiiiiiiin [oli3ve].

*****

Headline, Kompasiana 30 Juli 2013

Headline Kompasiana, Selasa, 30 Juli 2013

Advertisements