Tags

, , , , ,


Seminggu ini suka senyum-senyum sendiri memandangi traffic pengunjung My Passion yang ‘nyasar karena mencari beragam informasi. Berdasarkan pemantauan iseng-iseng, saya bagi traffic-nya dalam dua kategori yaitu TOP FIVE dan TOP TEN ditengok.

Mari kita lihat hasil pemantauan pagi tadi; pada kategori TOP FIVE, 4 (empat) ulasanย  tentang Toraja menempati posisi tiga teratas dan posisi kelima.

my passion

Top FIVE yang dilirik pembaca

Karena penasaran saya coba kembangkan menjadi TOP TEN, kira-kira hasilnya bagaimana? Ternyata gak jauh berbeda, di kategori ini ada 5 (lima) ulasan tentang Toraja yang banyak dilirik pencari berita. Selain empat di atas, ditambah dengan satu tulisan yang diposting pada akhir Desember 2012 untuk diikutkan lomba blogย  tapi telat setor sepersekian menit karena keasikan liburan hehehe.

my passion

Top TEN yang dilirik pembaca

Tiga dari lima tulisan yang beruntung di atas adalah tulisan lama dan hanya dua tulisan yang dirilis minggu lalu:

Kenapa tulisan-tulisan tersebut menjadi banyak dilirik dan dibagikan orang? Tanpa perlu mengecek kata kunci pencarian, jawabannya sudah ketahuan koq. Orang-orang Toraja lagi haus informasi seputar 100IMT (=100 Tahun Injil Masuk Toraja) yang puncaknya sedang berlangsung di Toraja. Maka wajar jika tulisan tentang kunjungan ke makam van de Loosdrecht yang saya rilis di awal tahun 2013; mendadak melesat ke posisi pertama. Lonjakannya menggeser ulasan tentang Oei Tiong Ham dan Nanggroe yang beberapa bulan kemarin menempati urutan teratas. Gak percaya? Coba perhatian gambar berikut:

my passion

Top search di My Passion, meski Oei Tiong Ham masih masuk top search harus rela digoyang pencari berita seputar 100IMT

Bagi saya pribadi, ulasan tentang van de Loosdrecht memang sengaja ditulis menyambut 100IMT setelah mengunjungi tempat peristirahatannya akhir 2012. Kunjungan yang selama 3 (tiga) tahun sudah diagendakan tapi selalu tertunda dan baru terealisasi kala mudik Desember lalu. Satu momentum untuk mengenang almarhum Papa yang pernah mengajak bertandang ke tempat itu semasa saya masih kanak-kanak.

Takjub ketika mendapat respon dari beberapa pembaca yang notabene orang Toraja banyak yang tak tahu kisah van de Loosdrecht, boro-boro mencari tahu dimana kuburannya! Surprise ketika ada yang mengapresiasi tulisan tersebut bahkan menikmatinya dengan ditemani sajian klasik J.S. Bach, BWV 1055 #wauuuwwww

Sebagai pejalan, saya cukup mengerti (meski gregetan) ketika mengunjungi satu destinasi yang menarik dan warga lokal malah gak tahu menahu atau gak mau tahu. Kenapa? Karena kita lebih condong tergoda hijaunya kebun tetangga dibanding menata kebun di pekarangan rumah kita sendiri.

O,ya … ada satu lagi yang membuat saya makin tersenyum lebar di depan monitor dua hari ini. Banyaknya pencari berita yang ‘nyasar ke Perahu Kita Oleng ke Kiri karena “terkecoh”. Sebagian besar yang nyasar ke sana adalah yang mencari berita pembakaran rumah adat Toraja di Sangatta, padahal di tulisan tersebut saya hanya mengutip berita yang dirilis Toraja Cyber News (TCN). Sisanya saya membahas obrolan menyejukkan dengan Bante Priyadhiro saat kami bertemu di Lasem awal Maret lalu,”Senyum Bante adem kaaaaan?” Aaaaah, jadi kangen mendengar suara segar dan lembutnya yang meneduhkan hati. Salam penjelajah kubur hehehe [oli3ve]

Advertisements