Tags

, , , , , ,


Usai membaca Perempuan Keumala 2 tahun lalu, sejumput asa yang kuncup di hati hanyalah diberi kesempatan untuk bertemu penulisnya, Endang Moerdopo. Cuma ingin menyampaikan terima kasih atas sebuah karya yang sangat menginspirasi dan minta tanda tangan di bukunya. Itu aja cukup!

Kuncup itu terus tumbuh dan mekar seiring kerinduan untuk menyusuri jejak Keumala ke Nanggroe. Tak pernah terpikir ada satu cara untuk mencari sang penulis idola di jaman koneksi bisa tersambung lewat ujung jari. Ketika pertemuan yang diharap tak kunjung tiba, sejenak menyisihkan harap mengikuti kata hati menyusun rencana perjalanan.

Benteng Inong Balee

Benteng Inong Balee, Krueng, Aceh

Dan kala langkah pertama menjejak di bumi Nanggroe, sang harap kembali melesat ke permukaan. Namun tetap tak terpikir jalan termudah untuk mencari sang penulis. Segala daya rasanya sia-sia saat rindu kian membuncah menggedor-gedor sukma.

Segala sesuatu di muka bumi ini ada masanya, ada prosesnya dan Tuhan tidak tinggal diam. Pencerahan itu mendadak terbersit sebelum kepulangan kedua ke Nanggroe akhir Pebruari lalu. Saya menyebutnya perjalanan anugerah. Ya, anugerah karena pada akhirnya dipertautkan dengan sang penulis sehari sebelum pulang.

Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktuNya. Indah ketika masa pertemuan itu terjadi, indah ketika harap itu kembali mekar, indah ketika sebuah pelukan hangat mengawali perjumpaan, indah ketika hanya sepatah kata syukur yang terangkai untukNya.

Kini satu harapan baru tumbuh di dalam jiwa, Perjalanan Masa. Ketika langkah siap diayun untuk menjumpai pujaan hati yang telah menautkan semangat lewat Geunta Keumala hanya pada Sang Pemberi Rahmat segala puja-puji terangkat, untuk Kasih dan penyertaanNya.

IBU, pagi ini kami kan pulang penuhi panggilanmu untuk menemuimu (kembali) di bukit. Segala puji syukur hanya bagiMu ya Tuhan, untuk kesempatan yang indah ini. Sebuah perjalanan segera dimulai dengan harapan dapat memberi pencerahan untuk generasi masa depan.

IBU, Laksamana Keumalahayati, telah kusemai asa di bukit itu; kini aku kan pulang untuk menuai rindu padamu, pada Nanggroe tercinta. Lon cinta Aceh!

Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia; semua disediakan Allah bagi mereka yang mengasihi DIA – [1 Kor 2:9]

Mohon doa restunya, saya mau jalan-jalan dulu ya dengan penulis idola, mau menikmati kopi Aceh di bumi serambi Mekkah, my Nanggroe. Saleum [oli3ve]