Tags

, , , , , ,


Dua or tiga tahun yang lalu saya mendapati sebuah pesan yang dititipkan seseorang bernama Ko Rudy yang mengaku sebagai cucu luar dari keluarga OG Khouw di multiply (MP). Ko Rudy ini tinggal di Bogor, punya kerinduan untuk mencari tahu apakah masih ada keluarga Khouw yang bisa dia temui agar mereka bisa menjalin kembali rantai keluarga yang terputus. Dan jika ada, apakah saya tahu dimana bisa menghubungi mereka?

Pertanyaan-pertanyaan Ko Rudy kembali menggema, menyeruak dari timbunan memori saat berdiri di depan peristirahatan Opa OG Khouw tadi pagi.

OG Khouw, mousoleum Khouw

Mousoleum Familie OG Khouw

Ini orang kaya dari Bogor Non, lihat makamnya aja terbuat dari marmer asli dari Italia katanya termegah di Asia Tenggara. Tapi saya gak tahu mana yang laki mana yang perempuan, kiri apa kanan?
Yang laki sebelah kanan pak, istrinya yang di kiri.” Saya menandainya dari tulisan nama di atas makam serta tahun kematian mereka.
Di bawah ini Non, ada mayat dan ada abu. Yang pegang kunci mahasiswa yang biasa bersih-bersih di sini, nanti saya kabari deh kalo mereka pas lagi ada acara biar Non bisa masuk (bunker).”

Pak Mamat terus nyerocos berbagi kisah jaman beliau kecil dulu. Konon halaman musoleum ini sampai ke bagian depan kompleks TPU Petamburan, tapi karena lahan pemakaman di sini tergolong paling mahal maka lahan kosong tersebut dijual oleh dinas pemakaman untuk tambahan pemasukan daerah. Jadilah seperti yang tampak sekarang, makam berhimpit di dalam halaman musoleum Opa Khouw bikin sesak.

Musoleum OG Khouw ini adalah peninggalan bersejarah, malah menurut beberapa sumber berita kemegahannya melebihi makam milyarder Amerika Serikat, Rockefeller lho! Wauuuwwwwww! Sayangnya ikon bersejarah ini belum masuk daftar cagar budaya yang dilindungi.

Perawatan makam saat ini dilakukan oleh sekelompok pecinta musoleum OG Khouw, Love Our Heritage yang sering mengadakan kegiatan bersih-bersih makam. Paling tidak ada yang peduli, dan bila dibandingkan saat saya pertama kali ke sini pelataran makam sudah terlihat bersih dari coretan-coretan serta pintu masuk bunker sudah ada yang baru dilengkapi gembok sehingga orang tak memanfaatkan bunker untuk berbuat aneh-aneh.

OG Khouw, musoleum OG Khouw

My Prince Red di depan gerbang musoleum Opa Khouw

O,ya dari tadi saya nyebut-nyebut musoleum, mungkin ada yang bertanya musoleum apaan sih? Musoleum adalah sebuah bangunan besar dan megah yang biasanya dibangun di makam para pembesar untuk menghormati mereka contoh Taj Mahal di Agra, India atau musoleum Lenin di Moskow yang cukup terkenal.

Beranjak dari pelataran tempat peristirahatan Opa Khouw, saya mendapati tiga buah makam di luar pagar musoleum dengan nama keluarga dan tahun meninggal yang tak berbeda jauh dari Opa/Oma Khouw. Kata pak Mamat itu memang makam keluarganya, kalau Opa Khouw sendiri tak punya keturunan tapi punya saudara. Warisannya kemana tuh ya?

Melihat ketiga makam ini mengingatkan kembali pada pertanyaan Ko Rudy, sayang komunikasi kami berhenti begitu saja dan saya pun tak bisa mencari nomor si koko yang saya simpan di MP yang sudah dipetieskan hikkzzz.

Selain mengunjungi Opa Khouw, saya berterima kasih pada pak Mamat yang mengijinkan saya melongok ke dalam rumah abu Jepang, diajak berkeliling ke makam Jepang, makam Israel serta makam pembalap formula Henry Irawan. Karena saya datang bersepeda, pak Mamat mengajak saya melihat makam pembalap sepeda Indonesia era 60an yang dijadikan tempat nongkrong ibu-ibu. Terakhir ditunjukin makam seorang pengusaha yang dibunuh oleh menantunya yang ingin menguasai harta sang mertua.

OG Khouw, musoleum OG Khouw

Musoleum ini dibangun oleh

Saat melangkah eh menggowes dari pemakaman, dalam hati ada tanya,”Kenapa ya kalau di komplek pemakaman orang lebih gampang tersenyum saat disapa?” Bapak-bapak yang lagi bersih-bersih kubur hingga ibu-ibu yang asik mencuci dan memasak di atas kuburan serta beberapa ibu yang seru bergosip di sela makam berhenti sejenak demi melempar senyum saat disapa.

Kirain mbak cuma keliling olah raga pagi di sini, ternyata mencari makam. Sudah lihat makam pembalap?” *jiaaaah, ibu-ibunya akrab banget dah* Sebelum pamit, saya bertukar nomor HP dengan pak Mamat yang menasihati,”Non, kalo ke sini gak papa sendirian, di sini aman. Tapi kalo ke Menteng Pulo ato Kebon Nanas harus ada barengannya. Di sana gak aman Non.” Saya hanya mengangguk-angguk, padahal kalo ke Menteng  Pulo saya sering banget ngider sendirian😉

Eh, ‘ngomong-ngomong siapa sih OG Khouw sampai my Red minta jalan ke tempat peristirahatannya pagi ini? Silahkan mampir membaca tulisan yang pernah saya bagikan di laman The Aroengbinang Project atau Kompasiana. Saleum [oli3ve]