Tags

, , , , , , , , ,


Kamis (25/07/13) sebuah perhelatan akbar berlangsung di Rantepao, Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Dari hasil mengintip berita di portal online dan gambar yang diunggah di sosial media, ada tiga acara yang dirangkai menjadi satu: puncak peringatan 100 tahun Injil Masuk Toraja (100IMT), peringatan Hari Ulang Tahun Toraja Utara (Torut) yang ke-5 dan peringatan Hari Pongtiku yang ke-11. Timeline sosial media dipenuhi dengan beragam ungkapan dari syukur hingga keluhan karena jalanan macet bahkan orang aja tak bisa lewat saking padatnya! Saya tidak akan menyinggung tentang 100IMT karena pendapat saya mengenai kegiatan tersebut sudah pernah dibagikan di SINI dan di SINI. Pun untuk ultah Torut saya hanya bisa berharap bukan sekedar seremoni belaka dengan hadirnya para petinggi dari lembang hingga pusat. Dan karena tak bisa mudik dan melihat langsung keriaan di sana, maka saya lampiaskan dengan berbagi siapa Nek Baso’ yang saya sapa lewat judul tulisan ini,”Umba Nakua Kareba Nek Baso‘? (=apa kabar Nek Baso’?)”

Pongtiku

Monumen Pongtiku di pusat kota Rantepao, Toraja Utara sayang kurang dilengkapi informasi seputar siapa si penunggang kuda ini?

Nek Baso’ adalah nama lain dari Pongtiku, bungsu dari 6 (enam) bersaudara anak pasangan Karaeng dan Le’bok asal desa Tondon, Pangala di dataran tinggi Toraja. Karena jaman dulu orang tak mencatat dan menghapal tanggal lahirnya, diperkirakan Pongtiku lahir pada 1846 (di Monumen Peringatan Pongtiku tercatat 1856, meski beberapa sumber menyebut angka 1855). Ayahnya adalah kepala adat di Pangala dan sekitarnya. Memasuki usia senja, jabatan tersebut diserahkan kepada Pongtiku yang mewarisi jiwa kepemimpinan dari sang ayah.

Saat Megawati menjadi presiden RI, sebuah SK Presiden dikeluarkan pada 2 Nopember 2002 dengan nomor 073/TK/tahun 2002 poin utamanya memberikan gelar Pahlawan Nasional Perintis Kemerdekaan kepada Pongtiku. SK Presiden ini mendapat beragam tanggapan dari segelintir masyarakat Toraja sendiri yang meragukan pantas tidaknya Pongtiku yang jagoan kandang mendapatkan gelar tersebut?

Untuk menyelami perjuangan Pongtiku, kita perlu menelusuri sejarah perjuangan rakyat Sulawesi Selatan dalam menghadapi kompeni. Belanda mulai menancapkan taringnya di Sulawesi Selatan semasa Perang Makassar (1666 – 1669), saat  Cornelis Speelman ditugaskan untuk menangani ekspansi VOC di Makassar. Diselang masa tersebut sebuah deklarasi damai ditandatangani oleh Sultan Hasanuddin dari Kerajaan Gowa dan Speelman pada 18 Nopember 1667 yang dikenal dengan nama Perjanjian Bongaya. Belanda yang terkenal dengan politik adu dombanya kemudian mengangkat Aru Palakka yang sebelumnya bersekutu dengan Hasanuddin memerangi VOC menjadi Raja Bone. Persekutuan dengan Belanda menjadikan kerajaan Bone sebagai kerajaan terkuat di wilayah ini.

Aru Palakka berusaha melebarkan wilayah kekuasaannya dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan lain di Celebes (nama yang dulu digunakan untuk Sulawesi) termasuk Tondok Lepongan Bulan Tana Matari’ Allo atau Toraja. Orang Toraja yang tidak menerima dikuasai oleh Kerajaan Bone bangkit melakukan perlawanan dengan semboyan to pada tindo, to misa’ pangimpi (= manusia itu sederajat, punya impian yang sama). Pada 1710 dicapai perjanjian damai yang menjadi simbol persatuan antara penguasa Toraja dengan Kerajaan Bone di desa Malua’ yang dikenal dengan Basse Malua’ (= Perjanjian Malua’).

Kita melompat seabad ke depan. Satu per satu wilayah di Sulawesi Selatan jatuh ke tangan Belanda, menyisakan Toraja yang masih belum terjamah karena berada di dataran tinggi yang sulit dicapai. Gregetan, Johanes Benedictus van Heutsz, Gubernur Jenderal Hindia Belanda masa itu (1904 – 1909) memerintahkan kawannya semasa bertugas di Aceh, Gubernur Celebes Letnan Kolonel HNA Swart untuk memimpin langsung pasukan Belanda melucuti senjata dari penguasa Toraja setelah berbulan-bulan belum juga dilumpuhkan.

Maret 1906 Rantepao berhasil dikuasai oleh Belanda tanpa adanya perlawanan yang berarti. Kapten Killian yang memimpin penyerbuan membawa surat dari van Heutsz untuk melakukan gencatan senjata dan meminta Pongtiku menyerahkan diri.

iatu to lino pissanri didadian sia pissanri mate, iamoto randuk domai tampak beloakku sae rokko pala’ lette’ku; noka’na la na parenta tu mata mabusa.
Manusia hanya dilahirkan sekali dan mati sekali, karena itu dari ujung rambut hingga telapak kakiku; aku tidak rela diperintah orang bermata putih (Belanda) – [Pongtiku]

Pongtiku ditangkap pada 30 Juni 1907 kemudian ditahan dan dieksekusi 10 Juli 1907 di pinggir sungai Sa’dan tepat di bawah tempat monumen peringatannya didirikan di Jl Benteng Batu, Rantepao, Toraja Utara.

pongtiku

10 Juli 1907, Pongtiku mati ditembak di tempat ini

monumen pongtiku

Monumen Peringatan Pongtiku di Jl Benteng Batu, Singki’ Rantepao, hanya sepelemparan batu dari kantor bupati Toraja Utara

Tulisan di monumen yang samar terbaca adalah sebagai berikut:

PAHLAWAN PONGTIKU
1856: Pongtiku lahir di Rindingallo
1906 Maret: Belanda menduduki Rantepao, Belanda mengirim ultimatum supaja Pongtiku menjerah, Pongtiku membalas lebih baik mati daripada menjerah
1906 April: Pertempuran di Tondon Pangala’
1906 Djuni: Pertempuran di Benteng Lali’ Londong
1906 Djuni: Permintaan Belanda berunding ditolak
1906 Djuli: Pertempuran di benteng-benteng Buntu Asu Ka’do dan Tondok
1906 Agustus: Pertempuran di Benteng Rindingallo
1906 Oktober: Gentjatan Sendjata
1906 November: Belanda dengan siasat litjiknja melutjuti semua sendjata pasukan Pongtiku
1907 Djanuari: Pongtiku dengan pasukan menggabung dengan pasukan Bombing di Alla
1907 Maret: Benteng Alla djatuh, Pongtiku kembali ke Pangala’
1907 Djuni 30: Pongtiku ditangkap dan ditahan di Rantepao
1907 Djuli 10: Pongtiku ditembak mati di tempat ini

Pongtiku

Salah satu relief di monumen Pongtiku yang menggambarkan saat Pongtiku dieksekusi, tanpa keterangan jelas di monumen tersebut manalah orang tahu?

Kita mungkin sering mendengar penggalan pidato Soekarno yang disampaikan pada peringatan hari Pahlawan 10  Nopember 1961 di Surabaya … Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya dan sejarah bangsanya. Ungkapan yang sering kali hanya kita dengungkan tanpa tahu makna apa yang terkandung di dalam pesan keramat tersebut.

Untuk mengenang jasanya, nama Pongtiku diabadikan menjadi nama bandara di Rantetayo, Tana Toraja, nama jalan, sekolah (eh, TK-nya  masih ada gak ya? hehe) hingga nama warung kopi dan warung bakso di Makassar. Suka sedih ketika menikmati pagi dan bertandang ke Monumen Peringatan Pongtiku, saya acap kali melihat pemandangan seperti ini:

monumen pongtiku

Pagar monumen ini dwifungsi lhooo, selain untuk memagari tempat ini juga bagus untuk menjemur pakaian dan memperelok pemandangan

Pemandangan di atas pun pernah saya temui ketika berkunjung ke bekas Penjara Banceuy, Bandung awal 2005 lalu. Apa yang terlihat di depan mata adalah jejeran pakaian yang dijemur mengelilingi satu-satunya sel yang tersisa dari 36 sel yang pernah ada di Banceuy, sel di Blok F No 5. Itulah “kuburan” berukuran 1,5×2,5m bekas sel Soekarno ketika ditahan di sana. Akhir tahun lalu kembali ke sana  sudah bersih dan rapi, semoga di tempat Pongtiku pun begitu sebelum perayaan keriaan dan tentu seterusnya.

Yang dibolak-balik sembari menanti fajar:

  • Toradja, Parada Harahap, 1952
  • Wikipedia – Pongtiku
  • Sejarah Pembesar Mengatur Batavia, Mona Lohanda, 2007

O,iya lalu bagaimana caranya mengenal dan menghargai jasa para pahlawan itu? Satu tips, dengar-dengar Yasin Limpo, Gubernur Sulsel kemarin memberikan tambahan suntikan dana kepada Bupati Torut sebesar 1M untuk menyelesaikan proyek Salib Singki’ ya? Naaaah, bagilah sedikit untuk membenahi Monumen Peringatan Pongtiku yang ada di kaki Buntu Singki’, bos! Salam wisata sejarah [oli3ve].